Lima simbol utama “Founding Day“ Arab Saudi terdiri dari bendera hijau, pohon palem, kuda Arab, pasar tradisional (souq), dan elang. Menurut peneliti arsitektur tradisional Saudi, Ismail Abdullah Hejles, simbol-simbol ini memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar perayaan visual. Makna simbol bendera hijau dan pohon palem sudah dipaparkan pada artikel sebelumnya.
3. Souq
Souq (pasar tradisional) bukan hanya tempat perdagangan tetapi juga ruang untuk interaksi sosial, pertukaran pengetahuan, dan solidaritas. Melalui pasar ini, aktivitas ekonomi berkembang dan hubungan antar komunitas diperkuat.
“Kaum nomaden dan penghuni gurun memiliki barang-barang berlebih dan mencari apa yang mereka butuhkan melalui barter.” terang Hejles.
Konsep peradaban souq telah muncul berabad-abad sebelum datangnya Islam. Kehadirannya berawal dari kebutuhan dasar manusia yang paling sederhana, yaitu pertukaran barang. Aktivitas pertukaran ini kemudian memicu mobilitas sosial yang dinamis di tengah masyarakat.

Selain itu, souq memupuk budaya keterbukaan yang menjadi cikal bakal berdirinya kota-kota besar. Pada era pra-Islam, pasar musiman seperti Souq ‘Ukaz berfungsi lebih dari sekadar pusat perdagangan. Tempat tersebut menjadi forum sastra, arena politik, hingga ruang untuk rekonsiliasi antar suku.
Setelah Islam lahir, didirikanlah Souq Al-Madinah yang membawa standar moral baru dalam berniaga. Pasar ini menerapkan prinsip keadilan serta melarang keras praktik monopoli dan penipuan.
Di era Saudi modern, souq berevolusi dari bangunan lumpur dan kayu menjadi kompleks komersial yang megah. Meski bentuknya berubah, konsep utamanya tetap bertahan sebagai tempat pertemuan manusia sebelum menjadi tempat penjualan.
4. Kuda Arab
Ini merupakan simbol lain dari Hari Pendirian kerajaan Arab Saudi, dikaitkan dengan keaslian dan keberanian. Kuda ini menemani tahap awal pembangunan negara, perjalanan, dan pertahanan, menjadi simbol kekuatan dan kebanggaan dalam warisan Arab.

Sebagai sahabat tertua bangsa Arab, kuda Arab adalah salah satu ras tertua dan paling murni di dunia. Kuda ini dibiakkan di Semenanjung Arab untuk daya tahan, kecepatan, dan kelincahan yang luar biasa.
Berkat kapasitas paru-paru, daya tahan, serta kaki dan tulang yang kuat, kuda-kuda ini dapat menempuh jarak jauh dalam kondisi gurun yang keras dan bertahan hidup dengan sumber daya minimal, terkadang hanya diberi makan kurma dan susu unta.
Untuk melindungi mereka dari pencurian dan cuaca buruk, mereka terkadang dibawa ke dalam tenda keluarga, yang menyebabkan terbentuknya ikatan yang kuat dengan pemiliknya. Kuda Arab dikenal sebagai kuda yang tak kenal takut dan setia, mampu melindungi tuannya dalam pertempuran. Mereka juga memiliki “naluri perang,” yang memungkinkan mereka untuk bertindak cerdas dalam pertempuran, dan juga dikenal memiliki semangat tinggi dalam pertempuran.
Di Arab Saudi, kuda Arab sangat penting dalam perjalanan, perdagangan, dan peperangan. Saat ini, mereka melambangkan kemuliaan, kebanggaan, keberanian, dan kehormatan — mencerminkan dan melanjutkan warisan berkuda Kerajaan.
5. Elang
Dan akhirnya, kewaspadaan, wawasan, dan ambisi tinggi diwakili oleh elang. “Ini terkait dengan praktik berburu dengan elang, yang membutuhkan kesabaran dan keterampilan, dan saat ini melambangkan keberlanjutan warisan dan aspirasi yang tinggi,” kata Hejles.

Perburuan dengan elang bukan sekadar hobi, tetapi alat berburu di lingkungan gurun yang keras — pendamping bagi suku Badui dan simbol kekuatan, ketelitian, dan kesabaran. Pelatihan panjang yang dibutuhkan untuk menguasai perburuan dengan elang menumbuhkan disiplin dan kepemimpinan yang kuat pada para praktisinya.
Seiring berjalannya waktu, elang telah menjadi simbol prestise dan keberanian yang melekat kuat dalam identitas masyarakat Badui. Keberadaan burung pemangsa ini juga tertanam dalam kekayaan puisi serta cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai warisan lintas generasi, tradisi perburuan dengan elang kini telah diakui secara internasional oleh UNESCO. Pengakuan dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan ini melibatkan Arab Saudi bersama negara-negara peserta lainnya.
Status tersebut semakin memperkuat signifikansi budaya elang sebagai ikon kebanggaan global yang harus terus dilestarikan.Lebih dari sekadar gambar individualnya, secara kolektif simbol-simbol ini merupakan ekspresi hubungan warga Saudi dengan tanah, lingkungan, martabat, dan keberlanjutan.
Baca juga: Menuju 3 Abad: Menguak Narasi Tangguh di Balik Simbol “Founding Day“ Arab Saudi
Sumber: Aboalsaud, T. (2026, 21 Februari). How Saudi Arabia’s five Founding Day symbols tell a 299-year story. Arab News. https://www.arabnews.com/node/2633951/saudi-arabia