KAFD telah mencapai sertifikasi LEED ND Platinum (Sumber: Arab News)
Riyadh sedang menulis ulang definisi kota masa depan. Di tengah ambisi Vision 2030, dua proyek monumental—King Abdullah Financial District (KAFD) dan transformasi Burj Al Khazzan—menjadi simbol nyata dari transisi menuju kota hijau yang terintegrasi, berkelanjutan, dan manusiawi.
KAFD: Kota Finansial yang Menjadi Laboratorium Urbanisme Hijau
Di jantung ibu kota, KAFD bukan sekadar distrik bisnis. Ia adalah eksperimen urban terbesar di kawasan, dengan skywalk sepanjang 15,46 km yang menghubungkan 95 gedung secara berkelanjutan. Jalur pejalan kaki ber-AC ini bukan hanya memecahkan rekor dunia Guinness, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan emisi karbon secara signifikan.
Faddy Al-Aql, Chief Asset Delivery Officer KAFD, menyebutnya sebagai “tabung yang menghubungkan semua zona, terinspirasi dari arsitektur Najdi.” Ia menambahkan, “Skywalk ini dibangun untuk pergerakan yang mulus tanpa tanjakan, memudahkan orang berpindah antara kantor, rumah, dan pusat aktivitas.”
KAFD juga telah meraih sertifikasi LEED ND Platinum, dengan lebih dari 40 gedung bersertifikasi LEED. Panel surya di atap, sistem irigasi mikro, dan rencana pembangunan fasilitas reverse osmosis menunjukkan komitmen serius terhadap dekarbonisasi dan efisiensi air.
Mbali Nkosi dari Guinness World Records menegaskan, “KAFD telah menetapkan standar baru dalam desain kota yang ramah pejalan kaki.” Sementara Mazroua Al-Mazroua, Chief Marketing Officer KAFD, menyatakan, “Hari ini kita merayakan bukan hanya rekor, tetapi tonggak penting dalam menjadikan KAFD kota yang benar-benar terhubung dan layak huni.”
Burj Al Khazzan: Dari Menara Air Menjadi Pohon Kehidupan Kota
Di sisi lain Riyadh, berdiri Burj Al Khazzan—menara air berusia puluhan tahun yang akan berevolusi menjadi ikon budaya dan ekologi. Proyek ini digagas oleh firma arsitektur Stella Amae, yang membayangkan menara setinggi 61 meter itu sebagai “Pohon Kehidupan” yang hidup dan bernafas.
Alexandre Stella, pendiri Stella Amae, menjelaskan, “Burj ini berbicara tentang warisan, air, dan memori kolektif. Kami ingin menjadikannya organisme urban yang hidup.” Desainnya terinspirasi dari batang pohon kurma dan motif segitiga khas Najdi, dengan fasad bioklimatik yang merespons cahaya, suara, dan kelembapan.
Struktur ini akan memiliki ruang publik di dasar menara, atap untuk acara komunitas, dan pencahayaan lembut saat perayaan. Material utamanya adalah beton serat ultra-kuat dari Prancis, yang memungkinkan fasad ringan dan reversibel—menjaga warisan sambil membuka ruang eksperimentasi.

“Lingkungan ini kekurangan titik pusat. Menara air bisa menjadi inti simbolis itu,” tambah Stella. Target penyelesaian proyek ini adalah tahun 2030, sejalan dengan transformasi besar Riyadh.
Menuju Kota Hijau yang Terhubung dan Berbudaya
KAFD dan Burj Al Khazzan bukan sekadar proyek infrastruktur. Mereka adalah narasi baru tentang kota yang mengutamakan manusia, lingkungan, dan warisan budaya. Dengan integrasi transportasi publik, ruang pejalan kaki, dan arsitektur berkelanjutan, Riyadh menunjukkan bahwa masa depan kota hijau bukanlah utopia, melainkan kenyataan yang sedang dibangun.
Baca juga: Madinah Menuju Kota Hijau Berkelas Dunia: Inovasi Tata Kelola, Ekowisata, dan Revolusi Penghijauan
Referensi:
- Al Amir, K. (2025). Saudi Arabia allows school principals to switch to remote learning during infectious disease outbreaks. Diambil dari https://gulfnews.com/world/gulf/saudi/saudi-arabia-allows-school-principals-to-switch-to-remote-learning-during-infectious-disease-outbreaks-1.500339755.
- KSA Moments. (2025). Saudi Schools Can Now Go Remote During Outbreaks and Extreme Weather. Diambil dari https://www.saudimoments.com/saudi-schools-can-now-go-remote-during-outbreaks-and-extreme-weather-794637.html.