Di tengah hamparan Oasis Al-Ahsa, Provinsi Timur Arab Saudi, berdiri sebuah masjid sederhana yang menyimpan sejarah penting perkembangan Islam. Bangunan tersebut adalah Masjid Jawatha Al-Ahsa, salah satu masjid bersejarah tertua di dunia Islam.
Masjid Jawatha memang tidak semegah Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Namun, nilai utama masjid ini tidak terletak pada ukuran maupun kemewahan arsitekturnya.
Masjid Jawatha dikenal sebagai salah satu tempat paling awal yang digunakan untuk melaksanakan salat Jumat setelah Masjid Nabawi di Madinah. Oleh karena itu, masjid ini menjadi destinasi wisata islami yang penting bagi wisatawan yang mengunjungi kawasan Al-Ahsa.
Masjid Jawatha Al-Ahsa dan Keistimewaannya
Masjid Jawatha Al-Ahsa menjadi saksi berkembangnya komunitas Muslim di bagian timur Semenanjung Arab. Masjid tersebut dibangun oleh Bani Abdul Qais, yaitu kabilah yang menerima Islam pada masa Nabi Muhammad saw.
Keistimewaan lain dari masjid ini berkaitan dengan pelaksanaan salat Jumat. Saudipedia menyebut Masjid Jawatha sebagai masjid kedua yang digunakan untuk salat Jumat setelah Masjid Nabawi.
Penyebutan tersebut bukan berarti Jawatha merupakan masjid kedua yang dibangun dalam sejarah Islam. Kedudukannya secara khusus berhubungan dengan pelaksanaan salat Jumat oleh komunitas Muslim di luar Madinah.
Berada di Kawasan Oasis Al-Ahsa
Masjid Jawatha berada sekitar 17 kilometer di sebelah timur laut Kota Al-Hofuf. Masjid ini termasuk dalam wilayah Al-Ahsa, Provinsi Timur Arab Saudi.
Sejak dahulu, Al-Ahsa telah menjadi kawasan permukiman, pertanian, perdagangan, dan pertemuan masyarakat di wilayah timur Jazirah Arab. Keberadaan mata air dan tanah yang subur membuat masyarakat dapat membangun kehidupan di tengah lingkungan gurun.
Oasis Al-Ahsa terdiri atas kebun, kanal, mata air, sumur, danau drainase, bangunan bersejarah, serta situs arkeologi. Kawasan ini juga memiliki sekitar 2,5 juta pohon kurma.
Pada 2018, UNESCO memasukkan Al-Ahsa Oasis: An Evolving Cultural Landscape ke dalam Daftar Warisan Dunia. UNESCO menilai kawasan tersebut sebagai contoh penting hubungan panjang antara manusia, sumber air, pertanian, dan perkembangan permukiman di lingkungan gurun.
Masjid Jawatha dan situs arkeologi di sekitarnya termasuk dalam komponen kawasan warisan Al-Ahsa yang tercatat dalam peta UNESCO. Karena itu, kunjungan ke masjid ini tidak hanya menawarkan pengalaman religius, tetapi juga kesempatan untuk memahami lanskap budaya masyarakat setempat.
Dibangun pada Masa Nabi Muhammad
Masjid Jawatha diperkirakan dibangun pada tahun ketujuh Hijriah atau sekitar 628 M. Pembangunannya dilakukan oleh Bani Abdul Qais, sebuah kabilah yang mendiami wilayah Al-Ahsa.
Bani Abdul Qais termasuk kelompok masyarakat di bagian timur Semenanjung Arab yang menerima Islam pada masa Nabi Muhammad saw. Pemimpin mereka bernama Al-Mundzir bin Amr. Ia juga dikenal dengan julukan Al-Asyaj.
Menurut Saudipedia, Al-Mundzir mengirim seorang utusan untuk memastikan kebenaran ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Setelah memperoleh penjelasan, ia memeluk Islam. Anggota kabilahnya kemudian mengikuti langkah tersebut.
Komunitas Bani Abdul Qais selanjutnya membangun Masjid Jawatha sebagai tempat ibadah. Kehadiran masjid ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam pada masa awal tidak hanya terjadi di Makkah dan Madinah.
Wilayah Al-Ahsa juga memainkan peranan penting dalam pembentukan komunitas Muslim di bagian timur Jazirah Arab.
Tempat Salat Jumat Kedua dalam Sejarah Islam
Daya tarik sejarah utama Masjid Jawatha Al-Ahsa berkaitan dengan pelaksanaan salat Jumat. Sumber resmi Arab Saudi menyebutnya sebagai tempat pelaksanaan salat Jumat setelah Masjid Nabawi di Madinah.
