Siwak yang Dikenal Sebagai Bahan Alami Pembersih Gigi (Sumber: Saudipedia)
Di tengah hiruk-pikuk pasar modern yang dipenuhi sikat gigi elektrik berteknologi tinggi dan pasta gigi dengan segudang varian rasa, ada sebatang kayu kecil yang tetap kokoh mempertahankan tahtanya. Di Arab Saudi, khususnya, kayu siwak bukan sekadar artefak masa lalu. Ia adalah napas tradisi, sunnah yang hidup, dan kini—ironisnya—sebuah fenomena yang telah dibuktikan oleh sains.
Jika Anda berjalan-jalan di kawasan Rawdah, Riyadh, saat waktu Ashar tiba, Anda mungkin akan melihat pemandangan yang sama seperti yang sudah berlangsung puluhan tahun: para pedagang duduk bersila di depan masjid, dikelilingi ikatan batang siwak segar beraroma khas. Mereka tak hanya menjual kayu, mereka menjaga sebuah warisan.
Lebih dari Sekadar Kayu
Dalam budaya Islam, siwak menempati posisi yang sangat istimewa. Bukan sekadar alat pembersih mulut, ia adalah Sunnah Al-Fitrah—praktik alami yang diajarkan langsung oleh para nabi. Sabda Rasulullah SAW, “Sekiranya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak sholat”, menjadi fondasi mengapa miliaran Muslim di dunia, dari Jazirah Arab hingga pelosok Asia, masih setia pada batang kayu ini.
Di Saudi, momentum penggunaan siwak meningkat drastis selama Ramadan. “Ini musim panen kami,” ujar Sharif Hossain, seorang pedagang asal Bangladesh yang telah puluhan tahun mangkal di Riyadh. Menurutnya, permintaan melonjak hingga 500 persen di Makkah dan Madinah saat bulan puasa tiba. Mengapa? Karena selain sunnah, siwak menjadi solusi praktis bagi mereka yang berpuasa dan ingin menjaga kesegaran mulut tanpa khawatir batal karena pasta gigi.
Yang Sains Katakan tentang Siwak
Jika dulu siwak dianggap sebagai tradisi turun-temurun tanpa dasar ilmiah, kini anggapan itu terbantahkan. Serangkaian penelitian ketat oleh tim dokter gigi di King Saud University (KSU) mengungkap bahwa efektivitas siwak dalam menjaga kebersihan mulut setara, bahkan dalam beberapa aspek melebihi, sikat gigi konvensional.
Apa yang membuat kayu sederhana ini sehebat itu?
Para peneliti menemukan setidaknya 19 zat alami dalam batang siwak dari pohon Salvadora persica (atau yang dikenal lokal sebagai Arak).
Kombinasi zat ini bekerja sinergis:
- Silika alami bertindak sebagai abrasif lembut yang membersihkan noda tanpa merusak enamel.
- Antiseptik alami membunuh bakteri penyebab plak dan bau mulut.
- Asam tanat melindungi gusi dari peradangan dan pendarahan.
- Minyak atsiri merangsang produksi air liur, pelindung alami mulut.
Uniknya, struktur serat siwak yang sejajar dengan gagangnya memungkinkan jangkauan lebih efektif ke sela-sela gigi, area yang sering menjadi titik buta sikat gigi biasa. Dr. Abdul Al-Sharif dari Kementerian Pertanian Saudi bahkan menambahkan, kandungan dalam siwak tidak hanya mencegah karies, tetapi juga menenangkan sakit gigi dan berpotensi menyehatkan pencernaan.
Surga Siwak di Bumi Saudi: Dari Asir hingga Jazan
Tidak semua siwak diciptakan sama. Di Saudi, primadona siwak adalah yang berasal dari pohon Salvadora persica. Pohon perdu yang selalu hijau ini tumbuh subur bagaikan hutan kecil di kawasan selatan, terutama di Asir dan Jazan.
Di daerah pesisir selatan seperti Al-Hijarah dan Al-Wasqah, pohon ini bukan hanya komoditas, tapi juga benteng ekologis. Akarnya yang kuat membantu mencegah desertifikasi di tanah gersang. Panjang ideal siwak berkisar antara 15 hingga 25 cm, seukuran jari. Warna cokelat menandakan siwak kering, sementara hijau menandakan kesegaran dengan kandungan zat aktif lebih tinggi.
Siwak segar memang lebih dihargai. Ia bisa langsung digunakan tanpa direndam. Sebaliknya, siwak kering perlu “dihidupkan” kembali dengan air hingga seratnya mengembang seperti bulu sikat.
Pasar, Regulasi, dan Masa Depan Siwak
Dulu, siwak mudah ditemukan di celah-celah trotoar atau toko kaset tua. Kini, industri siwak di Saudi memasuki babak baru. Otoritas Makanan dan Obat Saudi (SFDA) kini secara aktif mengawasi peredaran siwak. Langkah ini bukan tanpa alasan. Maraknya siwak palsu atau imitasi yang mengandung timbal dan merkuri memaksa pemerintah bertindak tegas.
Kini, konsumen dapat membeli siwak berlabel resmi di apotek dan pusat perbelanjaan, bahkan dalam varian rasa seperti lemon dan mint. Transformasi ini membuktikan bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan esensi.
Di pasar tradisional, model lama masih bertahan. Bandar Al-Harifi, pedagang berusia 65 tahun di Riyadh, mengaku tak pernah sekalipun menginjakkan kaki ke klinik gigi. Ia membeli siwak dari distributor besar seharga SR80 per 100-150 batang, lalu menjualnya kembali dengan harga SR2 hingga SR5 per batang. Selama puncak musim haji dan umrah, omzetnya bisa mencapai SR350 per hari. “Saya membeli siwak jenis Al-Arak, Al-Hulai, dan Abu Hans. Tapi Al-Arak, itu yang paling mahal dan paling dicari,” katanya.
Memilih Siwak yang Tepat
Bagi Anda yang baru ingin memulai, berikut panduan singkat ala KabarSaudi.com:
- Kenali Bahannya: Pastikan siwak Anda dari pohon Arak atau Olive. Hindari siwak dari pohon beracun atau yang terlalu pahit.
- Rasakan Teksturnya: Siwak segar lebih lembab dan mudah dibentuk seratnya.
- Beli di Tempat Resmi: Cari kemasan dengan izin edar SFDA untuk menghindari kontaminasi logam berat.
- Cara Pakai: Kupas ujungnya 1 cm, kunyah perlahan hingga seperti kuas, lalu gosok gigi seperti biasa—tanpa pasta gigi. Gunting bagian yang sudah rusak untuk mendapatkan serat baru.
Dari sudut pandang kesehatan, spiritualitas, dan ekonomi, siwak bukanlah sekadar barang usang. Di Arab Saudi, ia adalah bukti bahwa tradisi yang baik tidak akan pernah usang. Ia berakar di tanah suci, dan kini cabang-cabangnya menjulur hingga ke seluruh dunia, membawa kesegaran dan keberkahan di setiap helai seratnya.
Selamat bersiwak, selamat menjaga sunnah.
Baca juga: Bagaimana Arab Saudi Menentukan Tanggal 1 Ramadhan: Tradisi, Sains, dan Peran Mahkamah Agung
Referensi:
- Saudipedia. (2025). Siwak. Diambil dari https://saudipedia.com/en/siwak.
- Khan, G.A. (2014). Miswak: Sticking with tradition…. Diambil dari https://www.arabnews.com/news/600641.