Ilustrasi Makanan Sehat untuk Pemenuhan Nutrisi di Bulan Ramadhan (Sumber: Arab News)
Bulan suci Ramadan 2026 kali ini hadir dengan nuansa berbeda karena bertepatan dengan musim dingin. Di Arab Saudi, perubahan musim ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang tersendiri dalam menjaga asupan nutrisi selama berpuasa. Para ahli gizi dan kebugaran menekankan pentingnya persiapan bertahap dan pemilihan makanan yang ramah pencernaan agar ibadah puasa berjalan lancar dan bermanfaat bagi kesehatan.
Di sisi lain, bagi para ibu, Ramadan sering kali menjadi “kekacauan yang terkendali”. Menyeimbangkan tuntutan pekerjaan, rumah tangga, dan pengasuhan anak sambil tetap berpuasa membutuhkan strategi khusus. kabarsaudi.com merangkum panduan lengkap dari para pakar untuk membantu Anda menjalani Ramadan dengan penuh energi dan keberkahan.
Kunci Utama Menghindari “Kaget” Pencernaan
Amal Althayed, seorang spesialis diet klinis, menyoroti pentingnya “persiapan cerdas” sebelum Ramadan tiba. Hal ini sangat krusial, terutama bagi mereka yang memiliki sindrom iritasi usus besar (IBS) atau gangguan pencernaan lainnya.
Mulai 1 hingga 10 hari sebelum Ramadan, Anda disarankan untuk secara bertahap menunda waktu makan malam dan mengurangi porsi makan di siang hari. Metode ini membantu menyesuaikan jam biologis tubuh dan sistem pencernaan dengan ritme puasa yang akan datang. Dengan begitu, saat hari pertama puasa tiba, tubuh tidak mengalami “kaget” yang dapat memicu masalah pencernaan.
Strategi Nutrisi Selama Ramadan: Dari Buka hingga Sahur
Baik Anda seorang pekerja kantoran, atlet, atau ibu rumah tangga, prinsip dasar nutrisi saat berpuasa tetaplah sama: keseimbangan dan kualitas.
Saat Berbuka (Iftar): Awali dengan Lembut
Para ahli sepakat bahwa berbuka sebaiknya dimulai secara bertahap. Mulailah dengan cairan hangat seperti air putih atau teh herbal, dan beberapa butir kurma dalam jumlah sedang. Konsumsi karbohidrat sederhana dan protein ringan yang mudah dicerna.
- Pilihan Tepat: Kaldu tulang (bone broth) adalah pilihan sangat baik untuk memulihkan energi tanpa membebani lambung.
- Hindari Dulu: Makanan bergoreng dan legum (kacang-kacangan) berat yang dapat memicu kembung.
Untuk hidangan utama, koki eksekutif Mahmoud Shaheen dari Spread di Riyadh menyarankan penggunaan metode memasak yang lebih sehat seperti memanggang atau slow cooking. Padukan protein berkualitas tinggi seperti ayam atau daging tanpa lemak dengan sayuran, nasi merah, atau gandum utuh. Untuk rempah, gunakan bumbu musim dingin yang ringan seperti kapulaga, kayu manis, dan jinten untuk menambah cita rasa tanpa membebani tubuh, serta kurangi penggunaan sodium berlebih.
Saat Sahur: Kunci Energi Seharian
Sahur adalah fondasi energi Anda. Fokuskan pada kombinasi protein dan serat larut yang dapat memberikan rasa kenyang lebih lama. Contoh ideal adalah telur rebus dengan roti gandum utuh. Sebaliknya, batasi konsumsi gula sederhana dan karbohidrat olahan karena dapat memicu lonjakan dan penurunan energi drastis di siang hari. Hindari pula konsumsi stimulan berat seperti kopi kental, cokelat, dan makanan manis tinggi gula menjelang tidur karena dapat mengganggu sistem pencernaan dan memperburuk gejala, terutama bagi penderita IBS.
Tips Khusus untuk Para Atlet: Menjaga Massa Otot dan Performa
Bagi Anda yang aktif berolahraga, tantangan terbesar saat Ramadan di musim dingin bukanlah dehidrasi, melainkan kurangnya asupan kalori dan protein. Khaled Alhasher, CEO Next Stage, perusahaan spesialis suplemen makanan, memberikan strategi berikut:
- Protein Tepat Waktu: Awali buka dengan protein yang cepat dicerna. Akhiri malam dengan protein kasein (slow-digesting) sebelum tidur untuk mencegah kerusakan otot saat berpuasa.
- Nutrisi Pasca-Olahraga: Jika berolahraga, lakukan dengan intensitas ringan hingga sedang menjelang berbuka. Segera setelahnya, konsumsi makanan yang mengandung protein dan karbohidrat untuk memulihkan energi.
- Suplemen Pendukung: Konsumsi suplemen seperti kreatin sebelum olahraga. Selama berpuasa, hindari suplemen BCAA.
- Target Protein: Pastikan asupan protein harian Anda cukup, yaitu sekitar 1,6 hingga 2,2 gram per kilogram berat badan.
- Hidrasi: Meski rasa haus berkurang di musim dingin, tetap penuhi kebutuhan cairan dengan minum air putih secara berkala saat tidak berpuasa.
Alhasher menambahkan, suplemen seperti vitamin D, magnesium, zinc, dan omega-3 juga penting untuk mengatasi defisiensi, mendukung imunitas, dan membantu pemulihan otot. Namun, ingatlah bahwa suplemen bersifat melengkapi, bukan menggantikan pola makan sehat. Prioritaskan selalu kecukupan kalori, protein, dan kualitas tidur.
Menjaga Keseimbangan Emosional dan Fisik bagi Ibu Selama Ramadan
Bagi para ibu, Ramadan menghadirkan lapisan tantangan ekstra. Elaf Trabulsi, seorang ibu dengan bayi 18 bulan, menggambarkannya sebagai “kekacauan yang terkendali”. Perubahan jadwal tidur menjadi masalah utama, di mana ibu harus beradaptasi dengan jam biologis anak yang tidak kenal waktu sahur.
Tips untuk Para Ibu:
- Rencanakan dan Fleksibel: Memiliki struktur yang jelas untuk pekerjaan dan rumah tangga sangat penting, namun bersiaplah untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak yang tidak terduga.
- Cari Momen Tenang: Temukan “kantong-kantong ketenangan” untuk beribadah, meski hanya beberapa menit, misalnya setelah anak tidur atau di sela-sela perjalanan.
- Atur Ekspektasi: Hana Barakat, seorang pelatih produktivitas dan konsultan terapi okupasi, menyarankan para ibu untuk tidak memaksakan diri. “Ukur produktivitas dari konsistensi, bukan kuantitas. Ramadan yang lebih tenang tetaplah Ramadan yang penuh spiritualitas.”
- Kelola Emosi: Kombinasi rasa lapar dan kurang tidur dapat membuat sistem saraf lebih sensitif. Ini adalah respons fisiologis yang normal. Kurangi tugas yang tidak esensial untuk menjaga energi dan stabilitas emosi.
- Terima Dukungan Praktis: Dukungan dari pasangan dan keluarga harus bersifat praktis, seperti membantu tugas rumah tangga atau menjaga anak, agar ibu memiliki waktu istirahat yang cukup.
Baca juga: Tradisi Ramadan di Arab Saudi: Harmoni Ibadah, Budaya, dan Kehangatan Komunitas
Referensi:
- Alshammari, H. (2026). Smart nutrition for a winter Ramadan. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2633562/saudi-arabia.
- Nadeem, N. (2026). Motherhood during Ramadan. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2635508/saudi-arabia.