Kehidupan sebagai warga asing atau ekspatriat di Arab Saudi menawarkan berbagai peluang dan petualangan. Dengan program reformasi ekonomi dan sosial yang ambisius, yaitu Vision 2030, Kerajaan Arab Saudi sedang bertransformasi menuju era baru yang akan memberikan manfaat bagi warga lokal dan ekspatriat.
Hidup di Arab Saudi
Sebagai negara terbesar di Timur Tengah, Arab Saudi memiliki populasi sekitar 33 juta jiwa, di mana 37,7% di antaranya adalah ekspatriat. Pada tahun 2018, sekitar 12,6 juta ekspatriat tinggal di negara ini. Arab Saudi dikenal sebagai negara kaya minyak dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar seperlima dari total cadangan global. Sebagai produsen minyak terbesar kedua setelah Amerika Serikat dan eksportir minyak terbesar dunia, negara ini memiliki pengaruh strategis, politik, dan ekonomi yang signifikan.
Arab Saudi juga merupakan rumah bagi situs-situs suci Islam, termasuk Mekah dan Madinah, yang menjadikan agama sebagai pusat kehidupan sehari-hari. Dengan luas wilayah sekitar dua kali ukuran Eropa Barat, negara ini didominasi oleh gurun pasir seperti Rub Al Khali, salah satu gurun pasir terbesar di dunia. Karena hanya 1% tanahnya dapat digunakan untuk pertanian, Arab Saudi mengimpor sebagian besar kebutuhan pangannya.

Kualitas hidup di Arab Saudi bervariasi. Riyadh dan Jeddah, dua kota terbesar, masing-masing berada di peringkat ke-164 dan ke-168 dalam indeks kualitas hidup yang diterbitkan oleh Mercer. Meskipun memiliki standar layanan kesehatan dan akomodasi yang tinggi bagi ekspatriat, biaya hidup di negara ini tergolong mahal. Hukum yang ketat juga membatasi perilaku sehari-hari.
Geografi dan Kota Utama
Arab Saudi mencakup sekitar 80% dari Semenanjung Arab dengan luas 2,15 juta kilometer persegi. Negara ini berbatasan dengan laut Merah di barat dan Teluk Arab di timur, menjadikannya jalur strategis perdagangan internasional. Terdapat 13 wilayah administratif di Arab Saudi, dengan Provinsi Timur sebagai yang terbesar. Terdapat kota terbesar di Arab Saudi yaitu Riyadh Jedda, dan Dammam.
Sebagai ibu kota, Riyadh adalah pusat pemerintahan dan tempat tinggal keluarga kerajaan dengan populasi sekitar tujuh juta jiwa. Kota ini sedang membangun sistem transportasi umum terintegrasi terbesar di dunia, termasuk proyek metro senilai $27 miliar yang akan mencakup 176 km jalur dengan 85 stasiun. Riyadh memiliki komunitas ekspatriat yang signifikan, terutama di sektor proyek infrastruktur besar.
Kota terbesar berikutnya adalah Jeddah. Terletak di pantai Laut Merah, Jeddah adalah pusat perdagangan dan ekonomi yang memiliki pelabuhan kargo terbesar di negara ini. Sebagai gerbang menuju Mekah dan Madinah, Jeddah juga merupakan titik transit bagi jutaan jemaah haji setiap tahunnya. Kota ini menawarkan pemandangan pegunungan dan pantai yang indah serta fasilitas transportasi modern seperti kereta cepat haramain.
Kemudian, ada Dammam, wilayah metropolitan ini adalah jantung ekonomi Arab Saudi dan pusat industri minyak. Dengan populasi sekitar 4,5 juta jiwa, banyak ekspatriat bekerja untuk perusahaan besar seperti Saudi Aramco dan Sabic. Kota ini juga menjadi rumah bagi fasilitas industri terbesar di dunia.
Arab Saudi memiliki ekonomi terbesar ke-18 di dunia dengan PDB sekitar $700 miliar. Negara ini tidak mengenakan pajak penghasilan, tetapi memberlakukan PPN sebesar 15% sejak 2018. Proyek ambisius seperti NEOM, sebuah kota pintar senilai $500 miliar, sedang dalam pembangunan di bagian barat laut negara ini.
Masyarakat dan Budaya
Populasi Arab Saudi didominasi oleh kaum muda, dengan dua pertiga penduduknya berusia di bawah 35 tahun. Agama Islam adalah agama resmi, dan hukum Syariah menjadi dasar legislasi. Meskipun ekspatriat tidak dapat secara langsung memperoleh kewarganegaraan, ada peluang melalui pernikahan dengan warga negara Saudi.
Bahasa Arab adalah bahasa nasional, namun bahasa Inggris banyak digunakan dalam komunikasi bisnis sehari-hari, terutama di kota-kota besar seperti Riyadh, Jeddah, dan Dammam. Ekspatriat diharapkan menghormati norma-norma sosial konservatif, termasuk cara berpakaian dan perilaku di tempat umum.
Arab Saudi sedang mengalami transformasi besar dalam aspek sosial dan budaya. Acara musik, teater, dan olahraga internasional kini menjadi bagian dari kehidupan sosial di negara ini. Selain itu, makanan lokal seperti kabsa dan ghoozi menjadi daya tarik kuliner yang menggugah selera.
Namun, penting untuk dicatat bahwa alkohol dan produk babi dilarang di Arab Saudi. Meskipun begitu, keberagaman makanan internasional tersedia karena keberadaan komunitas ekspatriat yang besar.
