Ilustrasi Bagaimana Arab Saudi Menyediakan Air Bersih untuk Masyarakatnya (Sumber: Construction Week)
Arab Saudi dikenal sebagai salah satu negara paling kering di dunia. Namun, jutaan penduduknya tetap dapat memperoleh air bersih setiap hari. Rahasianya bukan sungai atau danau besar, melainkan kombinasi desalinasi, air tanah, pengolahan air limbah, jaringan pipa raksasa, dan teknologi hemat air.
Bagi sebuah negara yang hampir tidak memiliki sumber air permukaan permanen, menyediakan air untuk masyarakat merupakan tantangan strategis. Karena itu, Arab Saudi membangun salah satu sistem pengelolaan air paling kompleks di kawasan Teluk.
Kini, air yang mengalir ke rumah-rumah penduduk tidak hanya berasal dari sumber alam. Sebagian besar merupakan hasil rekayasa teknologi.
Dari Laut Menjadi Air Minum
Langkah paling penting Arab Saudi dalam mengatasi kelangkaan air adalah desalinasi air laut.
Letak geografis negara ini memberikan keuntungan tersendiri. Arab Saudi memiliki garis pantai yang panjang di Laut Merah dan Teluk Arab. Namun, curah hujan yang relatif rendah membuat air laut menjadi sumber yang jauh lebih strategis daripada mengandalkan air hujan.
Menurut Saudipedia, Arab Saudi memiliki sekitar 33 sistem produksi air desalinasi yang tersebar di kawasan pantai timur dan barat. Pada 2022, kapasitas produksi harian mencapai sekitar 6,6 juta meter kubik, kemudian meningkat menjadi sekitar 7,9 juta meter kubik per hari.
Dengan teknologi tersebut, air laut diproses untuk menghilangkan garam dan berbagai mineral terlarut. Salah satu teknologi yang semakin penting adalah reverse osmosis, yaitu menggunakan membran bertekanan tinggi untuk memisahkan air dari garam.
Teknologi ini menjadi semakin strategis karena Arab Saudi tidak hanya membutuhkan air untuk rumah tangga. Air juga dibutuhkan untuk kota, industri, pariwisata, dan pembangunan infrastruktur baru.
Air dari Laut Harus Dikirim ke Tengah Gurun
Membangun pabrik desalinasi saja tidak cukup.
Air yang diproduksi di sepanjang pantai harus dikirim ke kota-kota yang berada jauh di pedalaman. Karena itu, Arab Saudi membangun jaringan transmisi air dalam skala nasional.
Riyadh merupakan contoh paling jelas. Kota ini berada jauh dari laut, tetapi mendapatkan pasokan air desalinasi yang dipompa dari kawasan Teluk melalui jaringan transmisi sepanjang ratusan kilometer.
Saudipedia mencatat bahwa jaringan transportasi air telah mencapai sekitar 11.200 kilometer pada 2022. Sistem tersebut menjadi semacam “jalan tol air” yang menghubungkan fasilitas produksi dengan pusat-pusat konsumsi.
Karena itu, sistem air Arab Saudi sebenarnya terdiri atas beberapa mata rantai sekaligus: mengambil air laut, melakukan desalinasi, menyimpan air, mengirimkannya melalui jaringan transmisi, lalu mendistribusikannya kepada masyarakat.
Air Tanah Tetap Penting, tetapi Tidak Bisa Diandalkan Selamanya
Desalinasi bukan satu-satunya sumber air.
Arab Saudi juga memiliki cadangan air tanah, termasuk air tanah fosil yang tersimpan selama periode geologis yang panjang. Namun, sebagian besar sumber tersebut tidak terisi kembali dengan cepat.
Masalahnya muncul ketika pengambilan air tanah berlangsung jauh lebih cepat daripada proses pengisian alami. Wikipedia mencatat bahwa ekstraksi air tanah di sejumlah wilayah telah menyebabkan penurunan muka air tanah secara signifikan.
Kondisi tersebut membuat Arab Saudi harus mengubah strategi. Air tanah tetap dimanfaatkan, tetapi ketergantungan terhadap sumber yang tidak terbarukan perlu dikurangi.
Inilah alasan mengapa desalinasi, konservasi, dan penggunaan kembali air menjadi semakin penting dalam kebijakan nasional.
Air Limbah Diubah Menjadi Sumber Daya Baru
Salah satu perubahan paling menarik terjadi setelah air digunakan oleh masyarakat.
Alih-alih membuang seluruh air limbah, Arab Saudi mengolahnya kembali agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan non-potabel.
Air limbah terolah dapat digunakan untuk menyiram taman dan ruang hijau, irigasi, pendinginan, serta sejumlah proses industri. Saudipedia mencatat terdapat 133 fasilitas pengolahan air limbah yang tersebar di berbagai wilayah berdasarkan data yang disajikan dalam artikelnya.
Pendekatan ini penting karena air hasil pengolahan umumnya lebih murah untuk penggunaan tertentu dibandingkan menghasilkan air baru melalui desalinasi. U.S.-Saudi Business Council juga mencatat bahwa Arab Saudi menjadikan penggunaan kembali air limbah sebagai salah satu solusi untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air.
Dengan kata lain, konsep pengelolaan air mulai berubah dari “ambil, gunakan, buang” menjadi sistem yang lebih mendekati ekonomi sirkular.
Tantangan Besarnya Justru Ada pada Konsumsi
Menyediakan air dalam jumlah besar bukan berarti persoalan air selesai.
