Suasana Ramadhan di Arab Saudi (Sumber: leaders-mena.com)
Bulan suci Ramadan, waktu yang paling dinanti umat Muslim di seluruh dunia, segera tiba. Ini adalah momen yang sarat dengan peningkatan ibadah, doa, dan refleksi diri. Namun, Ramadan juga identik dengan kehangatan berkumpul bersama keluarga, semuanya berpusat di sekitar meja makan yang dipenuhi hidangan penuh tradisi.
Di Arab Saudi, bulan suci ini dirayakan dengan perpaduan unik antara praktik sosial dan budaya yang menonjolkan warisan asli Kerajaan. Setiap daerah di Saudi memiliki tradisi dan cita rasa khasnya sendiri yang memperkaya pengalaman Ramadan.
Ramadan: Bulan Spiritualitas dan Kebersamaan
Selama Ramadan, umat Muslim berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam, menahan diri dari makan, minum, dan kebutuhan fisik lainnya. Puasa adalah rukun Islam keempat dan wajib bagi semua Muslim dewasa yang sehat. Tujuannya bukan hanya menahan diri dari kenikmatan duniawi, tetapi juga menumbuhkan empati terhadap mereka yang kurang beruntung.
Selain berpuasa, umat Muslim juga meningkatkan amalan seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. Bulan ini memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk merasakan spiritualitas, melatih disiplin diri, dan melakukan perenungan.
Iftar dan Sahur: Dua Sajian Utama di Bulan Puasa
Sepanjang hari berpuasa, ada dua waktu makan yang paling dinanti: Iftar (berbuka puasa) dan Sahur (makan sebelum fajar). Pada momen-momen inilah meja makan berubah menjadi pesta kuliner yang semarak, menampilkan beragam hidangan tradisional dan minuman khas.
Meskipun Arab Saudi kaya akan keragaman kuliner, beberapa hidangan tetap menjadi batu loncatan di setiap meja Iftar dan Suhoor sepanjang bulan suci. Hidangan-hidangan ini dipilih secara khusus karena mampu memberikan energi tahan lama dan menjaga hidrasi setelah berjam-jam berpuasa.
Sajian Ikonik yang Tak Pernah Absen
Kurma adalah hidangan wajib yang selalu ada di setiap meja Saudi. Tradisi ini mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW yang berbuka puasa dengan kurma dan air. Kurma memberikan energi instan dan koneksi spiritual yang mendalam.

Saat Iftar, beberapa hidangan umum dapat ditemukan di berbagai wilayah Saudi, seperti sup, Samboosa (pastel goreng atau panggang berisi daging atau sayuran), roti tradisional, dan berbagai macam semur (stew). Untuk hidangan utama, beberapa nama besar selalu hadir, seperti Jareesh (bubur gandum dengan daging), Saleeg (nasi gurih dengan susu dan ayam), Kabsa (nasi rempah dengan daging atau ayam), serta Matazeez dan Marqouq (semur dengan potongan roti atau adonan).

Minuman menyegarkan juga menjadi pusat perhatian di meja Iftar. Setelah seharian haus dan lapar, Air Zamzam, Sobia (minuman khas Hijaz dari jelai fermentasi), jus segar, dan Kopi Saudi menjadi pelepas dahaga yang menenangkan.
Ramadan juga identik dengan hidangan manis. Beragam kue dan pencuci mulut seperti Kunafa, Qatayef (pastel manis isi kacang atau keju), Luqaimat (donat kecil dengan saus kurma), dan Kleija (kue isi kurma) selalu dinanti.
Sementara itu, untuk Suhoor, masyarakat Saudi memilih makanan yang dapat menjaga energi sepanjang hari. Hidangan seperti kurma, yogurt, Foul (kacang fava atau kacang Arab), keju, labneh, dan sup ringan menjadi pilihan utama.
Menjelajahi Cita Rasa Khas dari Berbagai Penjuru Negeri
Salah satu hal yang paling menarik dari Ramadan di Arab Saudi adalah keragaman kulinernya yang merefleksikan warisan budaya setiap daerah.
1. Kehangatan Hijaz (Makkah, Madinah, Jeddah)
Di wilayah barat yang dikenal sebagai Hijaz, cita rasa Arab yang autentik sangat terasa. Iftar di sini seringkali menghadirkan Foul yang disantap dengan roti Tamis, nasi lembut Saleeg, dan roti Shuraik yang dinikmati dengan Qallaba (semur daging dan sayuran). Manto dan Yaghmush (pangsit daging) juga menjadi favorit. Namun, minuman yang paling ikonik dari wilayah ini adalah Sobia, minuman manis dan sedikit asam yang terbuat dari jelai, yang selalu dinanti-nanti.
2. Kekayaan Rasa Najd (Riyadh)
Beralih ke jantung Arab Saudi, wilayah Najd menawarkan cita rasa yang kuat dan khas dengan penggunaan Loomi (jeruk nipis hitam kering) dan minyak samin (ghee) yang dominan. Pusat dari meja makan Najdi adalah Jareesh, yang sering disebut sebagai hidangan nasional Arab Saudi. Tentu saja, Kabsa yang ikonik juga tidak pernah absen. Selain itu, semur lezat seperti Matazeez dan Marqouq selalu menjadi primadona, seringkali diakhiri dengan Hanini, hidangan penutup hangat dari campuran kurma, gandum cokelat, dan mentega.
3. Pesona Laut dan Agrikultur (Provinsi Timur & Selatan)
Perjalanan kuliner Ramadan berakhir di Provinsi Timur (seperti Al-Ahsa) dan wilayah Selatan (Aseer dan Jazan). Di sini, pengaruh laut dan warisan pertanian yang unik membentuk cita rasa Ramadan.
Di Provinsi Timur, hidangan seperti Thareed (roti direndam dalam kuah daging), Nasi Hasawi (nasi khas dari Al-Ahsa), dan Harees (gandum yang dimasak lama dengan daging) menjadi hidangan unggulan.

Sementara itu, wilayah Selatan terkenal dengan Mughash (daging yang dimasak dalam periuk batu), Aseedah (adonan tepung gandum seperti bubur), serta hidangan khas Jazan yaitu Al-Mahshosh dan Zalabiya.
Ramadan di Arab Saudi adalah sebuah pengalaman multisensori yang menyatukan spiritualitas, kebersamaan keluarga, dan kekayaan warisan kuliner. Setiap gigitan bukan hanya sekadar makanan, melainkan sebuah cerita tentang tradisi yang diwariskan turun-temurun. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, dan semoga kita semua dapat merasakan keberkahan bulan suci ini.
Baca juga: Panduan bagi Pendatang: Ramadhan di Arab Saudi
Referensi:
- Sayed, A. (2026). Tradition in Every Bite: The Taste of Ramadan in Saudi Arabia. Diambil dari https://www.leaders-mena.com/tradition-in-every-bite-the-taste-of-ramadan-in-saudi-arabia/.