Transformasi perkotaan Arab Saudi menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan itu tidak hanya terlihat dari pembangunan gedung dan infrastruktur, tetapi juga dari meningkatnya kepemilikan rumah, akses transportasi umum, ruang publik, dan partisipasi masyarakat.
Kepemilikan rumah kini menjadi salah satu indikator utama keberhasilan Saudi Vision 2030. Pada 2016, tingkat kepemilikan rumah keluarga Saudi masih berada di angka 47 persen. Namun, pada akhir 2025, angkanya meningkat menjadi 66,24 persen.
Capaian tersebut melampaui target tahunan 2025 sebesar 65 persen. Arab Saudi pun semakin dekat dengan target kepemilikan rumah sebesar 70 persen pada 2030.
Peningkatan ini memperlihatkan bahwa kebijakan perumahan telah menjadi bagian penting dari reformasi sosial dan ekonomi Arab Saudi. Rumah tidak lagi dipandang sebagai bangunan tempat tinggal semata. Sebaliknya, rumah menjadi bagian dari lingkungan perkotaan yang terhubung dengan transportasi, ruang publik, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja.
Kepemilikan Rumah Menjadi Prioritas Saudi Vision 2030
Pemerintah Arab Saudi menempatkan kepemilikan rumah sebagai salah satu sasaran strategis Saudi Vision 2030. Untuk mencapainya, pemerintah memperluas bantuan perumahan, menyediakan pilihan pembiayaan, dan mengembangkan kawasan hunian baru.
Menteri Urusan Kota dan Perumahan Arab Saudi, Majed bin Abdullah Al-Hogail, menjelaskan bahwa negaranya telah bergerak dari tahap penyusunan kebijakan menuju pelaksanaan program yang memberikan hasil nyata.
Pernyataan itu disampaikan dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai peninjauan jangka menengah Agenda Perkotaan Baru di New York pada Juli 2026. Arab Saudi juga menyerahkan laporan nasional terbarunya kepada United Nations Human Settlements Programme atau UN-Habitat.
Laporan tersebut mendokumentasikan kemajuan Arab Saudi dalam bidang perumahan, mobilitas perkotaan, tata kelola kota, ruang publik, dan pembangunan berkelanjutan. Agenda Perkotaan Baru sendiri diadopsi pada 2016 sebagai kerangka global untuk membangun kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Bantuan Perumahan Memperluas Akses Masyarakat
Program perumahan Arab Saudi tidak hanya menambah jumlah rumah. Program ini juga berupaya memastikan keluarga memiliki akses terhadap pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan ekonominya.
Lebih dari seperempat keluarga Saudi dilaporkan telah menerima manfaat dari layanan dukungan perumahan selama periode 2018–2025. Dukungan tersebut mencakup fasilitas pembiayaan, subsidi, bantuan bagi keluarga berpenghasilan rendah, serta penyediaan proyek hunian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kebijakan tersebut, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh rumah. Pemerintah juga berupaya meningkatkan pasokan hunian agar harga rumah tetap terjangkau.
Kepemilikan rumah memberikan manfaat sosial yang besar. Rumah dapat menciptakan rasa aman, meningkatkan stabilitas keluarga, dan menjadi aset jangka panjang. Selain itu, sektor perumahan menggerakkan kegiatan ekonomi lain, seperti konstruksi, pembiayaan, properti, material bangunan, dan pelayanan perkotaan.
Transformasi Perkotaan Arab Saudi Didukung Ruang Publik
Pembangunan rumah perlu didukung lingkungan yang nyaman. Karena itu, transformasi perkotaan Arab Saudi juga mencakup perluasan ruang terbuka dan fasilitas komunitas.
Luas ruang publik per kapita meningkat dari 5,2 meter persegi pada 2021 menjadi 6,9 meter persegi pada 2024. Sekitar 74,89 persen penduduk juga telah memiliki akses terhadap ruang publik.
Selain itu, Program Bahja telah menambah lebih dari 12 juta meter persegi ruang komunitas. Kawasan tersebut dapat digunakan untuk rekreasi, olahraga, kegiatan sosial, dan interaksi antarmasyarakat.
Ruang publik memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup. Penduduk kota tidak hanya membutuhkan rumah, tetapi juga taman, jalur pedestrian, fasilitas olahraga, dan tempat berkumpul yang aman.
Dengan demikian, pembangunan perumahan perlu dilakukan bersama pengembangan fasilitas sosial. Pendekatan tersebut dapat mencegah munculnya kawasan hunian yang terpisah dari pusat aktivitas masyarakat.
Transportasi Umum Menghubungkan Kawasan Hunian
Transportasi menjadi elemen penting dalam transformasi perkotaan Arab Saudi. Kawasan perumahan yang tidak memiliki akses transportasi dapat meningkatkan biaya perjalanan dan memperburuk kemacetan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mengembangkan jaringan metro dan bus perkotaan. Riyadh Metro mencatat lebih dari 100 juta penumpang dalam waktu kurang dari sembilan bulan sejak mulai beroperasi pada Desember 2024.
Sementara itu, jumlah penumpang bus dalam kota di Arab Saudi melampaui 96,8 juta sepanjang 2025. Data tersebut menunjukkan meningkatnya peran transportasi umum dalam mendukung mobilitas masyarakat.
Transportasi umum yang terintegrasi dapat mempersingkat perjalanan dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Masyarakat juga lebih mudah menjangkau tempat kerja, sekolah, pusat perbelanjaan, dan layanan kesehatan.
Hubungan antara perumahan dan transportasi harus menjadi perhatian utama dalam perencanaan kota. Kawasan hunian yang dekat dengan jaringan transportasi akan memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih besar.
