(Sumber: Al Arabiya)
Arab Saudi tidak hanya memiliki kekayaan budaya dan tradisi, tetapi juga mempunyai kebiasaan makan yang mencerminkan identitas masyarakatnya. Dari secangkir kopi Saudi dan kurma untuk menyambut tamu hingga sepiring kabsa yang disantap bersama keluarga, makanan memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Namun, perkembangan kota dan perubahan gaya hidup mulai mengubah pola tersebut. Makanan tradisional kini berdampingan dengan restoran cepat saji, layanan pesan-antar, serta berbagai tren diet modern.
Makanan Bukan Sekadar Pengisi Perut
Dalam budaya Saudi, makan memiliki dimensi sosial yang kuat. Hidangan sering disantap bersama dalam satu meja atau satu wadah besar. Dalam tradisi tertentu, masyarakat juga makan sambil duduk dan menggunakan tangan kanan.
Etika makan tidak hanya berkaitan dengan cara menyantap makanan. Menghormati tuan rumah dan tamu juga menjadi bagian penting dari budaya tersebut.
Karena itu, makanan sering menjadi sarana untuk mempererat hubungan keluarga, persahabatan, dan komunitas.
Sarapan Saudi yang Sederhana
Berbeda dengan makan siang yang biasanya lebih berat, sarapan tradisional Saudi cenderung sederhana.
Kurma dan kopi Saudi menjadi salah satu kombinasi yang sangat dikenal. Selain itu, masyarakat juga mengenal tamees, roti dengan keju, foul atau kacang fava, serta shakshouka yang berbahan dasar telur dan tomat.
Pilihan tersebut menunjukkan bagaimana bahan sederhana dapat menjadi bagian dari tradisi kuliner yang bertahan lintas generasi.
Kabsa Menjadi Ikon Makan Siang
Jika ada satu hidangan yang sangat identik dengan makanan Arab Saudi, kabsa adalah salah satunya.
Hidangan ini umumnya terdiri dari nasi yang dimasak bersama rempah-rempah dan disajikan dengan ayam, daging, atau ikan. Saus tomat, cabai, dan salad sederhana dapat menjadi pelengkap.
Makan siang juga menjadi waktu makan utama dalam kebiasaan tradisional Saudi. Karena itu, kabsa bukan hanya makanan populer, tetapi juga bagian dari pengalaman makan bersama keluarga dan masyarakat.
Makan Malam Cenderung Lebih Ringan
Setelah makan siang yang relatif berat, makan malam tradisional biasanya lebih sederhana.
Tamees, keju, foul, mutabbaq, dan masoub termasuk makanan yang dapat ditemukan dalam tradisi kuliner Saudi. Masoub, misalnya, dibuat dari roti gandum yang dipadukan dengan bahan seperti madu, ghee, dan pisang.
Ragam makanan tersebut memperlihatkan bahwa kuliner Saudi memiliki variasi yang cukup luas, baik dari sisi bahan maupun cara penyajiannya.
Ramadan Mengubah Ritme Makan
Ramadan memberikan warna tersendiri terhadap kebiasaan makan di Arab Saudi.
Saat waktu berbuka tiba, kurma biasanya menjadi makanan awal yang dikonsumsi bersama air, laban, atau minuman lainnya. Setelah itu, hidangan seperti samosa dan sup dapat hadir di meja makan.
Di sejumlah wilayah, sobia juga menjadi minuman yang populer selama Ramadan. Tradisi berbagi makanan dengan tetangga turut memperkuat dimensi sosial dari bulan suci tersebut.
Buka puasa bersama juga menjadi tradisi yang mempertemukan keluarga, teman, dan tetangga dalam satu suasana kebersamaan.
Dari Tradisi ke Restoran Cepat Saji
Perubahan gaya hidup mulai memberikan pengaruh besar terhadap pola makan masyarakat Saudi.
Menurut Saudipedia, sejak awal 1990-an, restoran cepat saji dan restoran yang menawarkan makanan Barat semakin berkembang. Layanan pesan-antar kemudian membuat makanan tersebut semakin mudah diakses dari rumah.
Perubahan ini berjalan bersamaan dengan urbanisasi dan perkembangan ekonomi. Aktivitas masyarakat perkotaan yang semakin sibuk juga dapat mendorong ketergantungan pada makanan yang praktis dan mudah diperoleh.
