Minat bank sentral terhadap emas kembali mencapai rekor pada 2026. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, ketergantungan pada dolar AS, dan ketidakpastian pasar global, emas makin dipandang sebagai aset strategis dalam pengelolaan cadangan devisa.
Survei World Gold Council 2026 menunjukkan bahwa 45% responden bank sentral berencana meningkatkan cadangan emas dalam 12 bulan ke depan. Angka ini naik dari 43% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, 54% responden memperkirakan cadangan emas mereka tidak berubah, dan hanya 1% yang memperkirakan penurunan kepemilikan emas.
Data ini menegaskan satu hal penting. Emas tidak lagi hanya dipandang sebagai aset pelengkap. Bagi banyak bank sentral, emas kini menjadi bagian penting dari strategi cadangan resmi negara.
Mengapa Emas Makin Penting bagi Bank Sentral?
Peran emas dalam cadangan devisa terus menguat sejak 2022. Pada periode tersebut, pembelian emas oleh sektor resmi meningkat tajam dan menjadi salah satu faktor utama yang menopang pasar emas global.
Menurut Ahmed Azzam, Head of Market Research di Equiti Group, survei World Gold Council 2026 tidak menunjukkan bahwa bank sentral baru saja menyadari nilai strategis emas. Sebaliknya, tren tersebut sudah terbentuk dalam beberapa tahun terakhir.
Pesan utama dari survei ini adalah bahwa emas kini dikelola secara lebih terencana. Bank sentral tidak membeli emas hanya karena satu krisis tertentu. Mereka menempatkan emas dalam strategi jangka panjang untuk diversifikasi risiko, perlindungan nilai, likuiditas, dan ketahanan cadangan negara.
Risiko Geopolitik Jadi Faktor Utama
Survei World Gold Council dilakukan pada 5 Februari hingga 19 Mei 2026. Sebagian besar respons masuk setelah ketegangan Timur Tengah meningkat. Karena itu, hasil survei ini sangat relevan bagi kawasan yang terkait erat dengan pasar energi, perdagangan global, dan risiko geopolitik.
Dalam survei tersebut, 88% responden menyebut ketidakstabilan geopolitik sebagai faktor penting dalam manajemen cadangan. Angka ini lebih tinggi di negara pasar berkembang dan ekonomi berkembang, yaitu 95%. Sementara itu, di negara maju, angkanya mencapai 67%.
Temuan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik kini menjadi pertimbangan utama bagi bank sentral. Isu tersebut bahkan makin menonjol dibandingkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Kawasan Teluk Masih Bergantung pada Dolar AS
Bagi negara-negara Teluk, tren ini memiliki makna khusus. Kawasan Teluk masih sangat terkait dengan dolar AS. Banyak mata uang di kawasan ini dipatok terhadap dolar. Selain itu, perdagangan energi global juga masih banyak dilakukan dalam denominasi dolar.
Namun, keterikatan terhadap dolar tidak menghilangkan kebutuhan diversifikasi. Justru, emas menjadi instrumen penting untuk mengurangi risiko konsentrasi aset.
Azzam menilai kenaikan minat terhadap emas di Timur Tengah tidak boleh langsung dibaca sebagai upaya meninggalkan dolar AS. Penjelasan yang lebih tepat adalah bahwa emas memberi ruang bagi bank sentral untuk mendiversifikasi risiko, sambil tetap mempertahankan dolar sebagai pusat sistem cadangan.
Dengan kata lain, emas bukan pengganti dolar. Emas berfungsi sebagai penyeimbang dalam portofolio cadangan devisa.
Alasan Bank Sentral Memegang Emas
Survei World Gold Council menunjukkan bahwa 93% responden sudah memiliki emas dalam portofolio cadangan mereka. Angka ini naik dari 81% pada tahun sebelumnya.
Ada beberapa alasan utama bank sentral memegang emas.
Pertama, emas dinilai kuat saat terjadi krisis. Sebanyak 90% responden menyebut kinerja emas pada masa krisis sebagai alasan penting untuk memilikinya.
Kedua, emas berfungsi sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Nilai emas tidak bergantung pada kewajiban pihak lain seperti obligasi atau aset keuangan tertentu.
Ketiga, emas digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Saat daya beli mata uang melemah, emas sering dipandang sebagai aset yang mampu mempertahankan nilai.
Keempat, emas membantu diversifikasi portofolio cadangan. Bagi negara pasar berkembang, emas juga dinilai penting sebagai pelindung dari risiko geopolitik.
Alasan-alasan tersebut menjelaskan mengapa bank sentral tetap tertarik pada emas meskipun harganya berfluktuasi. Bagi bank sentral, keputusan memegang emas tidak hanya bergantung pada harga jangka pendek. Keputusan itu juga terkait dengan stabilitas jangka panjang.
Permintaan Emas Bank Sentral Tetap Kuat
Shaokai Fan, Head of Central Banks di World Gold Council, menyatakan bahwa bank sentral masih memiliki minat kuat terhadap emas. Penurunan harga terbaru tidak mengubah pandangan strategis mereka terhadap logam mulia tersebut.
Konsultan Metals Focus memperkirakan permintaan emas dari bank sentral pada 2026 akan melambat 15% secara tahunan dalam ukuran tonase. Meski begitu, permintaan tersebut masih berada di atas level sebelum 2022.