Pendidikan dan Kesehatan
Ekspatriat memiliki akses ke sekolah internasional berkualitas di kota-kota besar. Dalam bidang kesehatan, Arab Saudi memiliki rumah sakit dan fasilitas medis yang sangat baik. Asuransi kesehatan swasta wajib bagi ekspatriat, sementara pekerja di sektor publik dapat menggunakan fasilitas kesehatan negara.
Tingkat Kriminalitas dan Kecelakaan Lalu Lintas
Sistem peradilan Saudi didasarkan pada hukum Syariah. Kejahatan serius jarang terjadi di Arab Saudi. Sebagai ekspatriat, sangat kecil kemungkinan Anda akan menjadi korban kejahatan serius. Sebagai ekspatriat, kemungkinan besar Anda akan berinteraksi dengan polisi di jalan raya. Sayangnya, catatan keselamatan jalan raya Arab Saudi sangat buruk; negara ini memiliki tingkat kematian lalu lintas jalan raya sebesar 28,8 per 100.000 orang.
Pelaku impor dan distributor narkoba dapat dihukum mati. Selain itu, kejahatan kecil seperti pencurian dan perampasan ponsel tidak jarang terjadi di daerah ramai seperti pasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini juga mulai lebih fokus pada antikorupsi.
Peluang Kerja dan Bisnis di Arab Saudi
Arab Saudi menjadi tujuan utama para ekspatriat untuk bekerja. Hal ini disebabkan oleh gaji yang kompetitif untuk posisi dengan keahlian tertentu serta tidak adanya pajak penghasilan. Meskipun harga minyak yang lebih rendah dan dinamika geopolitik di kawasan ini memengaruhi ekonomi, peluang kerja bagi ekspatriat tetap terbuka lebar.
Industri minyak dan berbagai industri pendukungnya masih menjadi sektor utama yang mempekerjakan ekspatriat di Arab Saudi. Selain itu, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan kewirausahaan serta penciptaan usaha kecil dan menengah (UKM). Namun, hanya sedikit ekspatriat yang memilih jalur ini karena adanya hambatan birokrasi, seperti keharusan memiliki mitra bisnis warga Saudi, biaya awal yang tinggi, dan ketidakpastian prosedur yang seringkali menyulitkan.
Kebijakan visa yang ketat di Arab Saudi membuat ekspatriat jarang datang untuk mencari pekerjaan tanpa persiapan. Sebelum berangkat ke Kerajaan, perusahaan pemberi kerja akan mengurus izin kerja dan tinggal (iqama) untuk calon karyawan. Proses ini mengharuskan kandidat untuk melewati pemeriksaan keamanan, memiliki kualifikasi pendidikan yang relevan, serta menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Sebagian besar ekspatriat yang bekerja di Arab Saudi juga memilih untuk tinggal tanpa membawa keluarga mereka.
Tingkat pengangguran di kalangan warga Saudi mencapai 8,2%. Meski demikian, banyak generasi muda Saudi yang menempuh pendidikan di universitas ternama di luar negeri maupun di Arab Saudi. Sebagian besar dari mereka kembali ke tanah air untuk memulai karier mereka.
Undang-undang ketenagakerjaan Arab Saudi mewajibkan perusahaan mempekerjakan sejumlah tertentu warga negara Saudi sebagai bagian dari kebijakan Saudisasi. Persentase tenaga kerja lokal yang diwajibkan bergantung pada sektor usaha perusahaan tersebut.
Meskipun sistem kerja di Arab Saudi menawarkan peluang yang menarik, ekspatriat harus memahami berbagai tantangan yang ada, termasuk regulasi ketenagakerjaan yang ketat dan budaya kerja yang berbeda. Namun, bagi mereka yang memiliki keterampilan dan kualifikasi yang sesuai, Arab Saudi tetap menjadi destinasi yang menjanjikan.
Dengan adanya fokus pemerintah pada diversifikasi ekonomi melalui program Vision 2030, peluang di sektor non-minyak seperti teknologi, kesehatan, dan pariwisata juga semakin berkembang. Hal ini memberikan opsi lebih luas bagi ekspatriat yang ingin bekerja di Arab Saudi, tidak hanya terbatas pada industri minyak. Arab Saudi terus bertransformasi, dan dengan perubahan ini, para profesional internasional diundang untuk menjadi bagian dari perjalanan pembangunan ekonomi dan sosial negara ini.
Meluruskan Mitos Tentang Arab Saudi
- Wanita Harus Mengenakan Jubah Hitam. Meskipun banyak wanita di Arab Saudi masih mengenakan abaya, pakaian ini sebenarnya tidak diwajibkan kecuali di lokasi-lokasi religius tertentu. Namun, wanita tetap diharapkan berpakaian secara sopan.
- Arab Saudi Selalu Panas. Bertentangan dengan anggapan umum, beberapa wilayah di Arab Saudi memiliki suhu yang cukup sejuk pada musim dingin. Suhu rata-rata di bulan Desember berkisar antara 14–23 derajat Celsius. Bahkan, di daerah pegunungan, salju dan es dapat ditemukan.
- Tidak Ada Hiburan di Arab Saudi. Arab Saudi menawarkan banyak pilihan hiburan, meskipun tidak melibatkan bar atau alkohol. Pengunjung dapat menikmati pantai yang menakjubkan, festival yang meriah, serta acara hiburan berbahasa Inggris.

Referensi :
- Lazell, M. (2024). An introduction to Saudi Arabia. Diambil dari https://www.expatica.com/sa/moving/about/an-introduction-to-saudi-arabia-71251/ .
- Mercer.(2024). Quality of Living City Ranking 2024. Diambil dari Quality of Living City Ranking 2024 .
2 thoughts on “Sekilas Kehidupan Warga Asing di Arab Saudi”