Ilustrasi Berbagai Media Sosial (Sumber: Social Media Collection by Ibrahim.ID CC BY 4.0)
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat Arab Saudi berkomunikasi, memperoleh informasi, hingga membangun hubungan sosial. Di tengah transformasi digital yang semakin cepat, Arab Saudi kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memanfaatkan teknologi sekaligus memastikan generasi muda tetap aman di ruang digital.
Dengan penetrasi internet mencapai 99,6 persen, Arab Saudi termasuk negara yang sangat terkoneksi secara digital. Bahkan, laporan Saudi Internet 2025 dari Communications, Space & Technology Commission (CST) menunjukkan bahwa 61,3 persen pengguna internet di negara tersebut menghabiskan setidaknya tujuh jam sehari secara online.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar sarana hiburan. Platform digital telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Saudi.
Media Sosial Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Popularitas berbagai platform menunjukkan betapa kuatnya posisi media sosial di Arab Saudi. WhatsApp menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan dengan tingkat penggunaan 92,7 persen. Setelah itu, Snapchat mencapai 83,6 persen dan TikTok 77 persen.
YouTube juga memiliki tingkat penggunaan yang tinggi, yakni 75,8 persen. Sementara itu, Instagram digunakan oleh 40,8 persen pengguna internet Saudi, disusul X sebesar 34,9 persen.
Besarnya angka tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Saudi semakin terbiasa dengan komunikasi digital. Selain berinteraksi dengan keluarga dan teman, masyarakat juga menggunakan platform online untuk mengikuti berita, berbelanja, memperoleh layanan, serta mencari peluang pendidikan dan pekerjaan.
Transformasi ini berjalan seiring dengan agenda digitalisasi Arab Saudi melalui Saudi Vision 2030. Pemerintah terus memperluas layanan digital, kecerdasan buatan, kota pintar, serta berbagai platform pemerintahan elektronik.
Generasi Muda Menjadi Pengguna Utama
Peran generasi muda sangat penting dalam perkembangan ekosistem digital Arab Saudi. Data yang dikutip Leaders MENA dari General Authority for Statistics menunjukkan bahwa hampir 70 persen penduduk Saudi berusia di bawah 35 tahun.
Karena itu, kebiasaan digital generasi muda akan sangat menentukan arah masyarakat Saudi pada masa depan.
Kelompok usia 10–19 tahun memiliki tingkat penetrasi internet sekitar 99,8 persen. Pada kelompok ini, Snapchat menjadi platform media sosial yang paling banyak digunakan dengan angka 89,3 persen. TikTok berada di posisi berikutnya dengan 82 persen.
Sementara itu, kelompok usia 20–29 tahun lebih banyak menggunakan WhatsApp. Tingkat penggunaannya mencapai 93,7 persen, sedangkan Snapchat berada di angka 91 persen.
Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dan pemuda Saudi tumbuh dalam lingkungan yang hampir sepenuhnya terkoneksi dengan internet.
Di Balik Manfaat, Ada Risiko Digital
Media sosial memberikan banyak manfaat bagi generasi muda. Platform digital dapat menjadi ruang untuk belajar, berkarya, membangun jaringan, serta menemukan peluang baru.
Namun, penggunaan yang semakin intensif juga menghadirkan risiko. Paparan layar yang berlebihan dapat mendorong penggunaan internet secara tidak sehat. Selain itu, anak-anak juga dapat menghadapi perundungan siber, paparan konten yang tidak sesuai usia, penyalahgunaan data pribadi, hingga tekanan komersial.
Risiko tersebut menjadi semakin penting karena anak-anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk memahami konsekuensi dari setiap aktivitas digital mereka.
Sebuah unggahan yang dianggap sederhana hari ini dapat meninggalkan jejak digital dalam waktu yang sangat lama. Karena itu, keamanan digital perlu dipandang sebagai bagian dari pendidikan generasi muda.
Arab Saudi Memperkuat Perlindungan Anak di Dunia Digital
Pertumbuhan media sosial membuat perlindungan anak menjadi salah satu perhatian penting pemerintah Arab Saudi.
