Perdagangan nonmigas Arab Saudi dengan GCC menunjukkan kinerja positif pada semester pertama 2026. Surplus perdagangan nonmigas Kerajaan dengan negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) meningkat 12,05 persen secara tahunan.
Nilai surplus tersebut mencapai SAR 24,58 miliar atau sekitar USD 6,55 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, surplus perdagangan tercatat sebesar SAR 21,94 miliar atau sekitar USD 5,85 miliar.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa sektor nonmigas semakin penting dalam hubungan ekonomi Arab Saudi dengan negara-negara Teluk. Selain itu, tren tersebut sejalan dengan agenda diversifikasi ekonomi yang dijalankan pemerintah Arab Saudi.
Menurut Ghandour (2026), berdasarkan analisis terhadap data General Authority for Statistics (GASTAT), kenaikan surplus terjadi ketika ekspor nonmigas Arab Saudi ke negara-negara GCC terus berkembang.
Arab Saudi memang sedang berupaya mengurangi ketergantungan ekonominya terhadap minyak. Pemerintah memperluas sumber pertumbuhan melalui sektor industri, perdagangan, manufaktur, logistik, dan ekspor nonmigas.
Ekspor Nonmigas Arab Saudi ke GCC Capai SAR 67,06 Miliar
Ekspor menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat perdagangan nonmigas Arab Saudi dengan GCC.
Pada semester pertama 2026, ekspor nonmigas Arab Saudi ke negara-negara GCC mencapai SAR 67,06 miliar atau sekitar USD 17,88 miliar.
Nilai tersebut meningkat 8,34 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 (Ghandour, 2026).
Pertumbuhan ini memperlihatkan semakin kuatnya posisi produk dan aktivitas perdagangan nonmigas Arab Saudi di pasar regional.
Sementara itu, nilai impor Arab Saudi dari negara-negara GCC mencapai SAR 42,64 miliar atau sekitar USD 11,37 miliar. Angka tersebut tumbuh sekitar 6,8 persen secara tahunan.
Dengan demikian, ekspor tumbuh lebih cepat daripada impor. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan surplus perdagangan Arab Saudi dengan kawasan Teluk.
Namun, kinerja perdagangan tersebut berbeda pada setiap negara mitra.
Uni Emirat Arab Jadi Penyumbang Surplus Terbesar
Uni Emirat Arab menjadi salah satu mitra perdagangan terpenting bagi Arab Saudi di kawasan GCC.
Arab Saudi mencatat surplus perdagangan sebesar SAR 20,79 miliar atau sekitar USD 5,54 miliar dengan Uni Emirat Arab. Nilainya meningkat sekitar 3,8 persen secara tahunan.
Selain Uni Emirat Arab, perdagangan dengan Kuwait juga mencatat pertumbuhan yang kuat.
Surplus perdagangan Arab Saudi dengan Kuwait mencapai SAR 3,97 miliar atau sekitar USD 1,06 miliar. Angka tersebut naik 23,2 persen dibandingkan semester pertama 2025.
Namun, kondisi berbeda terjadi dalam perdagangan dengan Qatar. Surplus Arab Saudi dengan Qatar turun 31,99 persen menjadi SAR 2,44 miliar atau sekitar USD 649,33 juta.
Sementara itu, Arab Saudi masih mencatat defisit perdagangan sekitar SAR 335 juta atau USD 89,33 juta dengan Oman. Meskipun demikian, nilai defisit tersebut menyempit sekitar 93 persen.
Kondisi berbeda terlihat pada Bahrain. Defisit perdagangan Arab Saudi dengan Bahrain mencapai SAR 2,28 miliar atau sekitar USD 607,81 juta. Defisit tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya (Ghandour, 2026).
Re-ekspor Dorong Perdagangan Nonmigas Arab Saudi
Aktivitas re-ekspor menjadi salah satu penggerak utama perdagangan Arab Saudi dengan negara-negara GCC.
Nilai barang nonmigas yang diekspor kembali oleh Arab Saudi ke negara GCC mencapai SAR 47,48 miliar atau sekitar USD 12,66 miliar selama semester pertama 2026.
Menurut Ghandour (2026), nilai tersebut meningkat 7,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Re-ekspor merupakan aktivitas ketika barang yang telah masuk ke suatu negara kembali dikirim ke negara atau pasar lain tanpa mengalami perubahan produksi yang signifikan.
Besarnya aktivitas re-ekspor memperlihatkan bahwa Arab Saudi semakin memiliki posisi strategis sebagai pusat distribusi dan logistik regional.
Di sisi lain, ekspor nonmigas yang berasal dari produksi domestik juga menunjukkan perkembangan positif.
