Ilustrasi Penggembala di Jazan (Sumber: SPA)
Di tengah perkembangan zaman, para penggembala di Jazan, Arab Saudi, masih mempertahankan tradisi kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah Tarwi’at Al-Ra’i, yaitu panggilan khas penggembala yang digunakan untuk mengarahkan ternak sekaligus menjaga hubungan manusia dengan alam.
Tradisi lisan ini tidak sekadar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, panggilan penggembala mencerminkan pengetahuan lokal, identitas budaya, dan kearifan masyarakat dalam mengelola peternakan di tengah bentang alam Jazan yang beragam.
Menurut laporan Saudi Press Agency (SPA) dan Arab News pada Oktober 2026, tradisi tersebut masih hidup di antara lembah, pegunungan, dan dataran pesisir Jazan. Keberlangsungannya menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat tetap relevan ketika dipraktikkan secara langsung dalam kehidupan masyarakat.
Penggembala di Jazan Pertahankan Tradisi Tarwi’at Al-Ra’i
Panggilan Tarwi’at Al-Ra’i merupakan tradisi lisan yang telah lama digunakan para penggembala di Jazan. Melalui irama, nada, dan variasi suara tertentu, mereka memberikan isyarat kepada ternak untuk bergerak sesuai kebutuhan.

Setiap panggilan memiliki tujuan berbeda. Ada suara yang digunakan untuk mengumpulkan ternak dan mengarahkannya menuju padang rumput. Ada pula panggilan untuk membawa ternak kembali ketika hari mulai gelap.
Menariknya, ternak dapat mengenali karakter suara penggembalanya dan merespons isyarat yang telah terbiasa mereka dengar. Dengan demikian, suara menjadi sarana komunikasi penting antara manusia dan hewan tanpa harus selalu mengandalkan instrumen modern.
Tradisi ini sekaligus menunjukkan bahwa keterampilan penggembala tidak hanya bertumpu pada pengalaman memelihara ternak. Mereka juga mengandalkan kemampuan mengamati perilaku hewan, memahami kondisi lingkungan, serta menggunakan komunikasi yang sesuai dengan situasi di lapangan.
Mohammed Al-Ghazwani Jaga Warisan Penggembala di Pegunungan Jazan
Salah satu tokoh yang terus menjaga tradisi tersebut adalah Mohammed Al-Ghazwani, pemerhati warisan budaya rakyat yang berasal dari kawasan Balghazi, wilayah administratif Al-Aidabi, Jazan.
Di antara ngarai berbatu dan jalur pegunungan, Al-Ghazwani terus mempraktikkan sekaligus mendokumentasikan panggilan tradisional penggembala. Suaranya menggema di antara perbukitan, menghidupkan kembali tradisi yang telah tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.
Menurut Al-Ghazwani, panggilan penggembala memiliki nilai budaya yang melampaui fungsinya sebagai alat kerja. Tradisi tersebut menyimpan pengetahuan turun-temurun tentang lingkungan, cara hidup masyarakat pedesaan, serta hubungan erat antara manusia, ternak, dan alam.
Karena itu, pelestarian Tarwi’at Al-Ra’i menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya takbenda Jazan. Tradisi ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan praktik budaya yang masih memiliki fungsi nyata hingga sekarang.
Lebih dari 7,8 Juta Ternak Bergantung pada Pengetahuan Penggembala
Besarnya populasi ternak di Jazan memperlihatkan pentingnya peran penggembala bagi kehidupan masyarakat dan perekonomian pedesaan.
Berdasarkan data cabang Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi yang dikutip dalam laporan tersebut, Jazan memiliki sekitar 7,88 juta ekor ternak yang dikelola oleh 23.405 penggembala terdaftar.
Domba menjadi kelompok ternak terbesar, dengan jumlah lebih dari 4 juta ekor. Berikutnya adalah kambing sebanyak lebih dari 3,59 juta ekor, sapi sebanyak 130.161 ekor, serta unta sebanyak 79.478 ekor.
Angka tersebut menunjukkan bahwa peternakan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Jazan. Selain menyediakan sumber pangan, sektor ini turut menopang mata pencaharian penduduk dan mendukung kestabilan ekonomi wilayah pedesaan.
Namun, mengelola jutaan ternak bukan pekerjaan sederhana. Para penggembala harus memahami lokasi padang rumput, perubahan musim, ketersediaan sumber air, dan jenis tumbuhan yang tumbuh di lingkungan setempat.