Arab Saudi juga menghadapi persoalan konsumsi yang tinggi. Pertanian secara historis menjadi sektor dengan kebutuhan air terbesar. Penggunaan air tanah untuk pertanian sejak dekade 1970-an bahkan berkontribusi terhadap tekanan berat pada akuifer.
Karena itu, pemerintah memperkenalkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air.
Salah satunya adalah Program Qatrah, yang berarti “tetesan” dalam bahasa Arab. Program ini diluncurkan untuk mengurangi konsumsi air per kapita, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta mengurangi pemborosan dan kebocoran jaringan.
Program Rashid juga menguji pendekatan serupa di tingkat rumah tangga. Pemeriksaan kebocoran dan pemasangan perangkat hemat air digunakan untuk membantu keluarga menekan konsumsi.
Artinya, solusi air Arab Saudi tidak hanya berbicara tentang memproduksi lebih banyak air, tetapi juga tentang menggunakan air secara lebih efisien.
Energi Surya Mulai Memainkan Peran
Desalinasi memiliki konsekuensi lain: kebutuhan energi yang besar.
Karena itu, Arab Saudi mulai mengembangkan teknologi yang menggabungkan desalinasi dengan energi terbarukan. Salah satu contohnya adalah proyek desalinasi menggunakan energi surya di Al-Khafji.
Proyek tersebut menggunakan teknologi reverse osmosis dan dikembangkan untuk memanfaatkan potensi energi matahari Arab Saudi.
Pendekatan ini penting bagi masa depan. Jika air semakin banyak diproduksi dari laut, sementara kebutuhan energi juga terus meningkat, maka biaya ekonomi dan lingkungan desalinasi harus dikendalikan.
Energi surya menawarkan salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dalam proses tersebut.
Pemerintah dan Swasta Membangun Sistem Air Baru
Perubahan lain terjadi dalam cara sektor air dikelola.
Sejak awal 2000-an, pemerintah Arab Saudi mulai meningkatkan keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas air serta air limbah. Model Independent Water and Power Projects menjadi salah satu instrumen penting dalam menarik investasi swasta.
Sementara itu, National Water Company (NWC) memainkan peran penting dalam penyediaan layanan air dan sanitasi di kawasan perkotaan. Pemerintah juga membentuk berbagai mekanisme kemitraan untuk meningkatkan investasi dan efisiensi sektor tersebut.
Model ini sejalan dengan Saudi Vision 2030, yang mendorong peningkatan efisiensi, investasi swasta, inovasi teknologi, dan pengembangan infrastruktur.
Strategi Air untuk Masa Depan Arab Saudi
Tantangan air Arab Saudi tidak akan hilang dalam waktu dekat.
Penduduk bertambah, kota berkembang, industri tumbuh, dan proyek-proyek besar seperti kawasan pariwisata serta kota baru membutuhkan pasokan air yang stabil.
Karena itu, pemerintah meluncurkan National Water Strategy 2030. Strategi tersebut dirancang untuk meningkatkan keamanan air, menjaga sumber daya yang ada, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat infrastruktur sektor air.
Dalam beberapa tahun terakhir, investasi sektor air juga meningkat. Saudipedia mencatat bahwa hingga 2022 terdapat sekitar 1.429 proyek baru dengan nilai lebih dari SAR108 miliar yang tersebar di berbagai wilayah Arab Saudi.
Pada 2023, pemerintah juga menyatakan telah mengalokasikan anggaran lebih dari US$80 miliar untuk ratusan proyek air dalam beberapa tahun berikutnya. Pada tahun yang sama, volume penyimpanan air strategis tercatat sekitar 21,8 juta m³, sementara penerima layanan air mencapai 31,47 juta orang.
Arab Saudi Sedang Membangun “Siklus Air” Baru
Cara Arab Saudi menyediakan air untuk masyarakat pada akhirnya bukan hanya cerita tentang desalinasi.
Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah negara gurun membangun siklus air buatan.
Air laut diubah menjadi air tawar. Air tersebut dikirim melalui ribuan kilometer jaringan pipa. Setelah digunakan, sebagian air limbah diolah kembali untuk keperluan tertentu. Pada saat yang sama, konsumsi ditekan melalui teknologi, pengendalian kebocoran, dan kampanye konservasi.
Bahkan energi yang digunakan untuk menghasilkan air mulai diarahkan ke energi terbarukan.
Dengan pendekatan tersebut, Arab Saudi sedang berusaha mengubah persoalan kelangkaan air menjadi persoalan teknologi, infrastruktur, efisiensi, dan inovasi.
Bagi negara yang hampir tidak memiliki sungai permanen, kemampuan menyediakan air bukan sekadar kebutuhan dasar. Air adalah bagian dari keamanan nasional dan fondasi pembangunan jangka panjang.
Baca juga: Desalinasi: Pilar Keamanan Air Saudi di Tengah Ancaman Iklim dan Geopolitik
Referensi:
- Wikipedia (2026). Water supply and sanitation in Saudi Arabia. Diambil dari https://en.wikipedia.org/wiki/Water_supply_and_sanitation_in_Saudi_Arabia.
- Saudipedia. (2021). Water in Saudi Arabia. Diambil dari https://saudipedia.com/en/water-in-saudi-arabia.
- US-Saudi Business Council. (2021). Water in Saudi Arabia: Desalination, Wastewater, and Privatization. Diambil dari https://ussaudi.org/water-in-saudi-arabia-desalination-wastewater-and-privatization/.