Pada masa awal Islam, salat Jumat tidak hanya menjadi kegiatan ibadah. Pertemuan tersebut juga berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pengetahuan agama dan memperkuat hubungan sosial umat Islam.
Melalui salat Jumat, masyarakat Muslim dapat berkumpul secara teratur. Mereka mendengarkan khotbah, membahas kehidupan bersama, dan memperkuat persatuan di antara anggota komunitas.
Oleh sebab itu, kedudukan Masjid Jawatha melampaui nilai fisik bangunannya. Masjid ini menjadi bukti bahwa masyarakat Muslim telah berkembang secara terorganisasi di Al-Ahsa sejak masa awal Islam.
Arsitektur Tradisional yang Sederhana
Masjid Jawatha memperlihatkan karakter arsitektur tradisional Al-Ahsa. Masyarakat membangunnya dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bahan tersebut meliputi batu, campuran tanah liat, dan kayu untuk bagian atap. Saudipedia mencatat bahwa kayu shandal digunakan sebagai salah satu bahan konstruksi atap masjid.
Bentuk bangunannya relatif rendah dan sederhana. Desain tersebut menyesuaikan diri dengan kondisi iklim panas di bagian timur Arab Saudi.
Ruang salat Masjid Jawatha memiliki tiga lorong atau serambi yang tersusun sejajar dengan dinding kiblat. Di bagian depan terdapat mihrab yang menunjukkan arah Ka’bah. Selain itu, masjid ini memiliki sisa tempat mimbar dan beberapa menara berbentuk bundar pada bagian luar bangunan.
Masjid Jawatha memiliki luas sekitar 205,5 meter persegi dan dapat menampung kurang lebih 170 jemaah. Ukuran tersebut tergolong kecil apabila dibandingkan dengan masjid modern. Namun, skalanya membantu pengunjung membayangkan bentuk pusat ibadah masyarakat Muslim pada masa awal.
Dinding berwarna tanah, pintu kayu, dan lengkungan pada bagian dalam menciptakan suasana tenang. Masjid ini tidak menampilkan ornamen yang berlebihan. Sebaliknya, desainnya menekankan fungsi utama masjid sebagai tempat salat dan pertemuan umat.
Bertahan Melewati Perubahan Zaman
Usia yang panjang membuat Masjid Jawatha menghadapi berbagai kerusakan. Cuaca, erosi, pergerakan pasir, serta perubahan lingkungan menyebabkan beberapa bagian bangunan mengalami keruntuhan.
Masjid ini kemudian menjalani beberapa tahap perbaikan. Saudipedia mencatat bahwa pemugaran pernah dilakukan pada 1795 oleh Syekh Ahmed bin Omar.
Pemugaran dan rekonstruksi kembali dilakukan pada akhir dekade 2000-an. Sumber Saudipedia menyebut rekonstruksi bagian yang runtuh selesai sekitar 2009. Sumber lain mencatat pemugaran pada 2010 oleh Al-Turath Charitable Foundation dengan dukungan Royal Commission for Jubail and Yanbu.
Pada 2022, Masjid Jawatha masuk dalam fase kedua Prince Mohammed bin Salman Project for the Development of Historic Mosques. Program tersebut bertujuan mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah sekaligus mempertahankan karakter arsitektur bersejarahnya.
Program itu juga berupaya memperkenalkan nilai agama dan budaya masjid-masjid bersejarah kepada masyarakat. Dalam prosesnya, luas Masjid Jawatha tetap dipertahankan sekitar 205,5 meter persegi dengan kapasitas sekitar 170 jemaah.
Pemugaran bangunan bersejarah membutuhkan pendekatan yang hati-hati. Tujuannya bukan sekadar membuat bangunan tampak baru.
Bahan bangunan, susunan ruang, bentuk pintu, jendela, mihrab, dan lengkungan perlu dipertahankan. Dengan demikian, karakter asli masjid tidak hilang akibat proses pembangunan kembali.
Pengalaman Wisata Islami di Masjid Jawatha
Berkunjung ke Masjid Jawatha memberikan pengalaman yang berbeda dari wisata religi di Makkah dan Madinah. Di tempat ini, wisatawan dapat melihat jejak perkembangan Islam dalam sebuah komunitas oasis yang jauh dari pusat awal pemerintahan Islam.
Bangunan masjid dapat dijelajahi dalam waktu relatif singkat. Namun, kunjungan akan terasa lebih bermakna apabila wisatawan memahami sejarah Bani Abdul Qais dan kedudukan Jawatha dalam sejarah salat Jumat.
