Ilustrasi Pengelolaan Limbah Elektronik (Sumber: Arab News)
Kelompok pemuda Arab Saudi mengembangkan pendekatan kreatif untuk mengatasi persoalan limbah elektronik atau electronic waste (e-waste). Melalui organisasi nirlaba Vireen, mereka menggabungkan edukasi lingkungan, teknologi realitas virtual, dan aksi pengumpulan perangkat elektronik bekas untuk mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Inisiatif yang berbasis di Alkhobar, Provinsi Timur, ini telah berhasil mengumpulkan 11,5 ton limbah elektronik. Pencapaian tersebut melampaui target awal sebesar lima ton. Selanjutnya, Vireen meningkatkan target pengumpulan menjadi 30 ton hingga akhir Oktober 2026.
Di tengah meningkatnya penggunaan perangkat digital, inisiatif ini menunjukkan bahwa kreativitas generasi muda dapat menjadi bagian penting dari solusi persoalan lingkungan di Arab Saudi.
Vireen, Inisiatif Pemuda Arab Saudi untuk Mengatasi Limbah Elektronik
Vireen didirikan sekitar dua setengah tahun lalu oleh Younis Zaki Shaaban bersama sejumlah rekannya yang berlatar belakang teknik. Berawal dari gagasan sederhana, mereka ingin membuat edukasi lingkungan menjadi lebih menarik sekaligus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Nama Vireen merupakan gabungan dari istilah virtual reality (VR) dan green, yang mencerminkan pendekatan teknologi dan kepedulian terhadap lingkungan. Organisasi ini berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat serta pelatihan generasi muda agar mampu menjadi pemimpin dalam berbagai inisiatif lingkungan.
Program pengumpulan limbah elektronik mereka dimulai dari lingkungan masyarakat. Keluarga menyumbangkan perangkat yang sudah tidak digunakan, mulai dari telepon seluler hingga komputer lama. Salah satu perangkat yang terkumpul bahkan merupakan laptop milik ayah Shaaban yang berasal dari tahun 2003.
Pengalaman tersebut memperlihatkan persoalan yang kerap ditemukan di rumah tangga. Banyak orang menyimpan perangkat elektronik rusak atau usang di laci dan lemari karena tidak mengetahui cara membuang atau menyalurkannya dengan benar.
Melalui Vireen, perangkat yang sebelumnya tidak terpakai tersebut diarahkan menuju proses penggunaan kembali atau daur ulang yang lebih bertanggung jawab.
Teknologi Virtual Reality Membuat Edukasi Lingkungan Lebih Menarik
Salah satu keunikan Vireen adalah penggunaan teknologi realitas virtual untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah. Pendekatan ini dirancang agar edukasi lingkungan tidak hanya disampaikan melalui presentasi atau penjelasan satu arah.
Melalui permainan berbasis VR, peserta diajak mengumpulkan sampah virtual dan memasukkannya ke tempat sampah yang sesuai. Permainan tersebut dilengkapi papan skor sehingga peserta dapat merasakan pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Menurut Shaaban, pendekatan ini sangat relevan bagi anak-anak dan generasi muda. Mereka mungkin tertarik mengikuti permainan karena menyenangkan. Namun, melalui pengalaman tersebut, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan diharapkan dapat melekat lebih lama.
Selain itu, Vireen berupaya menjelaskan dampak buruk pembuangan limbah elektronik secara sembarangan. Baterai yang mengandung litium, misalnya, membutuhkan penanganan yang tepat. Jika tidak dikelola dengan benar, komponen berbahaya dalam limbah elektronik dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan risiko kesehatan.
Dengan demikian, pemanfaatan teknologi bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga media untuk membangun kebiasaan ramah lingkungan sejak dini.
Limbah Elektronik Arab Saudi Diperkirakan Mencapai 1,1 Miliar Kilogram pada 2030
Pertumbuhan penggunaan perangkat digital turut meningkatkan jumlah limbah elektronik yang dihasilkan masyarakat. Telepon seluler, komputer, aksesori elektronik, dan berbagai perangkat lainnya menjadi sampah ketika sudah tidak digunakan atau digantikan oleh model yang lebih baru.
