Riyadh Energy Week 2026 akan menjadi salah satu agenda penting dalam kalender energi global. Acara yang berlangsung pada 11–15 Oktober 2026 di Riyadh, Arab Saudi, akan mempertemukan para menteri, pemimpin industri, pembuat kebijakan, akademisi, insinyur, dan pakar energi dari berbagai negara.
Salah satu agenda utama dalam Riyadh Energy Week adalah 25th WPC Energy Congress dengan tema “Pathways to an Energy Future for All”. Kongres ini akan berlangsung di Riyadh Front Exhibition and Conference Center (RFECC) dan menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan energi di Riyadh.
Penyelenggaraan forum ini memiliki arti strategis karena berlangsung ketika industri energi global menghadapi perubahan besar. Permintaan energi terus berkembang, teknologi kecerdasan buatan membutuhkan listrik dalam jumlah besar, investasi energi terbarukan meningkat, sementara isu keamanan energi dan geopolitik tetap menjadi perhatian.
Di tengah perubahan tersebut, Arab Saudi berada pada posisi yang unik. Negara ini tetap menjadi salah satu pemain utama dalam industri minyak dan gas, tetapi pada saat yang sama juga mengembangkan energi terbarukan, hidrogen bersih, teknologi penangkapan karbon, dan digitalisasi sektor energi.
Riyadh Energy Week 2026 Digelar pada Oktober
Riyadh Energy Week akan berlangsung 11–15 Oktober 2026. Agenda utamanya, 25th WPC Energy Congress, akan dibuka secara resmi pada 12 Oktober dan menjadi salah satu kegiatan utama sepanjang pekan tersebut.
Menurut WPC Energy, kongres 2026 diperkirakan akan menghadirkan lebih dari 25.000 peserta, sekitar 100 menteri, 500 CEO, dan sekitar 800 pembicara. Pameran energi juga direncanakan menempati area lebih dari 50.000 meter persegi dengan partisipasi lebih dari 500 perusahaan dan organisasi.
Skala tersebut menunjukkan bahwa Riyadh Energy Week tidak hanya ditujukan untuk industri minyak dan gas. Agenda yang dibahas mencakup berbagai aspek sistem energi modern, mulai dari keamanan energi hingga teknologi digital dan pengelolaan karbon.
25th WPC Energy Congress: Pertama Kali di Arab Saudi
Salah satu alasan Riyadh Energy Week 2026 mendapat perhatian internasional adalah penyelenggaraan 25th WPC Energy Congress di Riyadh.
Kongres ini merupakan forum utama WPC Energy yang sebelumnya dikenal sebagai World Petroleum Congress. Kongres tersebut telah berlangsung sejak 1933 dan diselenggarakan secara berkala untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor energi global.
Riyadh menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya dalam sejarah kongres tersebut. WPC Energy menyebut penyelenggaraan di Arab Saudi juga menjadi kali kedua kongres berlangsung di kawasan Timur Tengah setelah Doha menjadi tuan rumah pada 2011.
Tema yang diangkat pada 2026 adalah:
“Pathways to an Energy Future for All”
Tema tersebut mencerminkan fokus pada bagaimana sistem energi masa depan dapat dibangun dengan mempertimbangkan aspek keamanan, keterjangkauan, keberlanjutan, inovasi, dan kebutuhan sosial-ekonomi.
Apa yang Akan Dibahas di Riyadh Energy Week?
Program 25th WPC Energy Congress mencakup lebih dari 30 sesi pleno, strategis, dan ministerial. Topik yang dibahas antara lain keamanan energi, pasar minyak dan gas, transformasi digital dan AI, pembiayaan energi, investasi, mineral kritis, pengelolaan karbon, gas alam, keselamatan, dan perubahan bauran energi.
Selain program eksekutif, kongres juga memiliki sekitar 30 forum teknis. Forum tersebut dikelompokkan ke dalam lima bidang utama.
1. Pasokan Energi Primer
Bidang ini membahas sumber energi primer dan perkembangan kebutuhan energi global.
Minyak, gas, energi terbarukan, serta berbagai sumber energi lainnya menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana dunia dapat menjaga pasokan energi untuk memenuhi pertumbuhan permintaan.
2. Infrastruktur Energi
Transformasi energi membutuhkan infrastruktur yang kuat.
Jaringan listrik, sistem transportasi energi, fasilitas penyimpanan, jaringan distribusi, dan infrastruktur pendukung lainnya menjadi bagian penting dalam membangun sistem energi yang lebih fleksibel dan tangguh.
3. Bahan Bakar dan Molekul Energi
Perhatian juga diberikan pada perkembangan bahan bakar dan molekul energi, termasuk gas alam, hidrogen, bahan bakar rendah karbon, serta berbagai teknologi yang dapat mendukung pengurangan emisi.
4. Teknologi Energi
Perkembangan teknologi menjadi salah satu elemen penting dalam perubahan sistem energi.