Dengan demikian, pola makan masyarakat Saudi saat ini berada di antara dua dunia: tradisi kuliner yang diwariskan selama beberapa generasi dan pilihan makanan modern yang semakin beragam.
Restoran Menjadi Bagian dari Pola Makan Modern
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Public Health memberikan gambaran mengenai kebiasaan makan masyarakat di Arab Saudi.
Dari 608 responden dewasa, 61% mengatakan mereka mengonsumsi makanan dari restoran setiap minggu. Bahkan, 15% mengaku mengonsumsi makanan restoran setiap hari. Penelitian yang sama menemukan bahwa 51% responden makan dua kali sehari, sedangkan 61% menyantap makanan terakhir antara pukul 19.00 dan 22.00.
Data tersebut memang berasal dari survei dengan metode convenience sampling sehingga tidak dapat dianggap sebagai gambaran sempurna seluruh penduduk Arab Saudi. Namun, hasilnya memberikan indikasi mengenai perubahan pola konsumsi yang sedang berlangsung.
Tren Diet Modern Mulai Bermunculan
Menariknya, perkembangan pola makan modern tidak hanya terlihat dari konsumsi makanan cepat saji.
Tren diet seperti intermittent fasting, diet rendah karbohidrat, ketogenic diet, gluten-free diet, dan calorie restriction juga mulai mendapatkan perhatian.
Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa sebagian besar responden, yakni sekitar 75%, tidak mengikuti pola diet tertentu. Hanya sebagian kecil yang menjalankan jenis diet khusus.
Hal ini menunjukkan bahwa tren diet modern belum menggantikan pola makan sehari-hari secara luas. Sebaliknya, masyarakat masih memiliki pola konsumsi yang beragam.
Tantangan antara Kenikmatan dan Kesehatan
Perubahan pola makan membawa tantangan tersendiri.
Penelitian tersebut mencatat bahwa pergeseran menuju pola makan bergaya Barat yang lebih tinggi lemak, garam, dan gula menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam persoalan obesitas. Urbanisasi, aktivitas fisik yang rendah, dan meningkatnya konsumsi makanan cepat saji turut menjadi perhatian kesehatan masyarakat.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar memilih antara makanan tradisional atau makanan modern. Yang lebih penting adalah membangun pola makan yang seimbang.
Kesadaran mengenai komposisi makanan, porsi, konsumsi sayur dan buah, serta aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.
Tradisi Kuliner Tetap Menjadi Identitas Saudi
Di tengah perubahan gaya hidup, makanan tradisional tetap memiliki tempat yang kuat dalam masyarakat.
Kurma dan kopi Saudi masih menjadi simbol keramahan. Kabsa tetap menjadi salah satu hidangan utama yang melekat pada identitas kuliner Saudi. Sementara itu, tradisi berbagi makanan selama Ramadan memperlihatkan bahwa makanan bukan sekadar kebutuhan biologis.
Makanan juga menjadi bahasa sosial.
Melalui hidangan yang disajikan kepada tamu, keluarga dan masyarakat menunjukkan penghormatan, kemurahan hati, serta rasa kebersamaan.
Kebiasaan Makan Saudi Terus Berubah
Kebiasaan makan di Arab Saudi kini berada dalam fase perubahan. Tradisi lama masih bertahan, tetapi pola konsumsi modern semakin kuat.
Kabsa dan kurma tetap menjadi bagian penting dari identitas kuliner. Namun, restoran cepat saji, layanan pesan-antar, serta berbagai tren diet telah menambah pilihan masyarakat.
Tantangan ke depan adalah menemukan keseimbangan antara mempertahankan warisan kuliner dan membangun pola makan yang lebih sehat.
Sebab, kuliner bukan hanya tentang apa yang berada di atas piring. Di Arab Saudi, makanan juga bercerita tentang keluarga, keramahan, agama, perubahan sosial, dan identitas budaya.
Baca juga: Menyelami Warisan Roti Tradisional Saudi
Referensi:
- Saudipedia. (2020). Eating Habits in Saudi Arabia. Diambil dari https://saudipedia.com/en/eating-habits-in-saudi-arabia .
- Alhusseini, N, et al. (2024). Dietary trends and obesity in Saudi Arabia. Diambil dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10808649/.