Besarnya tantangan tersebut terlihat dari penelitian yang dikutip Arab News. Studi tahun 2025 oleh Md Tasbirul Islam dan Amjad Ali dari Interdisciplinary Research Center for Sustainable Energy Systems di King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM) memperkirakan bahwa Arab Saudi menghasilkan sekitar 617–620 juta kilogram limbah elektronik.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 85 persen limbah tersebut dilaporkan berakhir di tempat pembuangan akhir. Jika pola pengelolaan yang ada tidak berubah, volumenya diproyeksikan mencapai sekitar 1,102 miliar kilogram pada 2030.
Angka tersebut menunjukkan bahwa limbah elektronik bukan hanya persoalan kebersihan. Pembuangan yang tidak tepat juga berpotensi meningkatkan risiko pencemaran dan menyebabkan hilangnya material berharga yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.
Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat, perluasan fasilitas pengumpulan, serta pengembangan sistem daur ulang menjadi langkah penting untuk memperbaiki pengelolaan limbah elektronik di Arab Saudi.
Ertiqa Mengubah Perangkat Bekas Menjadi Barang yang Bernilai
Selain Vireen, Ertiqa merupakan salah satu organisasi yang berperan dalam pengelolaan limbah elektronik di Arab Saudi. Organisasi ini menerima perangkat elektronik dari masyarakat, lembaga pemerintah, dan perusahaan swasta untuk diperiksa sebelum ditentukan langkah penanganannya.
Proses pengelolaan dimulai dengan menilai kondisi setiap perangkat. Jika masih dapat digunakan, perangkat tersebut dikirim ke bengkel untuk diperbaiki. Komponen yang hilang atau rusak diganti, sedangkan sistem operasi dan perangkat lunak yang diperlukan dipasang kembali.
Selanjutnya, perangkat yang sudah layak digunakan dapat didistribusikan kepada pihak yang membutuhkan. Sebaliknya, perangkat yang tidak dapat diperbaiki akan disalurkan kepada mitra daur ulang khusus untuk memproses komponen elektronik, logam, dan plastiknya.
Menurut Abeer Abdullah Al-Otaibi, kepala komunikasi pemasaran Ertiqa, organisasi tersebut juga menyediakan layanan penjemputan perangkat dari lokasi penyumbang tanpa biaya. Ertiqa telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar, termasuk Aramco, STC, dan Zain, serta berbagai lembaga pemerintah.
Data yang disampaikan Ertiqa menunjukkan hasil yang signifikan. Dari 317.425 perangkat yang tercatat dalam statistiknya, sebanyak 166.329 perangkat telah diperbaiki dan didistribusikan kembali. Aktivitas tersebut menghasilkan nilai penghematan ekonomi yang diperkirakan mencapai 140 juta riyal Saudi.
Sementara itu, sebanyak 765.880 perangkat dan aksesori telah didaur ulang. Jumlah tersebut setara dengan 3.451 ton limbah elektronik dan dikaitkan dengan pengurangan emisi karbon sebesar 18.271.325 kilogram.
Ertiqa juga mendistribusikan sekitar 500 perangkat ke berbagai wilayah Arab Saudi setiap dua minggu. Selain beroperasi di Alkhobar, organisasi ini telah membuka cabang di Riyadh.
Keamanan Data Menjadi Perhatian dalam Donasi Elektronik
Salah satu hal yang sering membuat masyarakat ragu menyumbangkan perangkat elektronik adalah kekhawatiran mengenai keamanan data pribadi. Ponsel dan komputer lama dapat menyimpan foto, dokumen, informasi akun, hingga data pekerjaan yang bersifat sensitif.