Kecerdasan buatan, digitalisasi, otomatisasi, energi terbarukan, teknologi penangkapan karbon, dan sistem penyimpanan energi menjadi bagian dari diskusi mengenai masa depan sektor energi.
5. Kepemimpinan Sektor Energi
Perubahan sistem energi tidak hanya membutuhkan teknologi.
Kebijakan pemerintah, investasi, kerja sama internasional, pengembangan sumber daya manusia, serta kepemimpinan industri juga diperlukan untuk menerapkan teknologi tersebut dalam skala besar.
Tantangan Energi di Era Kecerdasan Buatan
Salah satu topik yang semakin penting dalam industri energi adalah hubungan antara Artificial Intelligence (AI) dan kebutuhan listrik.
Pertumbuhan pusat data dan aplikasi AI membutuhkan infrastruktur komputasi dengan konsumsi listrik yang besar. Kondisi ini menciptakan tantangan baru bagi sistem kelistrikan karena pertumbuhan ekonomi digital harus diikuti dengan ketersediaan energi yang cukup dan andal.
Dalam konteks tersebut, teknologi digital tidak hanya menjadi pengguna energi. AI juga dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi sektor energi.
Kementerian Energi Arab Saudi, misalnya, mencantumkan aplikasi AI dalam sektor energi terbarukan untuk meningkatkan efisiensi operasi, mengurangi intervensi manusia, dan mendukung prediksi kinerja serta kebutuhan pemeliharaan.
Dengan demikian, hubungan antara AI dan energi bersifat dua arah. Pertumbuhan AI meningkatkan permintaan listrik, tetapi AI juga dapat digunakan untuk mengoptimalkan sistem energi.
Arab Saudi dan Perkembangan Energi Terbarukan
Riyadh Energy Week berlangsung dalam konteks transformasi energi Arab Saudi yang lebih luas melalui Saudi Vision 2030.
Arab Saudi telah menetapkan target agar 50 persen bauran listrik berasal dari sumber energi terbarukan pada 2030. Laporan Vision 2030 2024 mencatat bahwa kapasitas energi terbarukan yang terpasang telah mencapai 2,8 GW, dengan sekitar 1,3 GW telah terhubung ke jaringan nasional pada saat laporan tersebut diterbitkan.
Dokumen Vision 2030 sebelumnya juga mencantumkan target pengembangan 130 GW energi terbarukan pada 2030.
Energi surya menjadi salah satu teknologi penting karena kondisi geografis Arab Saudi memberikan potensi radiasi matahari yang besar. Pemerintah juga mengembangkan data dan pemetaan sumber daya energi terbarukan untuk membantu menentukan lokasi proyek dan meningkatkan efisiensi pengembangannya.
Hidrogen Bersih Menjadi Bagian dari Strategi Energi Saudi
Selain energi surya dan angin, hidrogen bersih menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian dalam transformasi energi Arab Saudi.
Salah satu proyek utama adalah NEOM Green Hydrogen Company, perusahaan patungan antara ACWA Power, Air Products, dan NEOM.
Proyek tersebut dikembangkan di Oxagon, NEOM, dan dirancang menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan. Menurut PIF, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan sekitar 600 ton hidrogen bebas karbon per hari setelah beroperasi.
Hidrogen kemudian dapat dikonversi menjadi amonia untuk memudahkan penyimpanan dan pengangkutan ke pasar internasional.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa strategi energi Arab Saudi tidak hanya berkaitan dengan pembangkitan listrik. Negara tersebut juga mengembangkan rantai nilai energi baru yang mencakup produksi, pengolahan, penyimpanan, dan perdagangan energi.
Circular Carbon Economy dan Pengelolaan Emisi
Arab Saudi juga mengembangkan pendekatan Circular Carbon Economy (CCE) dalam pengelolaan emisi karbon.
Konsep ini melihat karbon sebagai bagian dari suatu siklus yang dapat dikelola melalui beberapa pendekatan, termasuk mengurangi penggunaan karbon, menggunakan kembali karbon, mendaur ulang karbon, dan menangkap karbon.
Salah satu teknologi yang berkaitan dengan pendekatan tersebut adalah Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).
Kementerian Energi Arab Saudi telah mendukung berbagai inisiatif terkait penangkapan dan pemanfaatan karbon. Salah satunya adalah Carbon Capture and Utilization Challenge yang dikembangkan untuk mendorong inovasi dalam menangkap dan menggunakan kembali CO₂.
Pendekatan ini menjadi salah satu bagian dari strategi Arab Saudi dalam menghadapi tantangan pengurangan emisi sambil tetap mempertahankan peran berbagai sumber energi dalam sistem global.
Dari Minyak dan Gas Menuju Sistem Energi yang Lebih Beragam
Arab Saudi tetap memiliki posisi penting dalam pasar minyak dunia. Namun, perubahan kebutuhan energi domestik dan perkembangan teknologi membuat diversifikasi sumber energi menjadi semakin relevan.