Kota yang Lebih Inklusif bagi Perempuan dan Penyandang Disabilitas
Transformasi perkotaan Arab Saudi juga berkaitan dengan perubahan sosial. Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja meningkat dari 22,8 persen menjadi sekitar 36 persen.
Pada saat yang sama, tingkat pekerjaan bagi penyandang disabilitas dilaporkan meningkat dua kali lipat. Perubahan tersebut menunjukkan upaya pemerintah dalam memperluas akses terhadap pekerjaan dan membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Peningkatan partisipasi perempuan turut memengaruhi kebutuhan kota. Pemerintah dan pengembang perlu menyediakan transportasi yang aman, fasilitas penitipan anak, ruang kerja yang mudah diakses, dan lingkungan hunian yang mendukung aktivitas keluarga.
Kota yang inklusif harus memperhatikan kebutuhan seluruh masyarakat. Karena itu, fasilitas publik juga perlu dirancang agar dapat digunakan oleh lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Organisasi Nirlaba Mendorong Partisipasi Masyarakat
Masyarakat sipil ikut berperan dalam pembangunan Arab Saudi. Hingga 2025, jumlah organisasi nirlaba di negara tersebut telah melampaui 7.213 organisasi.
Angka itu menunjukkan pertumbuhan sekitar 341,97 persen dibandingkan kondisi awal Saudi Vision 2030.
Pertumbuhan organisasi nirlaba membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan komunitas, dan pelayanan sosial.
Dengan keterlibatan tersebut, pembangunan perkotaan tidak hanya bergantung pada pemerintah. Sektor swasta dan masyarakat dapat bekerja sama dalam menjawab kebutuhan setiap wilayah.
Keberlanjutan Menjadi Pilar Pembangunan Kota
Pertumbuhan kota yang cepat dapat meningkatkan kebutuhan energi, air, transportasi, dan pengelolaan limbah. Oleh karena itu, pembangunan kawasan perumahan harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Arab Saudi menjalankan Saudi Green Initiative dan National Renewable Energy Program untuk mendukung pembangunan kota yang lebih hijau dan tangguh. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan akibat pertumbuhan ekonomi dan perkotaan.
Pembangunan hunian baru perlu disertai penggunaan energi yang efisien, pengelolaan air, penambahan vegetasi, dan akses menuju transportasi umum.
Ruang terbuka hijau juga membantu menurunkan suhu perkotaan, memperbaiki kualitas udara, dan menyediakan tempat rekreasi bagi masyarakat.
Selain itu, pemanfaatan energi surya dapat membantu memenuhi kebutuhan energi kawasan perkotaan. Langkah tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dalam jangka panjang.
Tantangan Menuju Target Kepemilikan Rumah 70 Persen
Meskipun tingkat kepemilikan rumah telah mencapai 66,24 persen, Arab Saudi masih menghadapi sejumlah tantangan untuk mencapai target 70 persen pada 2030.
Pemerintah perlu menjaga keterjangkauan harga rumah, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah dan kelompok usia muda. Kualitas bangunan, pemerataan lokasi, dan akses terhadap fasilitas publik juga harus diperhatikan.
Pembangunan rumah yang cepat tidak selalu menghasilkan lingkungan yang berkualitas. Rumah perlu terhubung dengan sekolah, fasilitas kesehatan, ruang hijau, angkutan umum, dan pusat kegiatan ekonomi.
Selain itu, pertumbuhan kawasan baru harus memperhatikan risiko perubahan iklim dan ketersediaan sumber daya. Perencanaan yang kurang matang dapat meningkatkan kebutuhan energi, memperpanjang waktu perjalanan, dan menambah tekanan terhadap lingkungan.
Rumah Menjadi Fondasi Perubahan Sosial dan Ekonomi
Kenaikan tingkat kepemilikan rumah dari 47 persen pada 2016 menjadi 66,24 persen pada 2025 menunjukkan kemajuan besar dalam waktu kurang dari satu dekade.
Namun, keberhasilan tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada peningkatan jumlah pemilik properti. Kebijakan perumahan telah menjadi pintu masuk untuk membangun kota yang lebih terhubung, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui bantuan perumahan, pembiayaan, transportasi umum, ruang komunitas, dan program lingkungan, Arab Saudi menjadikan rumah sebagai salah satu fondasi utama transformasi nasional.
Ke depan, keberhasilan transformasi perkotaan Arab Saudi akan bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara pembangunan rumah, keterjangkauan, mobilitas, inklusi sosial, dan kelestarian lingkungan.
Referensi
Elsheikh, E. (2026). Homeownership at the heart of Saudi Arabia’s urban transformation. Leaders MENA.
Kingdom of Saudi Arabia. (2026). Kingdom of Saudi Arabia national report on the implementation of the New Urban Agenda. Urban Agenda Platform.
Saudi Press Agency. (2025). Riyadh Metro reaches 100 million rider milestone in under nine months.
Saudi Press Agency. (2026). Municipalities minister highlights Saudi Arabia’s urban development progress and national transformation indicators at United Nations.
Saudi Vision 2030. (2026). Saudi Vision 2030 annual report 2025. Kingdom of Saudi Arabia.
Saudi Vision 2030. (n.d.). Key performance indicators. Kingdom of Saudi Arabia.
United Nations Human Settlements Programme. (2026). 2026 high-level meeting of the General Assembly on the midterm review of the New Urban Agenda.
United Nations Human Settlements Programme. (2026). Urbanization in Saudi Arabia: Building inclusive and sustainable cities.