Arab Saudi diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri keuangan syariah global di tahun 2025, didukung oleh ekspansi ekonomi non-migas, penerbitan sukuk yang kuat, dan berbagai kebijakan pro-keuangan syariah dalam kerangka Vision 2030. Hal ini diungkap dalam analisis terbaru dari S&P Global Ratings.
Visi 2030 Jadi Mesin Pertumbuhan Utama
Transformasi ekonomi Arab Saudi melalui Vision 2030 telah memperkuat sistem perbankan dan menarik perhatian investor global. Diversifikasi ekonomi dan pengurangan ketergantungan pada sektor migas membuat sektor keuangan syariah tumbuh signifikan.
S&P menyebut bahwa perbankan syariah akan menjadi salah satu pilar utama dalam menopang pertumbuhan aset keuangan syariah di kawasan Timur Tengah.
Pasar Sukuk Dikuasai Arab Saudi
Pada kuartal pertama tahun 2025, Arab Saudi mencatatkan dominasi dalam penerbitan sukuk dan obligasi, dengan nilai mencapai $31,01 miliar dari 41 penerbitan—setara 60,2% dari total penerbitan di kawasan GCC (Gulf Cooperation Council).
Negara lain seperti UEA, Qatar, Bahrain, dan Oman, serta negara Asia seperti Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh turut memperkuat pertumbuhan industri ini, meskipun Arab Saudi tetap menjadi penggerak utama.
Aset Perbankan Syariah Tumbuh Kuat
Industri keuangan syariah global mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 10,6% pada tahun 2024, dengan nilai sukuk yang beredar menembus $1 triliun untuk pertama kalinya.
Aset perbankan menyumbang sekitar 60% dari total pertumbuhan industri keuangan syariah. Wilayah GCC berkontribusi sebesar 81%, dan Arab Saudi menyumbang dua pertiga dari angka tersebut.
Proyeksi Positif hingga 2026
Menurut Mohamed Damak, Kepala Divisi Keuangan Syariah di S&P Global Ratings, kebutuhan pembiayaan untuk program transformasi ekonomi Arab Saudi akan tetap tinggi. Preferensi terhadap instrumen syariah seperti sukuk juga diperkirakan meningkat, terutama di tengah ketidakpastian global.
Harga minyak yang diprediksi berada pada kisaran $65–$70 per barel pada 2025–2026 juga akan menopang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.
Sukuk Berkelanjutan: Fokus Baru di 2025
Penerbitan sukuk berkelanjutan diperkirakan mencapai $10–$12 miliar pada 2025. Panduan terbaru dari International Capital Market Association memungkinkan lebih banyak aset digunakan sebagai dasar sukuk selama digunakan untuk proyek hijau atau sosial.
Pada 2024, Arab Saudi menyumbang 38% dari total penerbitan sukuk global, sementara UEA mencatat penurunan signifikan dalam penerbitan sukuk berkelanjutan.
Tantangan: Standar Baru dan Volatilitas Pasar
Meskipun prospeknya cerah, industri ini menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah implementasi Shariah Standard 62 dari AAOIFI yang dapat mengubah struktur sukuk dari instrumen utang menjadi lebih mirip ekuitas. Perubahan ini berisiko menurunkan minat investor pendapatan tetap jika struktur dan biaya penerbitan menjadi kurang kompetitif.
Penutup: Peluang Lebih Besar dari Tantangan
Dengan kekuatan fundamental ekonomi non-migas, kebijakan progresif, dan dominasi pasar sukuk, Arab Saudi siap memimpin pertumbuhan industri keuangan syariah global pada 2025. Adaptasi terhadap perubahan regulasi dan tren keberlanjutan akan menjadi kunci sukses dalam mempertahankan posisi ini.
Baca juga : Arab Saudi Ubah Prosedur Baru Penamaan Dagang: Peluang Baru untuk Pengusaha!
📚 Referensi:
- Nirmal Narayanan. (2025). Saudi Arabia to drive Islamic finance growth in 2025, S&P says. Arab News. Diakses dari https://arab.news/mzx32