, Ilustrasi Beberapa Jenis Hidangan di Bulan Ramadan (Sumber: Arab News)
Ramadan di Arab Saudi selalu identik dengan meja makan yang penuh, jamuan melimpah, dan semangat berbagi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ini mulai diimbangi dengan kesadaran baru: bagaimana menjaga keberlanjutan tanpa mengurangi nilai kemurahan hati yang menjadi ciri khas bulan suci.
Di berbagai kota, mulai dari Jeddah hingga Riyadh, bisnis kuliner, hotel, dan platform teknologi pangan mulai mengubah cara mereka mengelola makanan. Fokusnya jelas: mengurangi sampah makanan, meningkatkan efisiensi, dan menanamkan kebiasaan konsumsi yang lebih bijak.
Barakah: Teknologi yang Menghubungkan Surplus dan Kebutuhan
Platform food-tech Saudi, Barakah, menjadi salah satu pionir dalam gerakan keberlanjutan Ramadan. Bagi perusahaan ini, keberlanjutan bukan kampanye musiman, melainkan misi sepanjang tahun.

Dengan lebih dari 3 juta pengguna, Barakah menyediakan saluran cepat bagi restoran, toko roti, dan supermarket untuk menjual surplus makanan mereka hingga 70% lebih murah—sebelum makanan tersebut terbuang.
Beberapa inisiatif penting Barakah pada Ramadan tahun ini meliputi:
- Kolaborasi dengan Letadom, program dari Otoritas Keamanan Pangan Saudi, untuk menyebarkan pesan edukasi tentang praktik pangan berkelanjutan.
- Trivia Ramadan bertema keberlanjutan di dalam aplikasi, mengangkat nilai-nilai Islam tentang pengelolaan makanan.
- Kampanye “Eat it From Your Hands”, yang mengajak masyarakat menanam bahan makanan yang kemudian digunakan untuk memasak—sebuah cara sederhana untuk mengurangi limbah.
Sejak berdiri, Barakah telah mencegah lebih dari 8 juta porsi makanan agar tidak terbuang. Teknologi menjadi kunci: surplus makanan dapat langsung dipertemukan dengan konsumen dalam hitungan menit.
Hotel-Hotel Saudi: Menyajikan Kemewahan Tanpa Pemborosan
Sektor perhotelan juga memainkan peran besar dalam upaya keberlanjutan Ramadan. Dua hotel besar di Jeddah menunjukkan bagaimana inovasi dapat berjalan seiring dengan tradisi.
Rixos Obhur Jeddah: Disiplin Operasional untuk Mengurangi Limbah
Rixos menerapkan strategi pengurangan sampah makanan berbasis data:
- Analisis tingkat hunian dan pola konsumsi Ramadan tahun-tahun sebelumnya.
- Batch cooking terkontrol untuk menjaga kesegaran sekaligus menghindari overproduksi.
- Live cooking station untuk memastikan makanan disiapkan sesuai permintaan.
- Pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan kartu kunci kayu, dan sistem daur ulang air.
Hotel ini menekankan bahwa Ramadan adalah tentang keseimbangan antara kemurahan hati dan keberlanjutan.
Mövenpick Tahlia Jeddah: Abundance yang Terukur
Mövenpick mengelola iftar dan sahur dengan pendekatan presisi:
- Menu disusun berdasarkan reservasi, pola historis, dan arus tamu real-time.
- Surplus makanan yang layak konsumsi disalurkan melalui lembaga amal.
- Penggunaan menu digital dan pengurangan plastik sekali pakai.
- Prioritas pada bahan lokal untuk mengurangi jejak karbon.
Hotel ini juga melatih staf untuk menerapkan praktik ramah lingkungan dan mendorong tamu agar makan dengan penuh kesadaran.
Pandangan Ahli: Ramadan sebagai Momentum Perubahan
Menurut peneliti keberlanjutan, Dr. Ahmed Al-Qahtani, Ramadan adalah kesempatan emas untuk mengubah kebiasaan konsumsi:
- Banyak sampah makanan berasal dari belanja berlebihan dan memasak terlalu banyak.
- Perencanaan menu, penyimpanan yang benar, dan pemanfaatan sisa makanan dapat mengurangi limbah secara signifikan.
- Bagi bisnis, pemantauan limbah harian dapat langsung menekan angka pemborosan.
Ramadan bukan hanya waktu untuk memperbaiki spiritualitas, tetapi juga kesempatan untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Arab Saudi Percepat Ekosistem Kendaraan Listrik Menuju Masa Depan Berkelanjutan
Referensi:
- Aziz, A. (2026). Sustainable Ramadan programs focus on food waste reduction, eco-friendly initiatives. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2636177/saudi-arabia.