Arab Saudi memperpanjang Program Saudi Reef hingga akhir 2032 untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Keputusan ini memberikan tambahan enam tahun bagi pemerintah untuk mengembangkan sektor pertanian berkelanjutan, memberdayakan petani kecil, dan meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
Program Saudi Reef atau Sustainable Agricultural Rural Development Program merupakan inisiatif pembangunan pedesaan yang berfokus pada pengembangan berbagai sektor pertanian. Perpanjangan program ini menunjukkan bahwa pertanian pedesaan tetap menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan Arab Saudi (Ghandour, 2026).
Program Saudi Reef Diperpanjang hingga 2032
Perpanjangan Program Saudi Reef ditetapkan oleh Dewan Menteri Arab Saudi. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi petani kecil, pelaku usaha, dan investor yang terlibat dalam kegiatan ekonomi pedesaan.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi, Mansour bin Hilal Al-Mushaiti, menyatakan bahwa dukungan pemerintah dan pengawasan Menteri Abdulrahman Al-Fadhli turut mendorong pencapaian program sejak 2020.
Menurut keterangan yang diberitakan Saudi Press Agency (SPA), program ini telah mengelola dan melaksanakan 106 proyek pembangunan di berbagai sektor sasaran.
Pada tahap berikutnya, pemerintah akan melanjutkan pemberdayaan petani kecil, mengembangkan potensi ekonomi daerah, serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal.
Selain itu, Saudi Reef diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga sumber daya alam. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan pedesaan diharapkan memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Delapan Sektor Unggulan Program Saudi Reef
Program Saudi Reef diluncurkan oleh Raja Salman pada 9 Januari 2019. Pelaksanaannya berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi, dengan koordinasi bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization of the United Nations atau FAO).
Program ini mencakup delapan sektor utama yang diarahkan untuk meningkatkan produksi, memperluas kesempatan ekonomi, dan memperkuat pasokan pangan lokal.
Beberapa sektor yang menjadi perhatian meliputi:
- Kopi Arab: meningkatkan produksi kopi lokal dan pendapatan petani.
- Peternakan lebah dan madu: mengembangkan usaha madu serta meningkatkan nilai ekonominya.
- Tanaman aromatik: mengoptimalkan potensi tanaman bernilai ekonomi.
- Buah-buahan: meningkatkan produksi dan mendukung rantai pasok komoditas lokal.
- Perikanan: mengembangkan potensi usaha perikanan.
- Peternakan skala kecil: memperkuat usaha peternakan masyarakat pedesaan.
Pengembangan sektor-sektor tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar negeri untuk komoditas tertentu. Di sisi lain, diversifikasi produksi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha sesuai dengan potensi wilayahnya.
Capaian Program Saudi Reef dalam Angka
Sejak pelaksanaannya, Program Saudi Reef telah menyalurkan bantuan dan mendukung berbagai kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan. Data yang dilaporkan Ghandour (2026) menunjukkan sejumlah capaian penting selama periode pelaksanaan program.
Berikut ringkasan capaian yang dilaporkan.
| Indikator | Capaian |
|---|---|
| Proyek pembangunan | 106 proyek |
| Penerima manfaat | Lebih dari 90.000 orang |
| Penerima manfaat perempuan | Sekitar 65.000 orang |
| Peluang pendapatan yang diciptakan | 92.000 |
| Kontribusi terhadap PDB Arab Saudi | SAR 9 miliar |
| Bantuan langsung kepada petani kecil, 2020–2025 | SAR 2,9 miliar |
| Produksi buah-buahan pada akhir 2025 | Hampir 367.000 ton |
Angka tersebut menunjukkan bahwa Saudi Reef tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Program ini juga mendukung pemberdayaan masyarakat, memperluas peluang pendapatan, dan mendorong aktivitas ekonomi di wilayah pedesaan.
Namun, capaian tersebut perlu dilihat berdasarkan indikator dan periode pengukurannya masing-masing. Kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), misalnya, berbeda dari jumlah bantuan yang disalurkan atau jumlah penerima manfaat.
Dukungan untuk Sektor Buah-buahan, Madu, dan Kopi
Salah satu fokus Program Saudi Reef adalah meningkatkan daya saing komoditas pertanian lokal. Dukungan diberikan melalui pendanaan dan kegiatan pengembangan sektor yang memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat pedesaan.
1. Sektor buah-buahan
Produksi buah-buahan Arab Saudi dilaporkan mencapai hampir 367.000 ton pada akhir 2025. Untuk mendukung sektor ini, program telah menyalurkan bantuan lebih dari SAR 330 juta atau sekitar US$88 juta kepada 12.400 penerima manfaat.
Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat produksi buah-buahan dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
2. Sektor madu
Sejak 2020, sekitar SAR 140 juta atau setara dengan US$37,3 juta telah dialokasikan untuk mendukung industri madu. Pendanaan ini menjangkau 10.584 penerima manfaat.
Pengembangan industri madu juga memberikan peluang bagi peternak lebah untuk meningkatkan kapasitas usaha dan memperkuat posisi produk lokal di pasar.
3. Sektor kopi Arab
Pada sektor kopi, Saudi Reef telah mengalokasikan bantuan sebesar SAR 61 juta atau sekitar US$16,3 juta kepada 3.718 penerima manfaat.
Pengembangan kopi Arab menjadi penting karena komoditas ini memiliki nilai ekonomi sekaligus keterkaitan dengan identitas budaya kawasan. Melalui dukungan tersebut, petani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.