Data IEA menunjukkan bahwa Arab Saudi juga tengah meningkatkan penggunaan gas alam dan energi terbarukan untuk mengurangi penggunaan produk minyak dalam pembangkitan listrik. Dalam analisis IEA untuk 2025, konsumsi produk minyak di Arab Saudi disebut turun ketika pembangkitan listrik dari gas dan energi terbarukan meningkat.
Perubahan tersebut tidak berarti minyak dan gas langsung kehilangan perannya.
Sebaliknya, perkembangan sistem energi menunjukkan bahwa berbagai sumber energi akan tetap memiliki fungsi yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan sumber energi tersebut dengan teknologi baru, infrastruktur yang lebih efisien, serta sistem pengelolaan emisi yang semakin maju.
Mengapa Riyadh Menjadi Pusat Dialog Energi Global?
Riyadh Energy Week memperlihatkan bagaimana ibu kota Arab Saudi menjadi tempat pertemuan berbagai kepentingan dalam industri energi.
Di satu sisi terdapat pembahasan mengenai minyak dan gas. Di sisi lain, agenda kongres mencakup energi terbarukan, hidrogen, AI, digitalisasi, pembiayaan, mineral kritis, dan pengelolaan karbon.
Kombinasi tersebut mencerminkan perubahan karakter industri energi global.
Masa depan energi tidak lagi hanya ditentukan oleh jenis bahan bakar yang digunakan. Faktor lain seperti teknologi, jaringan listrik, investasi, data, kebijakan, keamanan pasokan, dan kemampuan industri untuk beradaptasi juga semakin penting.
Riyadh Energy Week dan Masa Depan Energi Global
Riyadh Energy Week 2026 akan menjadi forum penting untuk melihat bagaimana berbagai pihak merespons perubahan sistem energi global.
Dengan menjadi tuan rumah 25th WPC Energy Congress, Arab Saudi menyediakan ruang bagi pemerintah, perusahaan, akademisi, dan organisasi internasional untuk mendiskusikan berbagai jalur menuju sistem energi masa depan.
Bagi Arab Saudi sendiri, agenda tersebut berlangsung bersamaan dengan berbagai program pengembangan energi terbarukan, hidrogen bersih, teknologi karbon, dan digitalisasi.
Sementara bagi komunitas energi internasional, Riyadh Energy Week menjadi kesempatan untuk membahas pertanyaan yang semakin penting: bagaimana dunia dapat memenuhi pertumbuhan kebutuhan energi sekaligus menjaga keamanan pasokan, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi dampak lingkungan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak akan bergantung pada satu teknologi atau satu jenis energi saja. Perkembangan energi global akan dipengaruhi oleh kombinasi teknologi, investasi, kebijakan, infrastruktur, inovasi, dan kerja sama internasional.
Dengan agenda yang mencakup seluruh aspek tersebut, Riyadh Energy Week 2026 akan menjadi salah satu forum yang menarik untuk mengamati arah perkembangan industri energi dunia.
Kesimpulan
Riyadh Energy Week 2026 bukan hanya tentang minyak dan gas. Agenda ini mempertemukan berbagai isu yang sedang membentuk masa depan energi, mulai dari keamanan energi dan investasi hingga energi terbarukan, hidrogen bersih, AI, digitalisasi, dan pengelolaan karbon.
Penyelenggaraan 25th WPC Energy Congress di Riyadh pada 11–15 Oktober 2026 juga menjadi tonggak penting karena merupakan pertama kalinya kongres tersebut diselenggarakan di Arab Saudi.
Bagi Arab Saudi, forum ini berlangsung bersamaan dengan transformasi sektor energi yang menjadi bagian dari Vision 2030. Bagi dunia, Riyadh Energy Week dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai bagaimana sistem energi global akan berkembang dalam beberapa dekade mendatang.
Referensi
- WPC Energy. (2026). 25th WPC Energy Congress: New dates announced in October 2026. WPC Energy.
- WPC Energy. (2026). WPC Energy 25th Congress Programme Highlights. WPC Energy.
- WPC Energy. (2026). Congresses. WPC Energy.
- WPC Energy. (2026). The WPC Energy Congress. WPC Energy.
- Saudi Vision 2030. (2025). A Sustainable Vision: Vision 2030 Annual Report 2024. Kingdom of Saudi Arabia.
- Saudi Vision 2030. (2024). Powering the Future: Vision 2030 Annual Report 2023. Kingdom of Saudi Arabia.
- Ministry of Energy, Kingdom of Saudi Arabia. (2025). Atlas: How Renewable Energy Data Shapes the Future.
- Ministry of Energy, Kingdom of Saudi Arabia. (2026). Renewable Technology Development and Innovation Sector.
- Public Investment Fund. (2024). PIF Green Bond Impact Assessment 2024.
- International Energy Agency. (2026). Global Energy Review 2026: Oil. IEA.