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, Ertiqa menggunakan perangkat lunak khusus guna menghapus data dari perangkat yang diterima. Organisasi itu juga menyediakan sertifikat penghapusan data sebagai bukti bahwa proses pemusnahan informasi telah dilakukan.
Langkah ini penting karena pengelolaan limbah elektronik yang bertanggung jawab tidak cukup hanya memperhatikan dampak lingkungan. Perlindungan privasi dan keamanan informasi juga harus menjadi bagian dari prosesnya.
Meski demikian, masyarakat tetap disarankan untuk mencadangkan berkas penting, keluar dari akun pribadi, dan mengikuti prosedur penghapusan data yang aman sebelum menyerahkan perangkat.
Dengan adanya mekanisme penghapusan data dan proses pemeriksaan perangkat, donasi elektronik dapat menjadi pilihan yang lebih meyakinkan bagi masyarakat yang ingin berkontribusi pada pelestarian lingkungan.
Pengelolaan Limbah Elektronik Mendukung Visi Saudi 2030
Inisiatif Vireen dan Ertiqa memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah elektronik dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai sosial dan ekonomi.
Perangkat yang masih layak pakai dapat diperbaiki dan disalurkan kembali kepada masyarakat. Dengan begitu, masa pakainya menjadi lebih panjang dan kebutuhan untuk membeli perangkat pengganti dapat dikurangi. Adapun perangkat yang tidak bisa digunakan kembali dapat diproses untuk mengambil material yang masih bernilai.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu mempertahankan nilai material dan produk selama mungkin melalui penggunaan kembali, perbaikan, serta daur ulang.
Bagi Arab Saudi, upaya tersebut relevan dengan tujuan Visi Saudi 2030 dalam memperkuat keberlanjutan, tanggung jawab lingkungan, dan pengurangan jejak karbon.
Namun, keberhasilan pengelolaan limbah elektronik tidak hanya bergantung pada organisasi atau perusahaan. Partisipasi masyarakat juga menentukan apakah perangkat bekas akan kembali dimanfaatkan atau justru berakhir di tempat pembuangan akhir.
Karena itu, kebiasaan sederhana seperti memilah perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan, mencari saluran donasi yang tepercaya, dan memilih fasilitas daur ulang yang tepat dapat membantu mengurangi dampak limbah elektronik.
Pemuda dan Masyarakat Memiliki Peran dalam Mengurangi E-Waste
Kisah Vireen memperlihatkan bahwa inisiatif lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar. Sekelompok anak muda dengan latar belakang teknik mampu mengembangkan gagasan sederhana menjadi kegiatan yang menggabungkan edukasi, teknologi, dan aksi nyata.
Sementara itu, pengalaman Ertiqa menunjukkan bahwa perangkat bekas masih dapat memberikan manfaat apabila dikelola melalui proses perbaikan dan daur ulang yang tepat.
Ke depan, kolaborasi antara komunitas pemuda, lembaga pendidikan, perusahaan teknologi, pemerintah, dan masyarakat dapat memperluas jangkauan pengelolaan limbah elektronik di Arab Saudi.
Pada akhirnya, perangkat elektronik yang tidak lagi digunakan bukan berarti kehilangan seluruh nilainya. Dengan penanganan yang tepat, perangkat tersebut dapat menjadi sumber daya baru, membantu orang lain, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Bagi masyarakat, langkah pertama dapat dimulai dari rumah: jangan biarkan ponsel, komputer, baterai, dan kabel lama menumpuk tanpa tujuan. Carilah saluran pengumpulan atau donasi yang tepercaya agar perangkat tersebut memperoleh kesempatan untuk digunakan kembali atau didaur ulang secara bertanggung jawab.
Baca juga: Arab Saudi Perkuat Pengelolaan Limbah, Dorong Ekonomi Sirkular dan Keberlanjutan Lingkungan
Referensi:
- Bager, J. (2026). Saudi youth initiative takes aim at e-waste. Diambil dari https://www.arabnews.com/green-blue/saudi-youth-initiative-takes-aim-at-e-waste-3002331.