Ilustrasi Energi Terbarukan di Arab Saudi (Sumber: Green Tech News Middle East)
Transformasi sektor energi Arab Saudi memasuki fase baru. Pengembangan energi terbarukan kini berlangsung dalam skala yang semakin besar. Berdasarkan Saudi Arabia Renewables Tracker yang diterbitkan King Abdullah Petroleum Studies and Research Center (KAPSARC), pipeline energi terbarukan Arab Saudi telah mencapai 63,8 gigawatt (GW) yang tersebar dalam 53 proyek.
Pada saat yang sama, kapasitas energi terbarukan yang tercatat beroperasi diproyeksikan mencapai 19,3 GW pada 2026. Angka tersebut menunjukkan peningkatan lebih dari 63 kali lipat dibandingkan 2020.
Perkembangan ini menjadi bagian penting dari transformasi sektor energi Arab Saudi. Melalui Vision 2030, pemerintah terus memperluas kapasitas pembangkit sekaligus meningkatkan pemanfaatan teknologi energi yang lebih bersih.
Kapasitas Energi Terbarukan Terus Bertambah
Data KAPSARC menunjukkan bahwa pipeline energi terbarukan Arab Saudi tidak hanya berisi proyek yang sudah beroperasi. Sekitar 30 persen kapasitas telah terpasang, sedangkan 37 persen sedang dalam tahap pembangunan dan sekitar 32 persen berada dalam tahap tender.
Dengan demikian, pertumbuhan energi terbarukan berlangsung melalui beberapa tahap sekaligus. Sebagian proyek sudah menghasilkan listrik, sementara proyek lainnya sedang dibangun atau dipersiapkan untuk masuk ke tahap konstruksi.
KAPSARC mencatat proyek-proyek tersebut tersebar di berbagai wilayah Arab Saudi. Di antaranya Riyadh, Makkah, Madinah, Al-Qassim, Hail, Aseer, Jazan, Provinsi Timur, Al-Jouf, Najran, dan Northern Borders.
Energi Surya Menjadi Penggerak Utama
Dari keseluruhan pipeline tersebut, energi surya menjadi sumber dominan. Pembangkit listrik tenaga surya menyumbang sekitar 81 persen dari kapasitas yang dilacak KAPSARC. Sementara itu, energi angin menyumbang sekitar 19 persen.
Dominasi energi surya tidak terlepas dari kondisi geografis Arab Saudi yang memiliki paparan matahari tinggi. Karena itu, pengembangan pembangkit surya menjadi salah satu instrumen utama dalam memperluas pasokan listrik dari sumber energi terbarukan.
Selain memperbesar kapasitas, perkembangan proyek juga menunjukkan perhatian terhadap biaya pembangkitan. KAPSARC mencatat levelized cost of energy atau biaya energi yang diratakan berada pada kisaran 1,04 sen AS per kWh di proyek Shuaibah 1 hingga 2,98 sen per kWh di Layla.
Beberapa proyek tenaga surya yang masih dalam tahap pengembangan bahkan tercatat memiliki biaya sekitar 1,09–1,36 sen AS per kWh.
Delapan Proyek Berkapasitas 7,7 GW pada 2026
Momentum pembangunan semakin terlihat dari proyek yang ditargetkan beroperasi pada 2026. KAPSARC mencatat terdapat delapan proyek dengan total kapasitas 7,7 GW yang memiliki tahun commissioning 2026. Enam di antaranya telah tercatat sebagai proyek terpasang.
Beberapa proyek terbesar berada di wilayah Makkah dan Al-Qassim. Proyek Haden Solar dan Muwayh Solar, masing-masing berkapasitas 2 GW, berada di Makkah. Sementara itu, Khushaybi Solar di Al-Qassim memiliki kapasitas 1,5 GW.
Pipeline tersebut juga mencakup Alghat Wind di Riyadh dengan kapasitas 600 MW, serta Waad Al Shammal Wind di Northern Borders dengan kapasitas 500 MW.
Di Al-Jouf, proyek Tabarjal Solar memiliki kapasitas 400 MW. Adapun dua proyek yang masih tercatat dalam tahap pengembangan adalah Henakiyah 2 Solar di Madinah dengan kapasitas 400 MW dan Rabigh 2 Solar di Makkah dengan kapasitas 300 MW.
Menuju 100–130 GW pada 2030
Lonjakan tersebut menjadi bagian dari target energi jangka panjang Arab Saudi. Kerajaan menargetkan kapasitas energi terbarukan sebesar 100–130 GW pada 2030. Target tersebut juga berkaitan dengan rencana untuk meningkatkan kontribusi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional.
Selain itu, Arab Saudi menargetkan pencapaian net-zero emissions pada 2060. Karena itu, pembangunan energi surya dan angin menjadi salah satu bagian dari transformasi sistem energi dalam beberapa dekade mendatang.
KAPSARC memperkirakan proyek-proyek baru masih akan masuk ke dalam pipeline seiring percepatan program energi terbarukan Arab Saudi. Dengan kata lain, angka 63,8 GW tersebut masih berpotensi bertambah.
Energi Terbarukan dan Transformasi Ekonomi Arab Saudi
Perubahan ini menunjukkan bahwa energi terbarukan semakin memiliki posisi penting dalam strategi energi Arab Saudi. Transformasinya tidak hanya menyangkut pembangunan pembangkit baru, tetapi juga mencakup perluasan kapasitas listrik dan adopsi teknologi yang lebih bersih.
Di sisi lain, pembangunan puluhan proyek energi surya dan angin membuka ruang bagi investasi, pengembangan teknologi, serta aktivitas industri pendukung. Dengan pipeline mencapai 63,8 GW, sektor energi terbarukan berpotensi menjadi salah satu bagian penting dari diversifikasi ekonomi Arab Saudi.
KAPSARC sendiri menyatakan bahwa Saudi Arabia Renewables Tracker memantau proyek-proyek resmi yang telah diumumkan. Dashboard tersebut diperbarui setiap bulan dan mencakup proyek energi surya serta angin berdasarkan status dan tahun pengembangannya.
Dengan proyek yang terus bertambah, Arab Saudi kini tidak hanya memperluas kapasitas pembangkit listrik. Kerajaan juga sedang membangun fondasi sistem energi yang semakin beragam untuk mendukung kebutuhan ekonomi dan pembangunan nasional hingga 2030 dan setelahnya.
Baca juga: Kapasitas Energi Terbarukan Arab Saudi Melonjak 88% pada 2025, Tembus 12.313 MW
Referensi:
- Elsheikh, E. (2026). Clean Power: Saudi Arabia’s Renewable Energy Pipeline Reaches 63.8 GW. Diambil dari https://www.leaders-mena.com/clean-power-saudi-arabias-renewable-energy-pipeline-reaches-63-8-gw/.
- Arab News. (2026). Saudi Arabia’s renewable energy pipeline reaches 63.8 GW across 53 projects. Diambil dari https://www.arabnews.com/energy/saudi-arabias-renewable-energy-pipeline-reaches-638-gw-across-53-projects-3003351.
- Fast Company ME. (2026). Saudi Arabia’s operating renewable capacity reaches 19.3 GW in 2026. Diambil dari https://fastcompanyme.com/news/saudi-arabias-operating-renewable-capacity-reaches-19-3-gw-in-2026/.