Nilainya tumbuh 11,58 persen menjadi SAR 19,57 miliar atau sekitar USD 5,22 miliar. Pada semester pertama 2025, nilainya masih berada di sekitar SAR 17,54 miliar atau USD 4,68 miliar.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekspor Arab Saudi tidak hanya bergantung pada aktivitas re-ekspor.
Produk yang berasal dari kegiatan ekonomi domestik juga semakin berkontribusi terhadap perdagangan nonmigas Kerajaan.
Uni Emirat Arab Dominasi Re-ekspor Arab Saudi
Uni Emirat Arab merupakan pasar terbesar bagi aktivitas re-ekspor Arab Saudi di kawasan GCC.
Menurut Ghandour (2026), sekitar 88,87 persen dari seluruh re-ekspor Arab Saudi ke negara-negara GCC diarahkan ke Uni Emirat Arab.
Nilainya mencapai SAR 42,2 miliar atau sekitar USD 11,25 miliar. Jumlah tersebut meningkat sekitar 15,5 persen secara tahunan.
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan kuatnya integrasi perdagangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sebagai dua ekonomi utama di kawasan Teluk.
Hubungan perdagangan yang kuat juga terlihat dari sisi impor.
Arab Saudi mengimpor barang senilai SAR 30,99 miliar atau sekitar USD 8,27 miliar dari Uni Emirat Arab. Nilai tersebut naik sekitar 17,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bahrain menjadi sumber impor penting lainnya.
Nilai impor Arab Saudi dari Bahrain mencapai SAR 5,54 miliar atau sekitar USD 1,48 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 21 persen secara tahunan.
Ekspor Minyak Arab Saudi ke GCC Turun 41,4 Persen
Kinerja positif perdagangan nonmigas Arab Saudi dengan GCC terjadi ketika ekspor minyak ke kawasan tersebut justru mengalami penurunan.
Pada semester pertama 2026, ekspor minyak Arab Saudi ke negara-negara Teluk turun sekitar 41,4 persen.
Nilainya menjadi SAR 12,72 miliar atau sekitar USD 3,39 miliar (Ghandour, 2026).
Akibat penurunan tersebut, total ekspor Arab Saudi ke negara-negara GCC, termasuk minyak dan nonmigas, turun 4,59 persen menjadi SAR 79,78 miliar atau sekitar USD 21,27 miliar.
Perubahan ini memberikan gambaran mengenai transformasi struktur perdagangan regional Arab Saudi.
Di satu sisi, perdagangan minyak mengalami tekanan. Namun, di sisi lain, ekspor nonmigas dan aktivitas re-ekspor tetap mampu mencatat pertumbuhan.
Kondisi tersebut semakin relevan dalam konteks Saudi Vision 2030 yang menempatkan diversifikasi ekonomi sebagai salah satu agenda utama pembangunan.
Infrastruktur Logistik Perkuat Perdagangan Arab Saudi
Perkembangan perdagangan nonmigas Arab Saudi juga berkaitan erat dengan pembangunan sektor logistik.
Menurut Ghandour (2026), perubahan kondisi keamanan regional mendorong sejumlah perusahaan pelayaran mencari rute alternatif untuk mengirim barang menuju pasar Teluk.
Dalam kondisi tersebut, pelabuhan di pesisir barat Arab Saudi memiliki posisi strategis.
King Abdullah Port di Rabigh dan Jeddah Islamic Port menjadi pintu masuk bagi berbagai barang dari Asia. Selanjutnya, barang dapat dikirim melalui jaringan transportasi darat menuju berbagai wilayah Arab Saudi dan negara-negara GCC.
MSC Cargo juga memperluas pilihan pengiriman kargo dari Asia ke kawasan Teluk melalui kedua pelabuhan tersebut.
Dari Jeddah dan King Abdullah Port, barang dapat diteruskan menuju Riyadh, Dammam, serta Jubail. Distribusi kemudian dapat diperluas menuju Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan pasar regional lainnya.
Perkembangan ini memperkuat posisi Arab Saudi sebagai penghubung perdagangan regional.
Dengan demikian, peran Arab Saudi tidak lagi terbatas sebagai produsen dan eksportir. Kerajaan juga berkembang menjadi pusat distribusi dan logistik di kawasan Teluk.
Menurut Ghandour (2026), gangguan aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz akibat konflik regional pada 2026 turut mendorong perusahaan menggunakan jalur alternatif melalui pesisir barat Arab Saudi.
Dalam situasi tersebut, investasi pada pelabuhan, jaringan jalan, fasilitas pergudangan, dan infrastruktur logistik memberikan keuntungan strategis bagi Kerajaan.