Artinya, pembelian emas oleh bank sentral mungkin tidak tumbuh secepat beberapa tahun sebelumnya. Namun, level permintaannya tetap kuat secara historis. Hal ini penting karena bank sentral bertindak sebagai pembeli jangka panjang, bukan spekulan jangka pendek.
Investor Swasta Juga Mempengaruhi Harga Emas
Fahad Badar dari tim global multi-asset Mercer menilai survei World Gold Council memperkuat pandangan bahwa bank sentral masih ingin menambah emas dan mengurangi eksposur terhadap dolar dalam beberapa tahun mendatang.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa pembelian bank sentral bukan satu-satunya faktor yang menggerakkan harga emas. Lonjakan harga emas pada 2024 dan 2025 juga didorong oleh arus investasi swasta dan institusional.
Karena itu, arah harga emas ke depan tetap bergantung pada minat investor. Jika investor tetap menjadikan emas sebagai aset lindung nilai, permintaan dapat bertahan kuat. Sebaliknya, imbal hasil riil yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS dapat mengurangi daya tarik emas.
Kondisi ini membuat pasar emas tetap berpotensi mengalami volatilitas.
Penyimpanan Emas Makin Menjadi Perhatian
Selain pembelian emas, strategi penyimpanan juga menjadi perhatian bank sentral. Survei World Gold Council menunjukkan bahwa 9% responden telah meningkatkan penyimpanan emas domestik dalam 12 bulan terakhir. Angka ini naik dari 5% pada tahun sebelumnya.
Selain itu, 10% responden menyatakan telah mendiversifikasi lokasi penyimpanan emas di luar negeri. Pada survei sebelumnya, angkanya hanya 2%.
Untuk 12 bulan ke depan, 7% responden berencana meningkatkan penyimpanan domestik. Sementara itu, 9% berencana memperluas diversifikasi lokasi penyimpanan luar negeri.
Menurut Azzam, aspek operasional ini sangat penting. Bank sentral tidak hanya melihat emas dari sisi harga. Mereka juga memperhatikan kendali, akses, dan keamanan aset.
Implikasi bagi Negara Teluk
Perubahan strategi emas memiliki implikasi besar bagi negara-negara Teluk. Uni Emirat Arab telah menjadi pusat regional untuk perdagangan dan pemurnian emas. Di sisi lain, Arab Saudi terus memperluas sektor pertambangan dan mineral sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi.
Dalam konteks ini, emas dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar komponen cadangan devisa. Emas juga dapat mendukung pembangunan pasar domestik, infrastruktur komoditas, dan pendalaman sektor keuangan.
Bagi negara Teluk, hal ini penting karena mereka menghadapi beberapa tantangan sekaligus. Tantangan tersebut meliputi fluktuasi harga minyak, likuiditas global yang lebih ketat, risiko geopolitik, dan kebutuhan diversifikasi ekonomi.
Permintaan Konsumen Melemah karena Harga Tinggi
Kuatnya minat bank sentral terhadap emas berbeda dengan kondisi pasar konsumen. Harga emas yang tinggi menekan permintaan perhiasan di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
Data World Gold Council sebelumnya menunjukkan bahwa permintaan perhiasan di kawasan Teluk dan Timur Tengah turun 23% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, menjadi 34,5 ton. Penurunan ini dipengaruhi oleh harga emas yang tinggi dan melemahnya daya beli konsumen.
Arab Saudi relatif lebih kuat dibandingkan rata-rata kawasan. Permintaan perhiasan di negara tersebut turun 13% menjadi 12,7 ton, dari 14,6 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan perbedaan besar antara permintaan resmi dan permintaan konsumen. Bank sentral membeli emas untuk strategi cadangan jangka panjang. Sementara itu, konsumen lebih sensitif terhadap harga.
Kesimpulan
Minat bank sentral terhadap emas mencapai rekor baru pada 2026. Kenaikan ini dipengaruhi oleh risiko geopolitik, kebutuhan diversifikasi cadangan, risiko konsentrasi pada dolar AS, dan meningkatnya perhatian terhadap kendali aset.
Bagi kawasan Timur Tengah dan Teluk, emas memiliki posisi strategis. Emas tidak menggantikan dolar AS, tetapi membantu mengurangi kerentanan akibat ketergantungan yang terlalu besar pada satu sistem cadangan.
Meski begitu, kuatnya permintaan bank sentral tidak membuat pasar emas bebas dari volatilitas. Harga emas tetap dipengaruhi oleh imbal hasil riil, pergerakan dolar AS, arus investasi swasta, dan dinamika geopolitik.
Tren ini menunjukkan bahwa emas kini menjadi bagian yang lebih serius dalam strategi cadangan bank sentral. Bagi pembuat kebijakan dan investor, emas bukan hanya aset lindung nilai. Emas juga menjadi instrumen strategis untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Referensi
Diaaeddine, D. (2026, June 16). Central bank gold appetite hits record as Middle East risks sharpen focus. Arab News. https://arab.news/wszry
World Gold Council. (2026). Central Bank Gold Reserves Survey 2026. World Gold Council. https://www.gold.org/goldhub/research/central-bank-gold-reserves-survey-2026
Reuters. (2026, June 16). More central banks signal plans to increase gold holdings, WGC survey shows. Reuters. https://www.reuters.com/markets/asia/more-central-banks-signal-plans-increase-gold-holdings-wgc-survey-shows-2026-06-16/