Keluarga Imam Abdulrahman menetap di Kuwait pada tahun 1893. Di kota inilah Raja Abdulaziz tinggal selama kurang lebih sembilan tahun. Selama masa tinggalnya, beliau terus memantau perkembangan politik di kawasan Najd. Beliau juga mengamati situasi umum kawasan tersebut secara cermat.
Pemantauan ini dilakukan melalui interaksi dengan para pedagang dan ulama Najd yang berkunjung ke Kuwait. Sembari memantau keadaan, beliau menantikan kesempatan yang tepat untuk kembali ke Riyadh. Tujuan utamanya adalah untuk memulihkan kekuasaan negara Saudi.
Pernikahan dan Keluarga Raja Abdulaziz
Pada usia sembilan belas tahun, beliau menikah dengan seorang gadis dari kalangan masyarakat gurun, namun sang istri meninggal dunia setelah enam bulan. Kemudian, beliau menikah dengan Wadha binti Mohammed bin Burghash dari keluarga Al Urai’ar. Dari pernikahan ini, lahirlah putra sulungnya yang bernama Turki, diikuti oleh Saud (yang kelak menjadi raja kedua Arab Saudi) dan kemudian Munira.
Silsilah Pernikahan dan Anggota Keluarga Raja Abdulaziz
Selama tinggal di Kuwait, Raja Abdulaziz menyaksikan berbagai peristiwa lokal maupun global. Pengalaman tersebut memperkaya wawasan dan pengetahuan politik beliau.
Beliau terus secara aktif mengikuti perkembangan situasi politik di Kuwait. Selain itu, beliau menimba banyak ilmu dari pengalaman dan bimbingan ayahnya.
Beliau juga mendapat dorongan semangat yang kuat dari kakak perempuannya, Nourah. Nourah merupakan sosok yang sangat beliau kagumi sepanjang hidupnya. Kekaguman tersebut terlihat ketika beliau pernah menyatakan, “Aku adalah saudara laki-laki Nourah.”
Seluruh proses dan pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinan yang beliau terapkan dalam merancang perebutan kembali Riyadh, menyatukan negeri, serta membangun negara.
Baca juga: Jadi Landmark Penting Madinah, Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd Diserbu Jemaah Umrah
Sumber: Saudipedia. (2020). Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud. https://saudipedia.com/en/abdulaziz-bin-abdulrahman-al-saud