Kota Riyadh (Sumber: madaproperties.sa)
Riyadh terus berkembang menjadi salah satu kota metropolitan paling dinamis di Timur Tengah. Transformasi besar-besaran melalui program Saudi Vision 2030, masuknya perusahaan multinasional, serta pertumbuhan sektor hiburan dan pariwisata membuat ibu kota Arab Saudi ini semakin menarik bagi ekspatriat dan profesional dari berbagai negara.
Namun, perkembangan tersebut juga membawa konsekuensi berupa kenaikan biaya hidup, terutama pada sektor perumahan. Meski demikian, Riyadh masih dianggap lebih terjangkau dibanding kota-kota global seperti Dubai, London, atau Singapura.
Secara umum, seorang lajang membutuhkan sekitar 3.300–9.800 Saudi Riyal (SAR) atau sekitar Rp14,8 juta–Rp44,1 juta per bulan, tergantung gaya hidup dan lokasi tempat tinggal. Sementara keluarga beranggotakan empat orang membutuhkan sekitar 12.000–16.000 SAR atau Rp54 juta–Rp72 juta per bulan, belum termasuk biaya sekolah internasional. Data ini merupakan gabungan berbagai sumber internasional seperti Numbeo, Expatistan, dan panduan ekspatriat terbaru tahun 2026.
Perumahan: Komponen Terbesar dalam Biaya Hidup
Sewa tempat tinggal merupakan pengeluaran terbesar bagi sebagian besar penduduk Riyadh. Harga sewa sangat dipengaruhi lokasi.
Di kawasan selatan Riyadh yang lebih ekonomis, apartemen dapat disewa mulai 1.500–3.000 SAR per bulan atau sekitar Rp6,75 juta–Rp13,5 juta. Sementara kawasan utara seperti Al Malqa, Hittin, dan Al Nakheel yang populer di kalangan ekspatriat memiliki harga sewa lebih tinggi.
Apartemen satu kamar di kawasan premium dapat mencapai 4.000–9.000 SAR per bulan atau setara Rp18 juta–Rp40,5 juta. Bagi keluarga yang memilih tinggal di compound eksklusif, biaya sewa tahunan dapat mencapai 80.000–150.000 SAR atau sekitar Rp360 juta–Rp675 juta.
Kenaikan permintaan hunian akibat relokasi kantor pusat perusahaan asing ke Riyadh turut mendorong harga properti naik dalam beberapa tahun terakhir.
Makanan dan Kebutuhan Harian Masih Relatif Terjangkau
Meski biaya perumahan meningkat, harga kebutuhan pokok di Riyadh masih relatif kompetitif.
Seorang lajang biasanya menghabiskan 600–1.200 SAR per bulan untuk belanja bahan makanan atau sekitar Rp2,7 juta–Rp5,4 juta. Sementara keluarga kecil membutuhkan sekitar 2.000–4.000 SAR per bulan atau Rp9 juta–Rp18 juta.
Makan di restoran lokal cukup terjangkau, dengan harga menu berkisar 15–40 SAR (Rp67.500–Rp180 ribu). Sedangkan makan di restoran kelas menengah untuk dua orang umumnya memerlukan biaya 100–200 SAR atau sekitar Rp450 ribu–Rp900 ribu.
Namun, perlu diingat bahwa Arab Saudi menerapkan PPN sebesar 15 persen yang turut memengaruhi harga barang dan jasa.
Transportasi: Kota yang Masih Bergantung pada Kendaraan Pribadi
Riyadh dikenal sebagai kota yang ramah kendaraan pribadi. Walaupun jaringan Metro Riyadh telah beroperasi, banyak penduduk masih mengandalkan mobil untuk mobilitas sehari-hari.
Biaya bahan bakar di Arab Saudi tergolong murah. Harga bensin berada di kisaran 2,2 SAR per liter atau sekitar Rp9.900 per liter.
Pengeluaran transportasi, termasuk bahan bakar, perawatan, dan asuransi kendaraan, berkisar 500–1.500 SAR per bulan atau Rp2,25 juta–Rp6,75 juta.
Bagi pengguna transportasi umum, tiket metro berkisar 4–8 SAR per perjalanan, sedangkan kartu langganan bulanan diperkirakan kurang dari 300 SAR atau sekitar Rp1,35 juta.
Utilitas dan Internet: Tagihan Meningkat Saat Musim Panas
Biaya listrik, air, dan internet umumnya berkisar antara 300–800 SAR per bulan atau sekitar Rp1,35 juta–Rp3,6 juta untuk apartemen standar.
Namun, pada musim panas antara Juni hingga September, penggunaan pendingin ruangan meningkat drastis. Akibatnya, tagihan listrik dapat naik signifikan dan menambah pengeluaran hingga 800–1.500 SAR per bulan atau Rp3,6 juta–Rp6,75 juta.
Paket internet rumah berkecepatan tinggi biasanya berada di kisaran 200–400 SAR per bulan atau sekitar Rp900 ribu–Rp1,8 juta.
Pendidikan dan Kesehatan Jadi Pertimbangan Ekspatriat
Bagi keluarga ekspatriat, sekolah internasional menjadi salah satu pengeluaran terbesar. Biaya pendidikan dapat mencapai 30.000–120.000 SAR per anak per tahun atau setara Rp135 juta–Rp540 juta.
Sementara itu, layanan kesehatan di Arab Saudi tergolong berkualitas tinggi. Sebagian besar pekerja asing memperoleh asuransi kesehatan dari perusahaan tempat mereka bekerja.
Konsultasi di klinik swasta umumnya berkisar 100–300 SAR atau sekitar Rp450 ribu–Rp1,35 juta per kunjungan.
Berapa Gaji Ideal untuk Tinggal Nyaman di Riyadh?
Tanpa adanya pajak penghasilan pribadi, Arab Saudi menawarkan daya tarik tersendiri bagi pekerja asing. Seluruh gaji yang diterima praktis menjadi pendapatan bersih.
Seorang lajang umumnya dapat hidup nyaman dengan penghasilan 10.000–15.000 SAR per bulan atau sekitar Rp45 juta–Rp67,5 juta. Sementara keluarga membutuhkan pendapatan sekitar 20.000–35.000 SAR per bulan atau Rp90 juta–Rp157,5 juta, tergantung gaya hidup dan kebutuhan pendidikan anak.
Meski biaya hidup di Riyadh terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi, kota ini masih menawarkan keseimbangan menarik antara peluang karier, kualitas hidup, dan potensi menabung dibanding banyak kota besar dunia lainnya.
Baca juga: Mengupas Gaji dan Upah Pekerja di Arab Saudi – KabarSaudi.com
Referensi:
- Internasional Citizens Insurance. (2026). The Cost of Living in Saudi Arabia. Diambil dari https://www.internationalinsurance.com/countries/saudi-arabia/cost-of-living/?srsltid=AfmBOop18RpK_USCPquJpnVNAO5T8Jr2Ros5Ebp6eZiSGrA9F6kUAeS1.
- Mada Properties. (2025). Cost of Living in Riyadh 2026 | A Complete Guide for Expats & Citizens. Diambil dari https://www.madaproperties.sa/en/blogs/cost-of-living-in-riyadh-2026-or-a-complete-guide-for-expats-and-citizens.
- Numbeo. (2026). Â Cost of Living in Riyadh. Diambil dari https://www.numbeo.com/cost-of-living/in/Riyadh.
- Expatistan. (2026). Â Cost of living in Riyadh, Saudi Arabia. Diambil dari https://www.expatistan.com/cost-of-living/riyadh.