Riyadh – Arab Saudi semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin global dalam menangani tantangan pasar tenaga kerja, pengembangan keterampilan, dan requalifikasi tenaga kerja. Hal ini diungkapkan dalam laporan perdana Global Labor Market Conference yang diselenggarakan oleh Kementerian Sumber Daya Manusia dan Pembangunan Sosial Arab Saudi.

Laporan tersebut menyoroti inisiatif pemerintah Saudi dalam menjembatani kesenjangan antara kualifikasi akademik dan kebutuhan pasar. Langkah-langkah strategis yang diambil meliputi peningkatan program pendidikan dan pelatihan serta persiapan bagi para pencari kerja muda menghadapi lanskap tenaga kerja global yang terus berkembang
Temuan ini sejalan dengan tujuan Vision 2030 Arab Saudi, yang antara lain berupaya menurunkan tingkat pengangguran dari 11,6 persen pada 2017 menjadi 7 persen pada akhir dekade ini. Strategi tersebut fokus pada pengembangan bakat nasional, requalifikasi tenaga kerja, serta mendorong diversifikasi ekonomi untuk memperkuat daya saing global Kerajaan.
“Arab Saudi telah mencapai kemajuan signifikan dalam meningkatkan akses pendidikan, meningkatkan kualitasnya, dan mendorong peluang belajar yang inklusif,” ungkap laporan tersebut.
Berdasarkan masukan dari 14.000 peserta di 14 negara, laporan ini juga menyoroti kekhawatiran global tentang kesiapan tenaga kerja. Lebih dari separuh responden menyatakan kekhawatiran bahwa keterampilan mereka saat ini dapat menjadi usang dalam waktu dekat, menegaskan pentingnya pelatihan ulang untuk memenuhi tuntutan pasar kerja yang berubah dengan cepat.
“Responden mengidentifikasi keterampilan kognitif, manajemen, serta sosial-emosional sebagai tiga kompetensi paling penting untuk sukses di pasar kerja saat ini,” kata laporan tersebut.
Laporan ini juga mencatat bahwa peningkatan otomatisasi menjadi ancaman besar bagi pekerjaan di berbagai sektor. Hal ini memperkuat pentingnya keahlian dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) untuk meraih kesuksesan di industri berbasis teknologi.
Meskipun laki-laki masih mendominasi bidang terkait STEM, laporan ini menyoroti kemajuan dalam mengurangi kesenjangan gender di beberapa negara. “Misalnya, India memiliki tingkat kelulusan perempuan di bidang STEM sebesar 26 persen, diikuti oleh Arab Saudi sebesar 21 persen,” ungkap laporan tersebut.
Angka ini bahkan melampaui negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, yang memiliki tingkat kelulusan perempuan di STEM antara 10 hingga 13 persen. “Namun, persentase perempuan yang meraih gelar STEM stagnan, kecuali di Arab Saudi,” tambahnya.
Konferensi Tahunan Kedua Global Labor Market Conference akan kembali diadakan di Riyadh pada 29-30 Januari 2025. Acara ini diharapkan dihadiri oleh lebih dari 5.000 peserta, termasuk menteri tenaga kerja dari 40 negara, eksekutif, pakar internasional, dan pemimpin sektor publik dari lebih dari 50 negara.
Diskusi akan berfokus pada tantangan dan peluang pasar tenaga kerja global, semakin mengukuhkan kepemimpinan Arab Saudi dalam pengembangan tenaga kerja.
Transformasi pasar kerja global yang dipimpin Arab Saudi, sebagaimana tercermin dalam Vision 2030 dan laporan Global Labor Market Conference, memiliki dampak signifikan bagi pekerja migran, termasuk dari Indonesia. Fokus pada pengembangan keterampilan tenaga kerja lokal melalui pelatihan ulang dan otomatisasi dapat mengurangi peluang kerja bagi pekerja migran di sektor-sektor tradisional seperti konstruksi dan rumah tangga. Namun, transformasi ini juga membuka peluang baru, khususnya bagi pekerja migran yang memiliki keterampilan di bidang STEM, teknologi, dan manajemen. Selain itu, peningkatan keterlibatan perempuan di sektor formal dapat memberikan kesempatan bagi pekerja migran perempuan Indonesia untuk berpartisipasi dalam pekerjaan yang lebih profesional dan setara.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Persaingan dengan tenaga kerja lokal yang semakin terampil dan berkurangnya permintaan untuk pekerjaan tidak terampil dapat menjadi kendala bagi sebagian besar pekerja migran. Untuk menghadapi perubahan ini, pemerintah Indonesia perlu memperkuat kerja sama bilateral dengan Arab Saudi untuk melindungi hak-hak pekerja migran serta memfasilitasi program pelatihan di dalam negeri yang berfokus pada keterampilan teknologi dan bahasa. Dengan strategi yang tepat, transformasi ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan peluang kerja yang lebih baik bagi pekerja migran Indonesia di Arab Saudi.
Sumber :