Penyiapan Jaringan Ketenagalistrikan Arab Saudi di Masa Lalu (Sumber: Saudipedia)
Perjalanan listrik di Arab Saudi dimulai pada 1907 ketika dua generator berbahan bakar batu bara dan minyak tanah digunakan untuk menerangi Masjid Nabawi. Langkah ini menandai revolusi besar dalam kehidupan masyarakat, hanya berselang kurang dari tiga dekade sejak dunia mengenal pembangkit listrik pertama.
Tak lama kemudian, Masjidil Haram menyusul pada 1918, menjadikan Makkah sebagai kota pertama yang memiliki penerangan jalan dan rumah berbasis listrik. Dari sinilah fondasi sistem kelistrikan nasional mulai terbentuk.
Ekspansi dan Regulasi Awal
Memasuki 1930-an, pemerintah membentuk komite khusus untuk mengembangkan pembangkit listrik. Lahirnya Undang‑Undang Konsesi Listrik pada 1932 membuka pintu bagi investasi swasta, memicu pembangunan jaringan listrik di berbagai kota seperti Jeddah, Taif, Madinah, hingga Riyadh yang mulai diterangi listrik pada 1948.
Di wilayah timur, perusahaan listrik Dhahran berdiri pada 1950, sementara Aramco turut memproduksi listrik untuk kebutuhan industrinya.
Lahirnya Saudi Electricity Company (SEC)
Seiring meningkatnya kebutuhan listrik nasional, pemerintah memutuskan untuk menyatukan seluruh perusahaan listrik regional. Pada 5 April 2000, Saudi Electricity Company (SEC) resmi berdiri sebagai perusahaan publik terbesar di sektor ketenagalistrikan.
Dengan modal lebih dari SAR 41 miliar, SEC menjadi produsen listrik utama sekaligus pemilik tunggal jaringan transmisi dan distribusi di seluruh Kerajaan. Pemerintah melalui Public Investment Fund menguasai 75,1% saham, sementara Aramco memiliki 6,93%.
Peran Strategis SEC dalam Modernisasi Listrik
SEC memegang peran sentral dalam transformasi energi nasional. Perusahaan ini:
– Menghasilkan lebih dari separuh kebutuhan listrik nasional.
– Mengembangkan sistem jaringan pintar (smart grid) dan ekosistem meter pintar.
– Menyediakan layanan listrik ke lebih dari 10,9 juta pelanggan pada 2022.
– Mengoperasikan jaringan transmisi sepanjang lebih dari 91.000 km.
– Mendorong lokalisasi industri listrik hingga 71% dan tenaga kerja lokal 94%.
Selain itu, SEC memiliki beberapa anak perusahaan strategis, seperti National Grid SA (transmisi), Dawiyat (telekomunikasi berbasis fiber optik), dan Saudi Power Procurement Company (pengadaan energi).
Era Energi Terbarukan: Visi Hijau Arab Saudi
Memasuki milenium ketiga, Arab Saudi mempercepat transisi menuju energi bersih. Berbagai proyek besar diluncurkan untuk mendukung Saudi Green Initiative, termasuk:
- Sudair Solar PV IPP
- Dumat Al‑Jandal Wind Farm
- Ar‑Rass Solar PV Park
- Wadi Al‑Dawasir Solar Project
- Sikaka Solar PV Project
- Shuaibah 1 & 2 Solar PV Project
Proyek‑proyek ini bertujuan meningkatkan kontribusi energi terbarukan, menekan emisi karbon, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Regulasi Modern dan Perlindungan Konsumen
Otoritas Regulasi Listrik Saudi (Saudi Electricity Regulatory Authority) bertanggung jawab mengawasi kualitas layanan, harga yang adil, serta perlindungan konsumen.
Undang‑Undang Listrik 2020 memperkuat kompetisi, memperluas akses listrik ke wilayah terpencil, dan memastikan layanan yang aman, efisien, serta berbiaya rendah.
Otoritas ini juga menyediakan layanan seperti:
- Jejak Konsumsi (Consumption Footprint)
- Pengajuan keluhan pelanggan
- Indikator Kinerja Utama (KPI)
- Shamsi Gate untuk analisis kelayakan panel surya
Masa Depan Listrik Arab Saudi
Dengan visi energi yang semakin berkelanjutan, Arab Saudi menargetkan menjadi eksportir hidrogen bersih terbesar di dunia—baik hidrogen biru maupun hijau.
Integrasi teknologi kecerdasan buatan, efisiensi energi, dan pengembangan industri lokal menjadikan sektor listrik sebagai salah satu pilar utama transformasi ekonomi nasional.
Baca juga: Panduan Penggunaan Listrik, Air, dan Gas di Arab Saudi
Referensi:
- Saudipedia. (2025). Electricity in Saudi Arabia. Diambil dari https://saudipedia.com/en/electricity-in-saudi-arabia.
- Saudipedia. (2026). Saudi Electricity Company. Diambil dari https://saudipedia.com/en/saudi-electricity-company.