Setelah dua tahun sejak pertama kali diajukan, visa terpadu Dewan Kerja Sama Teluk (GCC Unified Visa) kini memasuki tahap akhir persetujuan. Skema ini digadang-gadang akan merevolusi pariwisata regional sekaligus memperkuat mobilitas bisnis di kawasan Teluk. Dari enam negara anggota GCC, Arab Saudi diprediksi akan menjadi penerima manfaat terbesar.
Transformasi Pariwisata Regional
Visa terpadu ini memungkinkan wisatawan bepergian ke enam negara TelukโBahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arabโdengan hanya satu izin perjalanan. Sistem ini mirip dengan konsep visa Schengen di Eropa yang memudahkan turis menjelajahi beberapa negara dalam satu perjalanan.
Bagi Arab Saudi, momen ini sangat tepat. Kerajaan sedang gencar mengembangkan infrastruktur pariwisata melalui proyek-proyek besar dalam kerangka Visi 2030, seperti Neom, Red Sea Project, hingga AlUla. Dengan adanya visa terpadu, wisatawan bisa mengombinasikan kunjungan ke Makkah atau Madinah dengan destinasi populer di Teluk seperti Dubai atau Doha, menjadikan kawasan ini sebagai multi-destination hotspot.
Keunggulan Strategis Arab Saudi
Sebagai pusat pariwisata religius, Arab Saudi memiliki daya tarik utama dengan keberadaan dua kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah. Jutaan jamaah Haji dan Umrah datang setiap tahun, dan visa terpadu membuka peluang agar mereka memperpanjang masa tinggal untuk mengeksplorasi wisata budaya, sejarah, maupun rekreasi modern.
Menurut Raymond Khoury, mitra dan kepala praktik manajemen inovasi di Arthur D. Little Middle East, sistem visa terpadu ini akan memperkaya pengalaman wisatawan dengan memudahkan akses ke destinasi futuristik dan bersejarah seperti AlUla, Neom, dan Diriyah. Selain itu, bandara utama seperti Riyadh dan Jeddah dapat dimanfaatkan sebagai hub transit internasional untuk perjalanan singkat ke destinasi sekitar.
Infrastruktur dan Konektivitas
Kesuksesan implementasi visa terpadu membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Arab Saudi sudah melakukan investasi besar, di antaranya:
- Bandara Internasional Raja Salman dengan target 120 juta penumpang pada 2030.
- Maskapai Riyadh Air yang diluncurkan untuk mendukung konektivitas global.
- Proyek ambisius Kereta Api GCC yang terintegrasi dengan jaringan domestik.
Langkah-langkah ini memperkuat posisi Arab Saudi sebagai pusat transportasi dan konektivitas regional, baik melalui udara maupun darat.
Dampak Ekonomi dan Bisnis
Selain pariwisata, visa terpadu diperkirakan akan mendorong pertumbuhan signifikan di sektor ekonomi. Industri perhotelan, transportasi, dan kuliner akan mengalami lonjakan permintaan.
Laporan UN Tourism mencatat bahwa Arab Saudi mencatat kenaikan 102 persen kunjungan wisatawan internasional pada kuartal pertama 2025 dibandingkan periode yang sama di 2019.
Di sisi bisnis, visa ini akan memudahkan mobilitas pelaku usaha di negara-negara GCC. Hal ini akan memperlancar arus perdagangan, logistik, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor. Sejalan dengan itu, Arab Saudi dapat memperkuat ambisinya sebagai pusat inovasi regional dan motor integrasi ekonomi GCC.
Implikasi Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, visa terpadu tidak hanya menguntungkan sektor pariwisata dan bisnis, tetapi juga berpotensi mengubah peta geopolitik Teluk. Dengan letak geografis yang strategis, infrastruktur modern, dan visi ekonomi jangka panjang, Arab Saudi berpeluang memperkuat perannya sebagai pemimpin kawasan.
Jika sesuai rencana, visa terpadu GCC akan menjadi salah satu kebijakan integrasi paling bersejarah di kawasan Teluk, dan Arab Saudi diposisikan sebagai pemenang utama dari transformasi ini.
Referensi
Hadchity, M. (2025). Saudi Arabia set to gain most from GCC unified visa rollout. ArabNews. Diakses dari https://arab.news/45cg6