Perdagangan Nonmigas Dukung Saudi Vision 2030
Pertumbuhan perdagangan dengan negara-negara GCC memiliki hubungan erat dengan agenda diversifikasi Saudi Vision 2030.
Arab Saudi berupaya membangun lebih banyak sumber pertumbuhan ekonomi di luar minyak.
Sektor manufaktur, industri, perdagangan, logistik, pariwisata, teknologi, dan jasa menjadi bagian penting dari transformasi tersebut.
Menurut data yang dikutip Ghandour (2026), ekonomi nonmigas telah mencapai sekitar 55 persen dari produk domestik bruto Arab Saudi pada 2025.
Sektor nonmigas juga tumbuh sekitar 4,9 persen pada tahun tersebut. Sementara itu, ekspor nonmigas dilaporkan meningkat sekitar 15 persen.
Kinerja perdagangan dengan GCC menjadi salah satu indikator penting untuk melihat daya saing produk dan perusahaan Arab Saudi di luar pasar domestik.
Pasar GCC memiliki nilai strategis karena letaknya berdekatan dengan Arab Saudi.
Selain itu, kawasan tersebut didukung hubungan ekonomi yang kuat, keterhubungan infrastruktur, serta kesamaan dalam sejumlah standar perdagangan.
Oleh karena itu, keberhasilan meningkatkan ekspor ke negara-negara GCC dapat menjadi fondasi untuk memperluas pasar Arab Saudi ke Asia, Afrika, dan kawasan lainnya.
Tantangan Perdagangan di Setiap Negara GCC Berbeda
Meskipun surplus secara keseluruhan meningkat, perkembangan perdagangan Arab Saudi tidak sama di setiap negara GCC.
Surplus perdagangan dengan Kuwait tumbuh lebih dari 23 persen. Hubungan perdagangan dengan Uni Emirat Arab juga tetap menghasilkan surplus yang besar.
Sebaliknya, surplus dengan Qatar menurun hampir 32 persen.
Arab Saudi juga masih menghadapi defisit perdagangan dengan Oman dan Bahrain. Defisit dengan Oman memang menyempit secara signifikan. Namun, defisit perdagangan dengan Bahrain justru meningkat.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan perdagangan regional belum berlangsung secara merata.
Oleh sebab itu, Arab Saudi perlu memperhatikan permintaan pasar, komposisi produk, biaya logistik, serta kapasitas industri domestik pada setiap negara tujuan.
Strategi yang berbeda kemungkinan diperlukan untuk mempertahankan daya saing pada masing-masing pasar GCC.
Arab Saudi Perkuat Posisi sebagai Pusat Perdagangan Teluk
Kenaikan surplus perdagangan nonmigas Arab Saudi dengan GCC menjadi salah satu indikator penting dalam transformasi ekonomi Kerajaan.
Pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 8,34 persen memperlihatkan bahwa hubungan perdagangan regional semakin ditopang oleh aktivitas ekonomi di luar minyak.
Pada saat yang sama, kenaikan ekspor produk domestik dan aktivitas re-ekspor semakin memperkuat posisi Arab Saudi dalam rantai pasok regional.
Infrastruktur pelabuhan juga memiliki peran penting dalam perkembangan tersebut.
Jeddah Islamic Port dan King Abdullah Port menyediakan jalur perdagangan yang menghubungkan Asia dengan negara-negara Teluk. Posisi tersebut semakin strategis ketika kondisi geopolitik memengaruhi jalur perdagangan tradisional.
Meski demikian, kemampuan menjaga pertumbuhan tetap menjadi tantangan berikutnya.
Arab Saudi menargetkan kontribusi ekspor nonmigas mencapai 50 persen terhadap produk domestik bruto nonmigas pada 2030.
Untuk mencapai target tersebut, pengembangan industri, manufaktur, transportasi, dan infrastruktur logistik perlu terus diperkuat.
Data semester pertama 2026 menunjukkan bahwa fondasi transformasi tersebut mulai terlihat dalam perdagangan regional.
Surplus yang meningkat, pertumbuhan ekspor nonmigas, serta besarnya aktivitas re-ekspor memperlihatkan perubahan posisi Arab Saudi dalam perekonomian Teluk.
Kerajaan tidak lagi hanya bergantung pada perdagangan berbasis minyak. Arab Saudi juga semakin menempatkan diri sebagai pusat produksi, distribusi, perdagangan, dan logistik regional.
Referensi
Ghandour, A. (2026). Saudi Arabia non-oil trade surplus with GCC surges 12% in H1 2026. Leaders MENA. https://www.leaders-mena.com/?p=111274