Masjid Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu masjid bersejarah yang dapat ditemukan tidak jauh dari Masjid Nabawi, Madinah. Masjid ini menjadi bagian dari jejak sejarah Islam di kawasan Al-Manakhah, tempat yang dahulu digunakan untuk melaksanakan salat Id dan salat istisqa.
Lokasinya juga berdekatan dengan beberapa masjid bersejarah lain. Di antaranya adalah Masjid Al-Ghamamah dan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena itu, kawasan ini menarik untuk dikunjungi oleh jamaah yang ingin mengenal sejarah Madinah lebih dalam.
Namun, nilai penting Masjid Ali bin Abi Thalib bukan hanya terletak pada lokasinya. Tempat berdirinya masjid ini berkaitan dengan tradisi salat Rasulullah SAW dan para sahabat di kawasan Al-Manakhah.
Sejarah Masjid Ali bin Abi Thalib di Madinah
Untuk memahami sejarah Masjid Ali bin Abi Thalib, kita perlu mengenal kawasan Al-Manakhah terlebih dahulu.
Pada masa Rasulullah SAW, Al-Manakhah merupakan kawasan terbuka di sekitar Madinah. Rasulullah SAW menggunakan beberapa bagian kawasan tersebut sebagai tempat melaksanakan salat Id dan salat istisqa atau salat meminta hujan.
Visit Madinah mencatat bahwa area tempat Masjid Ali bin Abi Thalib berdiri termasuk salah satu lokasi salat Rasulullah SAW di lapangan Al-Musalla.
Tradisi salat di kawasan tersebut kemudian diteruskan oleh para sahabat. Oleh karena itu, sejumlah masjid yang sekarang berdiri di sekitar Al-Manakhah memiliki hubungan dengan lokasi salat Nabi Muhammad SAW dan generasi awal Islam.
Masjid Al-Ghamamah, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Masjid Ali bin Abi Thalib merupakan bagian dari jejak sejarah tersebut.
Mengapa Dinamakan Masjid Ali bin Abi Thalib?
Nama masjid ini berasal dari Ali bin Abi Thalib RA, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Ali menikah dengan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW. Ia kemudian dikenal sebagai khalifah keempat dalam Khulafaur Rasyidin.
Menurut Visit Madinah, Ali bin Abi Thalib memimpin salat Idul Adha di lokasi tersebut pada tahun 35 Hijriah. Lokasi itu termasuk salah satu tempat di Al-Manakhah yang sebelumnya digunakan Rasulullah SAW untuk salat.
Hubungan sejarah tersebut membuat kawasan ini kemudian dikenal sebagai tempat salat Ali bin Abi Thalib.
Pada masa berikutnya, sebuah masjid dibangun di lokasi tersebut. Masjid itu akhirnya dikenal sebagai Masjid Ali bin Abi Thalib.
Dengan demikian, nama masjid bukan hanya bentuk penghormatan kepada Ali. Nama tersebut juga berkaitan dengan aktivitas ibadah yang berlangsung di lokasi tersebut pada masa awal Islam.
Dibangun pada Masa Umar bin Abdul Aziz
Bangunan Masjid Ali bin Abi Thalib yang terlihat saat ini bukan bangunan dari masa Rasulullah SAW.
Menurut sumber resmi Visit Madinah, pembangunan awal masjid berkaitan dengan masa Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi gubernur Madinah pada era Dinasti Umayyah, sekitar 87–93 Hijriah.
Umar bin Abdul Aziz memberikan perhatian pada lokasi-lokasi yang memiliki hubungan dengan kehidupan Rasulullah SAW. Ia mengidentifikasi sejumlah tempat salat Nabi di Madinah dan membangun masjid di lokasi tersebut agar jejak sejarahnya tetap terpelihara.
Masjid Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu tempat yang mendapat perhatian tersebut.
Seiring berjalannya waktu, bangunan masjid mengalami beberapa kali perubahan. Pada 881 Hijriah, Zain Ad-Din Al-Mansouri yang saat itu menjadi penguasa Madinah membangun kembali masjid setelah mengalami kerusakan.