Wisatawan juga dapat menggabungkan kunjungan ke Masjid Jawatha dengan penjelajahan berbagai tempat menarik di Al-Ahsa. Kawasan oasis tersebut memiliki kebun kurma, kanal tradisional, mata air, pasar bersejarah, benteng, dan situs arkeologi.
Dengan demikian, perjalanan ke Al-Ahsa tidak hanya berisi kegiatan ziarah. Wisatawan juga dapat mempelajari hubungan antara agama, budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat setempat.
UNESCO menjelaskan bahwa Al-Ahsa merupakan lanskap budaya yang terus berkembang. Kawasan ini memperlihatkan kesinambungan kehidupan manusia sejak masa Neolitikum hingga masa kini.
Etika Berkunjung ke Masjid Jawatha
Masjid Jawatha masih memiliki fungsi keagamaan. Oleh karena itu, wisatawan perlu menghormati kesakralan tempat tersebut.
Gunakan pakaian yang sopan dan sesuai dengan ketentuan setempat. Pengunjung juga perlu menjaga ketenangan, terutama ketika jemaah sedang melaksanakan salat.
Selain itu, hindari berdiri atau mengambil gambar di tempat yang dapat mengganggu jemaah. Pengambilan foto sebaiknya dilakukan secara wajar dan mengikuti aturan pengelola.
Waktu operasional serta akses ke bagian dalam masjid juga dapat berubah. Karena itu, pengunjung sebaiknya memeriksa informasi terbaru dari pengelola atau otoritas pariwisata setempat sebelum datang.
Menjaga Identitas di Tengah Perkembangan Pariwisata
Perkembangan pariwisata Arab Saudi membawa perhatian baru terhadap berbagai tempat bersejarah di luar Makkah dan Madinah. Masjid Jawatha menjadi bukti bahwa wisata islami tidak selalu berpusat pada bangunan yang besar dan monumental.
Masjid kecil ini menyimpan informasi mengenai penyebaran Islam, pembentukan komunitas Muslim, dan perkembangan arsitektur lokal. Nilai tersebut semakin kuat karena Jawatha berada di tengah lanskap Al-Ahsa yang telah berkembang selama ribuan tahun.
Namun, peningkatan jumlah wisatawan juga perlu diikuti dengan pelestarian yang tepat. Aktivitas wisata tidak boleh merusak bangunan maupun mengganggu kehidupan masyarakat di sekitarnya.
UNESCO menempatkan pariwisata budaya berkelanjutan sebagai salah satu prioritas dalam pengelolaan Oasis Al-Ahsa. Pengelolaan tersebut perlu menyeimbangkan kunjungan wisata, aktivitas penduduk, dan perlindungan terhadap lingkungan bersejarah.
Masjid Kecil dengan Sejarah Besar
Masjid Jawatha Al-Ahsa mungkin tidak memiliki menara tinggi atau ruang salat yang luas. Namun, kesederhanaannya menyimpan bagian penting dari sejarah Islam di wilayah timur Arab Saudi.
Masjid ini dibangun oleh komunitas Bani Abdul Qais pada masa Nabi Muhammad saw. Keberadaannya menjadi saksi tumbuhnya masyarakat Muslim di kawasan Al-Ahsa.
Kedudukannya sebagai salah satu tempat paling awal untuk pelaksanaan salat Jumat setelah Masjid Nabawi membuat Jawatha memiliki arti khusus. Masjid tersebut juga memperlihatkan bagaimana komunitas Muslim membangun kehidupan keagamaan di kawasan oasis.
Bagi wisatawan, kunjungan ke Masjid Jawatha bukan sekadar melihat bangunan tua. Perjalanan ini menjadi kesempatan untuk mengenal perkembangan Islam dari sudut yang jarang dibahas.
Di tempat inilah sebuah komunitas menerima Islam, mendirikan masjid, melaksanakan salat Jumat, dan meninggalkan warisan yang masih dapat disaksikan hingga sekarang.
Referensi
- Saudi Press Agency. (2025). Prince Mohammed bin Salman’s Historic Mosques Project Restores Jawatha, Islam’s Second Friday Prayer Mosque.
- Saudi Press Agency. (2022). In Its Second Phase for Developing Historical Mosques, Prince Mohammed bin Salman Project Restores Original Shape and Architecture of Eastern Region Mosques.
- Saudipedia. (2022). Jawatha Historic Mosque.
- Saudipedia. (2023). When Was Jawatha Mosque Built in the Eastern Province?
- Saudipedia. Jawatha Archaeological Site.
- UNESCO World Heritage Centre. Al-Ahsa Oasis, an Evolving Cultural Landscape.
- UNESCO World Heritage Committee. (2018). Decision 42 COM 8B.16: Al-Ahsa Oasis, an Evolving Cultural Landscape.