Secara keseluruhan, dukungan pada ketiga sektor ini memperlihatkan pendekatan Saudi Reef dalam mengembangkan komoditas berdasarkan potensi ekonomi dan karakteristik wilayah.
Ketahanan Pangan Menjadi Prioritas Arab Saudi
Perpanjangan Program Saudi Reef sejalan dengan upaya Arab Saudi meningkatkan kemandirian pangan. Pemerintah berupaya memperkuat produksi domestik untuk sejumlah komoditas sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat pedesaan dalam memasok kebutuhan pasar.
Berdasarkan data General Authority for Statistics yang dikutip Ghandour (2026), tingkat swasembada beberapa komoditas pangan Arab Saudi pada 2024 mencapai:
- Udang: 149%.
- Produk susu: 131%.
- Kurma: 121%.
- Terung: 105%.
- Telur: 103%.
Tingkat swasembada di atas 100% menunjukkan bahwa produksi domestik untuk komoditas tersebut melampaui kebutuhan domestik menurut metode pengukuran yang digunakan. Meski demikian, angka ini tidak berarti Arab Saudi telah mencapai swasembada untuk seluruh kebutuhan pangan.
Setiap komoditas memiliki kondisi produksi, konsumsi, dan distribusi yang berbeda. Karena itu, peningkatan produksi perlu disertai pengelolaan rantai pasok yang efisien serta penggunaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi menetapkan 13 produk pangan prioritas untuk dikembangkan melalui strategi lokalisasi produksi. Menurut laporan yang sama, empat produk dalam kelompok prioritas tersebut telah mencapai tingkat swasembada di atas 100%.
Langkah ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada besarnya produksi, tetapi juga pada kemampuan mengelola pasokan dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
Kontribusi Saudi Reef terhadap Visi Saudi 2030
Program Saudi Reef mendukung tujuan pembangunan Arab Saudi yang terangkum dalam Visi Saudi 2030. Tiga aspek yang menonjol adalah ketahanan pangan, pengembangan ekonomi pedesaan, dan keberlanjutan lingkungan.
Pertama, program ini memperkuat posisi petani kecil dalam rantai pasok pangan. Dukungan terhadap produksi lokal berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperluas ketersediaan produk pertanian di pasar.
Kedua, pengembangan komoditas unggulan membuka peluang diversifikasi ekonomi. Masyarakat pedesaan dapat mengembangkan usaha berdasarkan potensi wilayah, mulai dari perkebunan kopi hingga produksi madu dan buah-buahan.
Ketiga, keberlanjutan lingkungan menjadi bagian dari arah pengembangan program. Laporan Ghandour (2026) menyebutkan bahwa program turut membantu penanaman lebih dari 15 juta bibit tanaman pertanian dan mendukung produksi sekitar 250 juta kilogram hasil pertanian.
Laporan yang sama juga menyebut angka 21 juta pohon dalam kerangka Saudi Green Initiative. Angka tersebut merupakan indikator yang perlu dibedakan dari capaian spesifik Saudi Reef, sehingga tidak tepat untuk langsung menganggap seluruh pohon tersebut sebagai hasil program ini.
Meskipun demikian, berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan keterkaitan antara pembangunan pertanian, pengelolaan sumber daya alam, dan agenda keberlanjutan Arab Saudi.
Prioritas Pengembangan Saudi Reef hingga 2032
Perpanjangan program hingga 2032 membuka kesempatan untuk memperluas manfaat pembangunan pertanian pedesaan. Menurut Al-Mushaiti, terdapat empat prioritas utama dalam tahap pengembangan berikutnya.
Pertama, memperluas keberhasilan program. Pemerintah akan melanjutkan upaya yang dinilai berhasil selama periode pelaksanaan sebelumnya.
Kedua, memperkuat rantai nilai pertanian. Pengembangan tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga mencakup pengolahan, distribusi, dan pemasaran agar produk lokal memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ketiga, mengoptimalkan potensi setiap wilayah. Setiap daerah memiliki keunggulan yang berbeda. Karena itu, pengembangan sektor pertanian perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah dan peluang pasarnya.
Keempat, menciptakan kegiatan ekonomi berkelanjutan. Pengembangan usaha diharapkan dapat menghasilkan peluang pendapatan jangka panjang sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Keempat prioritas tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Saudi Reef tidak hanya ditentukan oleh besarnya bantuan keuangan. Akses pasar, produktivitas, efisiensi rantai pasok, dan pengelolaan lingkungan juga akan berpengaruh terhadap hasil program dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Perpanjangan Program Saudi Reef hingga 2032 menegaskan komitmen Arab Saudi untuk mengembangkan pertanian pedesaan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Program ini menggabungkan dukungan finansial bagi petani kecil, pengembangan komoditas unggulan, penciptaan peluang ekonomi, dan penguatan rantai nilai pertanian.
Capaian yang dilaporkan, termasuk 106 proyek pembangunan dan bantuan langsung sebesar SAR 2,9 miliar kepada petani kecil selama 2020–2025, menunjukkan luasnya cakupan intervensi program. Dukungan untuk sektor buah-buahan, madu, dan kopi juga memperlihatkan upaya pemerintah mengoptimalkan potensi ekonomi lokal.
Ke depan, efektivitas Saudi Reef akan bergantung pada kemampuan meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Jika prioritas tersebut dapat dijalankan secara konsisten, program ini berpotensi terus mendukung ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi pedesaan, dan pencapaian tujuan Visi Saudi 2030.
Referensi
Ghandour, A. (2026). Saudi Arabia extends Reef Program through 2032 to boost food security. Leaders. https://www.leaders-mena.com/?p=113144