Setelah itu, pemeliharaan dan renovasi terus dilakukan oleh pemerintahan pada periode berikutnya.
Renovasi Masjid Ali bin Abi Thalib pada Era Arab Saudi
Pelestarian Masjid Ali bin Abi Thalib berlanjut pada masa Kerajaan Arab Saudi.
Bangunan yang berdiri sekarang terutama berkaitan dengan pembangunan pada masa Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud. Pada 1411 Hijriah, masjid dibangun kembali sekaligus diperluas.
Kemudian, pemeliharaan kembali dilakukan pada 1434 Hijriah pada masa pemerintahan Raja Abdullah bin Abdulaziz.
Pada masa Raja Salman bin Abdulaziz, masjid ini kembali mendapat perhatian melalui program pemeliharaan masjid dan pengembangan situs bersejarah Islam di Madinah.
Pelestarian tersebut penting karena kawasan di sekitar Masjid Nabawi terus berkembang. Keberadaan masjid-masjid bersejarah membantu pengunjung memahami hubungan antara Madinah modern dan sejarah kota pada masa awal Islam.
Arsitektur Masjid Ali bin Abi Thalib
Jika dibandingkan dengan kemegahan Masjid Nabawi, Masjid Ali bin Abi Thalib memiliki arsitektur yang jauh lebih sederhana.
Namun, kesederhanaan itu justru menjadi salah satu ciri khasnya.
Menurut Visit Madinah, masjid ini berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 31 meter dari timur ke barat dan lebar sekitar 22 meter.
Ruang utama masjid terdiri dari satu aula yang dinaungi tujuh kubah. Kubah tertinggi berada di atas bagian mihrab.
Sementara itu, bagian utara masjid memiliki halaman berbentuk persegi panjang yang tidak beratap. Menara masjid terletak di sisi timur.
ANTARA pada November 2025 juga menggambarkan masjid ini sebagai bangunan sederhana. Dindingnya didominasi warna putih dengan sebuah menara ramping.
Karena itu, daya tarik utama masjid bukan terletak pada kemegahan bangunannya. Nilai sejarah tempat tersebut justru menjadi hal yang paling penting.
Lokasi Masjid Ali bin Abi Thalib
Salah satu kelebihan mengunjungi Masjid Ali bin Abi Thalib adalah lokasinya yang dekat dengan kawasan Masjid Nabawi.
Visit Madinah mencatat masjid ini berada di sebelah utara Masjid Al-Ghamamah. Lokasinya sekitar 290 meter dari bangunan perluasan Saudi kedua Masjid Nabawi.
Selain itu, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berada tidak jauh dari lokasi tersebut.
Jarak antara Masjid Ali bin Abi Thalib dan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq sekitar 100 meter. Karena jaraknya cukup dekat, pengunjung dapat menjelajahi beberapa masjid bersejarah dalam satu perjalanan.
Kawasan ini cocok dimasukkan dalam rute wisata sejarah Islam di Madinah.
Dekat dengan Masjid Al-Ghamamah
Masjid Al-Ghamamah menjadi salah satu bangunan bersejarah yang paling dekat dengan Masjid Ali bin Abi Thalib.
Masjid tersebut juga berkaitan dengan tradisi pelaksanaan salat Id Rasulullah SAW di kawasan Al-Manakhah.
Tidak jauh dari kedua masjid itu terdapat Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dengan demikian, pengunjung dapat melihat beberapa tempat bersejarah yang saling berkaitan dalam kawasan yang sama.
Kedekatan tersebut juga membantu pengunjung memahami bentuk kawasan Al-Manakhah pada masa lalu.
Pengunjung tidak hanya melihat bangunan masjid. Mereka juga dapat mempelajari bagaimana ruang terbuka di sekitar Madinah digunakan umat Islam untuk berkumpul dan melaksanakan ibadah.
Jejak Salat Id Rasulullah SAW di Al-Manakhah
Hubungan dengan musalla menjadi salah satu alasan Masjid Ali bin Abi Thalib memiliki nilai sejarah penting.