Mereka juga perlu mengenali perilaku ternak serta menempuh medan yang terkadang terjal dan sulit dilalui. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui pengalaman panjang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Oleh sebab itu, keterampilan penggembala menjadi aset penting dalam menjaga produktivitas peternakan sekaligus mendukung ketahanan pangan regional.
Bentang Alam Jazan Membentuk Kearifan Lokal
Jazan memiliki karakter geografis yang beragam, mulai dari lembah, pegunungan berbatu, hingga dataran pesisir. Kondisi tersebut memengaruhi cara masyarakat menjalankan aktivitas peternakan dan mengembangkan tradisi mereka.
Para penggembala harus menyesuaikan pergerakan ternak dengan karakter medan dan ketersediaan pakan. Mereka juga perlu memperhatikan perubahan musim serta sumber air yang dapat dijangkau.
Dalam konteks ini, Tarwi’at Al-Ra’i menjadi bagian dari pengetahuan ekologis tradisional. Panggilan tersebut membantu penggembala mengatur pergerakan ternak, sementara pengalaman mereka terhadap lingkungan menentukan kapan dan ke mana ternak sebaiknya diarahkan.
Hubungan antara budaya dan alam itu memperlihatkan bahwa tradisi lokal sering kali lahir dari kebutuhan praktis masyarakat. Seiring waktu, praktik yang awalnya berfungsi membantu pekerjaan sehari-hari berkembang menjadi identitas budaya yang memiliki nilai sejarah.
Dengan demikian, melestarikan tradisi penggembala juga berarti menjaga pengetahuan tentang lingkungan yang terbentuk melalui interaksi masyarakat dengan alam selama berabad-abad.
Warisan Penggembala dan Ketahanan Pangan Saling Berkaitan
Pelestarian tradisi penggembala di Jazan tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan sektor peternakan. Pengetahuan tentang padang rumput, perilaku ternak, dan perubahan kondisi alam membantu masyarakat mempertahankan aktivitas produksi ternak.
Di sisi lain, peternakan menyediakan sumber penghidupan bagi banyak keluarga di wilayah pedesaan. Hubungan ini menjadikan penggembala bagian penting dari rantai produksi pangan sekaligus penjaga tradisi lokal.
Ketika pengetahuan tersebut diwariskan kepada generasi muda, masyarakat tidak hanya mempertahankan sebuah kebiasaan lama. Mereka juga menjaga keterampilan yang dapat mendukung keberlanjutan mata pencaharian dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
Oleh karena itu, dokumentasi dan pengenalan tradisi seperti Tarwi’at Al-Ra’i memiliki arti penting. Upaya tersebut dapat membantu generasi berikutnya memahami nilai budaya yang terkandung dalam pekerjaan penggembala, sekaligus mengenali kontribusinya terhadap kehidupan masyarakat.
Jazan Menjaga Identitas Budaya di Tengah Perubahan Zaman
Kisah para penggembala di Jazan menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan dalam bangunan bersejarah, benda kuno, atau koleksi museum. Sebagian warisan justru hidup melalui suara, keterampilan, dan kebiasaan yang terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Panggilan Tarwi’at Al-Ra’i menjadi contoh bagaimana tradisi lisan dapat menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Di balik irama suara yang terdengar di padang rumput dan pegunungan, tersimpan pengetahuan tentang peternakan, lingkungan, dan hubungan manusia dengan hewan.
Pada akhirnya, menjaga warisan penggembala berarti mempertahankan bagian penting dari identitas masyarakat Jazan. Tradisi ini juga mengingatkan bahwa pembangunan modern tetap dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya dan pengetahuan lokal.
Selama para penggembala terus mempraktikkan dan mewariskan keterampilan mereka, suara tradisional Jazan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus pengingat akan hubungan panjang antara manusia, ternak, dan alam.
Baca juga: Arab Saudi Terapkan Aturan Baru Perdagangan Unta, Lindungi Hewan dan Pembeli
Referensi:
- SPA. (2026). Herder’s call preserves ancient heritage in Jazan. Diambil dari https://www.arabnews.com/saudi-arabia/herders-call-preserves-ancient-heritage-in-jazan-3007648.
- SPA. (2026). Herder’s Call Keeps Herding Heritage Alive in Jazan. Diambil dari https://www.spa.gov.sa/en/N2706985.