Ilustrasi model pariwisata baru yang menggabungkan konservasi, rekreasi, dan pendidikan lingkungan (Sumber: Arab News)
Arab Saudi terus memperluas komitmennya terhadap konservasi lingkungan melalui dua perkembangan besar: peluncuran proyek safari dan birdwatching baru oleh National Center for Wildlife (NCW), serta meningkatnya kelahiran satwa liar di Cagar Alam Kerajaan, termasuk 12 kelahiran rock hyrax yang menandai pulihnya ekosistem gurun.
Safari dan Birdwatching: Wajah Baru Ekowisata Saudi
Kerajaan meluncurkan rangkaian destinasi safari dan pengamatan burung yang tersebar di Taif, Thadiq, hingga Farasan Islands Reserve. Proyek-proyek ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman wisata alam yang lebih dekat dengan satwa liar asli, sekaligus memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya konservasi.
NCW menegaskan bahwa model wisata baru ini menggabungkan rekreasi, edukasi lingkungan, dan perlindungan habitat. Pengunjung dapat menyaksikan spesies lokal di habitat alaminya, mulai dari burung migran hingga gazel Arab yang menjadi ikon biodiversitas Saudi.
Farasan Islands Reserve, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Laut Merah, kini menjadi pusat penelitian dan destinasi ekowisata unggulan. Keberadaan gazel Arab yang terancam punah, ekosistem laut yang kaya, serta jalur migrasi burung menjadikan kawasan ini semakin strategis dalam agenda konservasi nasional.
Kelahiran 12 Rock Hyrax: Sinyal Pemulihan Ekosistem Gurun
Di wilayah utara, Imam Turki bin Abdullah Royal Nature Reserve mencatat 12 kelahiran rock hyrax pada kuartal pertama 2026. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa program reintroduksi satwa dan pemulihan habitat berjalan efektif.

Dalam periode yang sama, lebih dari 90 kelahiran satwa liar tercatat, termasuk gazel Arab, oryx Arab, kelinci Cape, dan burung unta berleher merah. Banyak di antaranya kini berkembang biak secara alami di alam liar—sebuah lompatan besar dari ketergantungan pada penangkaran.
Rock hyrax, mamalia kecil yang hidup di tebing dan bebatuan, memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan vegetasi dan rantai makanan gurun. Adaptasinya yang unik—termasuk bantalan kaki seperti karet untuk memanjat tebing—menjadikannya indikator kesehatan ekosistem berbatu.
Konservasi sebagai Pilar Masa Depan Saudi
Sejak didirikan pada 2018, Imam Turki bin Abdullah Reserve telah berkembang menjadi kawasan konservasi seluas lebih dari 104.000 km², mencakup lanskap gurun, dataran basal, wadi, hingga dataran banjir musiman. Upaya restorasi dilakukan melalui penanaman pohon asli, rehabilitasi padang rumput, patroli anti-perburuan, dan pemantauan satwa berbasis survei ilmiah.
Kedua perkembangan—peluncuran safari alam dan meningkatnya kelahiran satwa liar—menegaskan arah baru Arab Saudi dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. Ekowisata bukan hanya menjadi sektor ekonomi baru, tetapi juga alat strategis untuk melindungi warisan alam bagi generasi mendatang.
Referensi:
- Arab News. (2026). Saudi Arabia unveils new wildlife safari, birdwatching projects. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2644946/saudi-arabia.
- Arab News. (2026). Saudi nature reserve celebrates 12 rock hyrax births in biodiversity boost. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2644937/saudi-arabia.