Salah satu langkah yang disebutkan dalam laporan tersebut adalah kebijakan General Authority of Media Regulation yang melarang influencer dan kreator menggunakan anak-anak atau pekerja rumah tangga dalam konten gaya hidup maupun konten promosi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak hanya berkaitan dengan keamanan fisik. Perlindungan juga mencakup bagaimana anak ditampilkan dan dimanfaatkan dalam ekosistem ekonomi digital.
Selain itu, terdapat pembahasan mengenai penerapan verifikasi usia dan pembatasan penggunaan platform media sosial bagi pengguna berusia di bawah 16 tahun. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memberikan perlindungan tambahan kepada pengguna yang masih berada dalam usia anak dan remaja.
Perlindungan Data Pribadi Juga Menjadi Kunci
Keamanan anak di internet tidak berhenti pada pembatasan konten. Data pribadi juga menjadi bagian penting dari perlindungan digital.
Arab Saudi telah menerapkan Personal Data Protection Law (PDPL). Regulasi ini memberikan kerangka perlindungan terhadap pemrosesan data pribadi, termasuk data milik anak-anak.
Menurut laporan Leaders MENA, platform digital dibatasi dalam melakukan pengumpulan atau pembuatan profil berdasarkan data pribadi anak-anak berusia di bawah 13 tahun.
Perlindungan semacam ini semakin relevan karena platform digital dapat mengumpulkan berbagai informasi mengenai perilaku penggunanya. Tanpa perlindungan yang memadai, informasi tersebut berpotensi digunakan untuk berbagai kepentingan yang tidak dipahami oleh anak maupun keluarganya.
Tantangan Berikutnya Bukan Menghindari Teknologi
Perkembangan media sosial tidak mungkin dihentikan. Demikian pula, generasi muda tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari teknologi.
Karena itu, pendekatan yang lebih realistis adalah membangun literasi digital.
Anak-anak perlu memahami bagaimana menjaga privasi, mengenali penipuan, menghadapi perundungan siber, memeriksa informasi sebelum membagikannya, serta memahami bahwa tidak semua konten di internet dapat dipercaya.
Pada saat yang sama, orang tua dan sekolah memiliki peran penting. Pengawasan sebaiknya tidak hanya berbentuk larangan, tetapi juga dialog. Anak perlu memahami alasan di balik aturan penggunaan perangkat dan media sosial.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat kemampuan generasi muda, bukan justru menjadi sumber risiko baru.
Menjaga Keseimbangan antara Inovasi dan Keamanan
Arab Saudi sedang membangun salah satu ekosistem digital paling maju di kawasan. Layanan pemerintah elektronik, kecerdasan buatan, kota pintar, dan ekonomi digital terus berkembang sejalan dengan agenda Vision 2030.
Namun, keberhasilan transformasi digital tidak hanya dapat diukur dari kecepatan teknologi berkembang.
Ukuran yang tidak kalah penting adalah kemampuan negara dalam memastikan bahwa masyarakat dapat menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, perlindungan generasi muda menjadi investasi jangka panjang. Mereka bukan hanya pengguna teknologi saat ini, tetapi juga calon inovator, pengusaha, ilmuwan, dan pemimpin Arab Saudi di masa depan.
Dengan demikian, tantangan Arab Saudi bukan memilih antara kemajuan teknologi atau keselamatan anak. Tantangannya adalah memastikan keduanya berkembang secara bersamaan.
Jika media sosial dapat digunakan secara bertanggung jawab, teknologi tidak hanya menjadi ruang komunikasi. Media sosial juga dapat menjadi sarana pendidikan, kreativitas, kewirausahaan, dan pemberdayaan generasi muda Saudi.
Baca juga: WhatsApp Dominasi Aplikasi Pesan di Arab Saudi, Digunakan Lebih dari 90 Persen Pengguna
Referensi:
- Sayed, A. (2026). Social Media Surge: Balancing Tech Leadership and Youth Safety in Saudi Arabia. Diambil dari https://www.leaders-mena.com/social-media-surge-balancing-tech-leadership-and-youth-safety-in-saudi-arabia/.