Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri (urutan kelima dari kiri), menerima gelar doktor kehormatan dari Princess Nourah University di Riyadh pada 9 Februari 2026 (Sumber: Arab News)
Riyadh, KabarSaudi.com – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kerap mempertanyakan validitas gelar kehormatan bagi para tokoh, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Riyadh. Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menerima gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU), Senin (9/2/2026). Penghargaan ini bukan sekadar tambahan gelar ke-11 bagi putri proklamator tersebut, melainkan sebuah tonggak penting yang merefleksikan bagaimana dunia pendidikan tinggi dapat menjadi panggung pengakuan atas kontribusi nyata seorang pemimpin.
Berbeda dengan kontroversi gelar kehormatan yang kerap memicu perdebatan di ruang publik , penganugerahan kepada Megawati di PNU berlangsung dengan penuh kehormatan dan legitimasi akademik. Ia adalah warga negara asing pertama yang menerima penghargaan ini dari universitas khusus wanita terbesar di dunia . Momen ini pun menjadi simbol kuat sinergi antara capaian politik dan nilai-nilai pendidikan global.
Lebih dari Sekadar Gelar: Mengapa Penghargaan Ini Berbeda
Di Indonesia, gelar doktor kehormatan kerap menuai skeptisisme publik. Polemik mengenai gelar yang diberikan oleh institusi tanpa izin operasional atau proses akademik yang tidak jelas. Hal inilah yang seringkali melukai rasa keadilan masyarakat . Publik menjadi kritis, mempertanyakan apakah sebuah gelar diperoleh karena kontribusi atau sekadar popularitas semata .
Namun, kasus Megawati di PNU menghadirkan perspektif yang berbeda. Princess Nourah University adalah institusi pendidikan terkemuka yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Kerajaan Arab Saudi dan sejalan dengan Visi Saudi 2030 .
Rektor PNU, Prof. Fawziah binti Sulaiman Al-Amro, secara terbuka menyatakan bahwa gelar ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas “kepemimpinan perintisnya sebagai wanita pertama yang memimpin negaranya”. Serta kontribusinya yang berkelanjutan dalam pelayanan publik serta pembangunan berkelanjutan .
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa sebuah gelar kehormatan memiliki makna mendalam ketika diberikan oleh institusi yang kredibel. Hal ini menegaskan prinsip penting dalam dunia pendidikan. Yaitu legitimasi sebuah penghargaan tidak hanya ditentukan oleh gelarnya, tetapi juga oleh reputasi dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh institusi pemberi.
Memperkuat Peran Kampus dalam Pemberdayaan Perempuan
Dampak terbesar dari penganugerahan ini bukan hanya dirasakan oleh Megawati secara pribadi. Melainkan juga bagi dunia pendidikan, khususnya dalam isu pemberdayaan perempuan. PNU, sebagai universitas wanita terbesar di dunia, memiliki misi untuk melahirkan pemimpin perempuan masa depan. Dengan memberikan penghargaan kepada Megawati, PNU mengirimkan pesan kuat kepada 33.000 mahasiswinya. Bahwa kepemimpinan perempuan di ranah publik adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan dan diteladani.
Dalam pidato ilmiahnya, Megawati menyentuh inti dari misi pendidikan tersebut. Ia mengingatkan bahwa universitas memiliki peran strategis yang jauh melampaui pusat pengetahuan.
“Universitas bukan hanya pusat pengetahuan, tetapi juga ruang bagi pembentukan nilai dan kepemimpinan masa depan. Princess Nourah University berdiri sebagai bukti bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju pemberdayaan perempuan,” ujarnya .
Pernyataan ini selaras dengan gerakan global di berbagai perguruan tinggi yang semakin aktif dalam isu-isu sosial. Seperti halnya Universitas Hasanuddin yang menggandeng Menteri Pemberdayaan Perempuan untuk kuliah umum guna memperkuat peran kampus dalam menciptakan ekosistem yang aman dan setara. Atau UIN Jurai Siwo Lampung yang menjalin kerjasama dengan dinas terkait untuk pemberdayaan perempuan . Penghargaan untuk Megawati menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan di level tertinggi dapat menjadi inspirasi nyata bagi sivitas akademika untuk mendorong perubahan sosial.
Legitimasi Global dan Inspirasi bagi Generasi Muda
Penerimaan gelar ini juga menjadi legitimasi global atas kapasitas intelektual dan kepemimpinan Megawati. Ini bukan gelar instan atau penghargaan seremonial belaka. Melainkan pengakuan dari komunitas akademik internasional atas perjalanan panjangnya dalam memimpin negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Prof. Fawziah menegaskan bahwa pengalaman Megawati memimpin Indonesia selaras dengan semangat transformasi di Arab Saudi yang memberikan peran lebih besar bagi perempuan. “Dengan menghormati seorang pemimpin perempuan bersejarah, Princess Nourah bint Abdulrahman University menegaskan kembali misinya untuk memberdayakan perempuan, merayakan kepemimpinan transformatif, dan memajukan nilai-nilai akademik global,” tegasnya .
Bagi para mahasiswa, terutama mahasiswi Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di PNU, pencapaian Megawati menjadi suntikan motivasi. Hal ini membuktikan bahwa pemimpin dari negara mereka diakui di kancah global, dan membuka mata bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai posisi-posisi strategis, sebagaimana diidamkan oleh Visi Saudi 2030.
Mengubah Paradigma: Gelar Kehormatan sebagai Cermin Kontribusi Bangsa
Fenomena pemberian gelar doktor kehormatan di Indonesia seringkali masih berkutat pada paradigma lama yang mengaitkan gelar dengan status sosial dan jabatan . Padahal, seperti yang diungkapkan oleh berbagai ahli, hakikat pendidikan sejati adalah mengajarkan kita untuk hidup bersama dan memberikan kontribusi bagi peradaban .
Kasus Megawati di Arab Saudi ini dapat menjadi katalis untuk mengubah paradigma tersebut. Penghargaan ini mengingatkan publik dan dunia pendidikan bahwa gelar tertinggi di universitas seharusnya diberikan kepada mereka yang telah memberikan kontribusi monumental bagi kemanusiaan, bukan hanya mereka yang mencari legitimasi jabatan . Seperti halnya universitas-universitas di dunia yang memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh seperti Dr. Susan Sherwin atas karyanya di bidang etika feminis , PNU memberikan penghargaan ini atas dasar rekam jejak Megawati yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial dan peran perempuan.
Dengan demikian, gelar doktor kehormatan untuk Megawati dari PNU bukan hanya menjadi catatan manis dalam sejarah diplomatik Indonesia-Arab Saudi. Lebih dari itu, ia menjadi cermin bagi dunia pendidikan tentang bagaimana sebuah penghargaan akademik seharusnya diberikan: dengan penuh kehormatan, berdasarkan kontribusi nyata, dan berdampak luas bagi penguatan nilai-nilai kemanusiaan serta inspirasi bagi generasi penerus bangsa.
Baca juga: Menakar Peluang dan Tantangan Saudi Vision 2030 untuk Indonesia
Referensi:
- Lai, S.Y. (2026). Indonesia’s first woman president awarded honorary doctorate by Princess Nourah University. Diambil https://www.arabnews.com/node/2632485/world.
- Khaerudin, B. (2026). The World’s Largest Women’s University Awards Megawati an Honorary Doctorate. Diambil dari https://www.kompas.id/artikel/en-kampus-khusus-perempuan-terbesar-di-dunia-anugerahi-megawati-doktor-kehormatan.