Ilustrasi Desertifikasi (Sumber: earth.org)
Desertifikasi adalah proses degradasi lahan di wilayah kering, semi-kering, dan sub-lembap yang menyebabkan tanah kehilangan kesuburannya. Fenomena ini dapat dipicu oleh perubahan iklim, kekeringan berkepanjangan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, penggundulan vegetasi, serta praktik pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan.
Akibat desertifikasi, produktivitas tanah menurun, keanekaragaman hayati berkurang, dan risiko krisis pangan serta kelangkaan air meningkat. Karena itu, berbagai negara kini berlomba mengembangkan strategi untuk memulihkan lahan yang terdegradasi dan mencegah meluasnya kawasan tandus.
Di tengah tantangan tersebut, Arab Saudi muncul sebagai salah satu negara yang paling agresif dalam mengembangkan program restorasi lingkungan dan teknologi inovatif untuk memerangi desertifikasi.
Arab Saudi Perkuat Komitmen Melawan Desertifikasi
Peringatan Hari Dunia untuk Memerangi Desertifikasi dan Kekeringan tahun ini menjadi momentum bagi Arab Saudi untuk menunjukkan berbagai pencapaian lingkungan yang telah diraih dalam beberapa tahun terakhir.
Melalui berbagai program yang sejalan dengan Saudi Vision 2030 dan Saudi Green Initiative, Kerajaan terus memperluas upaya rehabilitasi lahan, pemulihan vegetasi, dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Salah satu contoh keberhasilan terlihat di AlUla. Program perlindungan habitat yang dijalankan berhasil merehabilitasi lebih dari 5.100 hektare padang penggembalaan alami. Serta menanam lebih dari 530.000 bibit dari 60 spesies tanaman asli. Hasilnya, tutupan vegetasi di wilayah tersebut meningkat drastis dari hanya 6 persen pada 2018 menjadi 35 persen pada 2025.
Keberhasilan tersebut juga mendapat pengakuan internasional setelah Cagar Alam Sharaan masuk dalam Green List yang diterbitkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Yaitu sebuah pengakuan atas keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan biodiversitas.
Jutaan Hektare Lahan Direstorasi
Upaya memerangi desertifikasi tidak hanya berlangsung di AlUla. Otoritas Pengembangan Cagar Alam Kerajaan Raja Salman melaporkan telah merehabilitasi lebih dari 750.000 hektare lahan terdegradasi dan menanam lebih dari 4 juta bibit pohon di kawasan konservasi tersebut.
Sementara itu, Otoritas Pengembangan Cagar Alam Imam Turki bin Abdullah telah memulihkan lebih dari 38.780 hektare kawasan alami dan menanam hampir satu juta bibit tanaman asli. Lembaga tersebut juga berhasil mendokumentasikan 235 spesies tumbuhan serta mengoperasikan 10 stasiun pemantauan lingkungan yang mendukung pengelolaan sumber daya alam berbasis data ilmiah.
Pencapaian-pencapaian ini menunjukkan bahwa Arab Saudi tidak hanya berfokus pada penghijauan, tetapi juga membangun sistem konservasi yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang.
Teknologi Tanah Baru Jadi Senjata Melawan Desertifikasi
Selain mengandalkan penanaman pohon dan rehabilitasi lahan, Arab Saudi juga mengembangkan pendekatan berbasis sains untuk mengatasi akar permasalahan desertifikasi.
Peneliti dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Prof. Himanshu Mishra, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar pertumbuhan tanaman di wilayah gurun bukan hanya kekurangan air, melainkan rendahnya kemampuan tanah dalam mempertahankan nutrisi.
Temuan tersebut melahirkan teknologi inovatif bernama CarboSoil, yaitu biochar rekayasa yang dirancang khusus untuk kondisi tanah berpasir dan bersifat alkalis seperti yang banyak ditemukan di Arab Saudi.
Dalam uji lapangan selama dua tahun yang melibatkan 580 pohon akasia lokal, lahan yang menggunakan CarboSoil mampu menyerap karbon lebih banyak dibandingkan emisi yang dihasilkan. Sebaliknya, lahan tanpa perlakuan justru menjadi sumber emisi karbon karena penggunaan pupuk dan irigasi.
CarboSoil dibuat dari limbah organik seperti kotoran hewan, pelepah kurma, dan residu pertanian yang diubah menjadi biochar kaya karbon. Teknologi ini membantu tanah menyimpan nutrisi lebih lama, mengurangi kehilangan air, sekaligus meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Inovasi Penghemat Air untuk Wilayah Kering
KAUST juga mengembangkan teknologi pendamping bernama SandX. Teknologi ini berupa lapisan mulsa biomimetik yang terbuat dari butiran pasir dengan lapisan lilin biodegradable berskala nano.
Saat diaplikasikan pada permukaan tanah yang diairi, SandX mampu mengurangi penguapan air hingga 80 persen sehingga lebih banyak air yang terserap oleh akar tanaman. Teknologi ini menjadi solusi penting bagi negara-negara yang menghadapi keterbatasan sumber daya air.
Menurut para peneliti, pendekatan baru ini mengubah paradigma pertanian di wilayah kering. Fokusnya tidak lagi hanya pada peningkatan pasokan air. Tetapi juga pada peningkatan kualitas dan fungsi tanah agar mampu mendukung pertumbuhan vegetasi secara berkelanjutan.
Kolaborasi Regional untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Berbagai pencapaian tersebut turut menjadi topik utama dalam forum pengetahuan regional yang digelar di Al-Jouf oleh National Center for Vegetation Cover Development and Combating Desertification.
Forum tersebut mempertemukan para ilmuwan, organisasi internasional, dan lembaga pemerintah dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman dalam rehabilitasi lahan dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Para peserta sepakat bahwa perluasan tutupan vegetasi, kerja sama regional, dan pengelolaan lingkungan berbasis sains merupakan kunci utama dalam menghadapi ancaman desertifikasi, degradasi lahan, dan kelangkaan air di masa depan.
Arab Saudi Menuju Pemimpin Global Restorasi Lahan
Langkah-langkah yang dilakukan Arab Saudi menunjukkan bahwa desertifikasi bukanlah masalah yang tidak dapat diatasi. Melalui kombinasi kebijakan lingkungan yang ambisius, restorasi ekosistem berskala besar, serta inovasi teknologi tanah dan pengelolaan air, Kerajaan sedang membangun model baru pemulihan lingkungan di kawasan gurun.
Jika upaya ini terus berlanjut, Arab Saudi berpotensi menjadi salah satu contoh global dalam memulihkan lahan terdegradasi sekaligus memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim di wilayah kering dunia.
Referensi:
- Arab News. (2026). Environmental restoration under spotlight on World Desertification Day. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2647632/saudi-arabia.
- Hameed, N. (2026). Saudi Arabia’s new soil technologies offer breakthrough in desert restoration. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2647454/saudi-arabia.