Setelah Raja Abdulaziz berhasil memasuki Istana al-Masmak, beliau kemudian menyatakan pemulihan kekuasaan keluarga Al Saud. Setelah itu, beliau mulai membangun kembali tembok kota Riyadh. Tembok tersebut sebelumnya telah dihancurkan. Proses pembangunan tembok itu berlangsung selama empat puluh hari.
Sang Raja mengutus salah seorang pengikutnya, Nasser bin Saud, ke Kuwait. Utusan tersebut bertugas menyampaikan kabar kemenangan kepada ayahnya, Imam Abdulrahman, serta Syekh Mubarak al-Sabah, sekaligus meminta bantuan pasukan tambahan.
Sebulan kemudian, Pangeran Saad yang merupakan saudara laki-laki Raja Abdulaziz tiba membawa seratus prajurit beserta amunisi. Banyak penduduk Najd juga bergabung dengan barisan beliau, sehingga pasukannya memperkuat diri hingga mencapai sekitar seribu orang.
Upacara Resmi 1902: Legitimasi Kekuasaan Raja Abdulaziz
Imam Abdulrahman tiba dari Kuwait dengan didampingi oleh keluarga besar Saudi. Raja Abdulaziz menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada sang ayah. Beliau juga siap mengabdi sebagai prajurit di bawah komando ayahnya. Namun, sang ayah pada awalnya menolak untuk memegang kendali pemerintahan.
Para ulama dan penasihat dekat kemudian memberikan masukan terkait hal tersebut. Sang Raja akhirnya menerima kepemimpinan dengan syarat sang ayah tetap memberikan pengawasan dan bimbingan.
Pada tahun 1902, beliau secara resmi memegang kekuasaan dalam sebuah upacara publik. Pada saat itu pula, sang ayah mengumumkan pengunduran dirinya dari pemerintahan. Beliau menyerahkan pedang milik Imam Saud al-Kabir, Imam ketiga dari Negara Saudi Pertama, kepada Raja Abdulaziz.
Baca juga: Wadi Haliyah, Potret Harapan Agrowisata dan Jejak Sejarah Kuno di Wilayah Makkah
Sumber: Saudipedia. (2020). Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud. https://saudipedia.com/en/abdulaziz-bin-abdulrahman-al-saud