Musalla dalam konteks ini merupakan tempat terbuka yang digunakan untuk melaksanakan salat.
Pada masa Rasulullah SAW, salat Id tidak selalu dilakukan di dalam Masjid Nabawi. Rasulullah SAW juga menggunakan kawasan terbuka Al-Manakhah untuk memimpin umat Islam melaksanakan salat Id dan salat istisqa.
Visit Madinah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan salat di beberapa titik dalam kawasan tersebut.
Ali bin Abi Thalib kemudian menggunakan salah satu tempat yang juga pernah digunakan Rasulullah SAW untuk salat. Setelah itu, masjid yang membawa nama Ali dibangun di lokasi tersebut.
Oleh karena itu, keberadaan masjid ini dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga lanskap sejarah Madinah.
Wisata Sejarah Islam di Sekitar Masjid Nabawi
Bagi jamaah Indonesia, mengunjungi situs bersejarah di Madinah dapat menjadi kegiatan tambahan setelah menjalankan aktivitas ibadah utama.
Masjid Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu tempat yang relatif mudah dikunjungi karena berada di kawasan sekitar Masjid Nabawi.
Dalam satu perjalanan, pengunjung dapat melihat beberapa situs di kawasan Al-Manakhah. Selain Masjid Ali, terdapat Masjid Al-Ghamamah dan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Namun, kunjungan ke tempat-tempat tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari kegiatan mempelajari sejarah Islam.
Pengunjung juga perlu membedakan antara nilai sejarah suatu tempat dan keutamaan ibadah tertentu. Keutamaan khusus tidak sebaiknya dilekatkan pada sebuah tempat tanpa dasar agama yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan pendekatan tersebut, perjalanan ke situs sejarah dapat menjadi kesempatan untuk memahami perkembangan Madinah dan kehidupan generasi awal umat Islam.
Masjid Ali bin Abi Thalib, Saksi Sejarah Madinah
Masjid Ali bin Abi Thalib memang tidak sebesar atau semegah Masjid Nabawi. Namun, nilai penting masjid ini tidak ditentukan oleh ukuran bangunannya.
Masjid tersebut menjadi pengingat tentang kawasan Al-Manakhah dan tradisi salat Id Rasulullah SAW. Tempat ini juga berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib dan keberlanjutan praktik ibadah yang dilakukan generasi awal umat Islam.
Lokasinya yang dekat dengan Masjid Nabawi membuat masjid ini mudah dimasukkan ke dalam perjalanan menjelajahi situs sejarah Madinah.
Selain itu, beberapa masjid bersejarah lain berada dalam kawasan yang sama. Hal tersebut membuat Al-Manakhah menjadi salah satu kawasan menarik bagi pengunjung yang ingin mengenal sejarah Madinah secara lebih mendalam.
Di tengah perkembangan Madinah sebagai kota modern, Masjid Ali bin Abi Thalib menunjukkan bahwa jejak sejarah awal Islam masih dapat ditemukan hanya beberapa ratus meter dari Masjid Nabawi.
Bagi pengunjung yang ingin memahami Madinah lebih dari sekadar melihat bangunan, tempat ini memberikan gambaran tentang hubungan antara ruang, ibadah, dan perjalanan panjang sejarah Islam.
Referensi
- Madinah Region Development Authority. Ali bin Abi Talib Mosque. Visit Madinah. Sumber resmi mengenai lokasi, sejarah Al-Manakhah, salat Rasulullah SAW dan Ali bin Abi Thalib, pembangunan pada masa Umar bin Abdul Aziz, renovasi, serta arsitektur masjid.
- Saudi Tourism Authority. Ali Ibn Abi Talib Mosque. Visit Saudi. Informasi destinasi mengenai Masjid Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu situs warisan sejarah Islam di Madinah.
- Saputra, Bayu. (2025). Masjid Ali bin Abi Thalib, Potret Kesederhanaan di Kota Nabi. ANTARA News, 4 November 2025. Sumber pendukung mengenai lokasi, kondisi bangunan, serta karakter sederhana Masjid Ali bin Abi Thalib.