Budaya dan Cita Rasa Kuliner Madinah (Sumber: Peek)
Madinah bukan hanya kota spiritual yang menjadi tujuan jutaan peziarah setiap tahun, tetapi juga rumah bagi salah satu tradisi gastronomi paling kaya dan berlapis sejarah di Arab Saudi. Gelar UNESCO Creative City of Gastronomy yang diraih pada November 2025 menjadi bukti bahwa kuliner Madinah bukan sekadar hidangan—melainkan perjalanan budaya yang hidup, diwariskan, dan terus berkembang dari generasi ke generasi.
Di sisi lain, karakter Madinah sebagai kota oasis yang tumbuh pesat tanpa kehilangan jati dirinya juga tercermin dalam hidangan-hidangan tradisional yang tetap dicintai hingga kini. Perpaduan dua narasi ini membentuk kisah kuliner yang unik: hangat, penuh memori, dan selalu mengundang untuk kembali.
Jejak Rasa yang Dibentuk oleh Rumah, Keluarga, dan Waktu
Chef Heba Ramadan, seorang juru masak tradisional asal Madinah, menggambarkan kuliner kota ini sebagai “rasa yang dibentuk oleh rumah masing-masing.” Setiap keluarga memiliki cara berbeda dalam memasak hidangan yang sama—dan perbedaan itu justru menjadi kekuatan identitas kuliner Madinah.
Contohnya adalah nasi Madini, hidangan ikonik yang hampir setiap keluarga punya versinya sendiri. Ada yang menambahkan saffron, ada yang menghilangkannya karena selera sang kakek, dan ada pula yang memodifikasi bumbunya sesuai tradisi keluarga.
Begitu pula dengan sup gandum, hidangan hangat yang populer di Madinah dan wilayah Hijaz. Ada yang memasaknya dengan susu sapi, susu kambing, tanpa susu, bahkan dengan tomat—sebuah pengaruh dari keluarga-keluarga asal Makkah yang menetap di Madinah.
Di Madinah, resep bukanlah teks suci. Ia adalah organisme hidup yang berubah mengikuti waktu, selera, dan kondisi sosial.
Madinah: Titik Temu Rasa dari Penjuru Dunia
Sejak berabad-abad lalu, Madinah menjadi tempat singgah para peziarah dari berbagai negara. Dahulu, mereka tinggal berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Dari pertemuan panjang itulah terjadi pertukaran budaya, termasuk dalam hal makanan.
Para peziarah membawa rempah, teknik memasak, dan bahan-bahan khas negara mereka. Madinah menyerap semuanya, lalu mengolahnya menjadi versi lokal yang tetap mempertahankan karakter “Madini.”
Salah satu contoh adaptasi ini adalah Kabuli rice, nasi berbumbu dengan kulit jeruk dan perasan citrus yang dipercaya lahir dari interaksi lintas budaya tersebut.
Inilah alasan mengapa kuliner Madinah terasa akrab bagi banyak bangsa, namun tetap memiliki identitas yang jelas.
Dapur Tradisional yang Bertahan di Tengah Modernitas
Meski gaya hidup modern membuat banyak orang memilih bahan instan atau proses memasak yang lebih cepat, hidangan tradisional Madinah tetap bertahan. Sebagian resep bahkan berkembang karena kebutuhan zaman.
Misalnya, jareesh, yang awalnya hanya dimasak dengan buttermilk tanpa protein. Seiring waktu, para ibu menambahkan ayam atau daging agar lebih bergizi bagi anak-anak mereka.
Namun, Chef Heba mengingatkan bahwa ada kekhawatiran: generasi muda semakin jarang menghabiskan waktu di dapur. Padahal, keterampilan seperti mengenali bumbu dari aroma hanya bisa dipelajari dengan praktik langsung bersama orang tua atau nenek—bukan dari buku resep.
Madinah Hari Ini: Kota Modern dengan Jiwa Kuliner Tradisional
Meski berkembang pesat, Madinah tetap mempertahankan karakter historisnya sebagai kota oasis yang ramah dan penuh kehangatan. Wisatawan yang datang tidak hanya menemukan tempat-tempat suci, tetapi juga hidangan tradisional yang mencerminkan akar budaya kota ini.
Dari nasi Madini, sup gandum, hingga hidangan-hidangan khas lainnya, kuliner Madinah menawarkan pengalaman yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghubungkan pengunjung dengan sejarah panjang kota suci ini.
Baca juga: Madinah Menuju Kota Hijau Berkelas Dunia: Inovasi Tata Kelola, Ekowisata, dan Revolusi Penghijauan
Referensi:
- Aboalsaud, T. (2025). Madinah’s culinary identity lends itself to shared cross-cultural connection. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2627461/saudi-arabia.
- Visit Saudi. (2024). Medina on a Plate. Diambil dari https://www.visitsaudi.com/en/stories/medina-plate.