Masjid al-Bay’ah merupakan salah satu situs bersejarah Islam yang terletak di Mina, Makkah, Arab Saudi. Masjid ini berkaitan erat dengan Baiat Aqabah, yaitu peristiwa penting yang memperkuat dukungan penduduk Yatsrib terhadap dakwah Nabi Muhammad saw. Peristiwa tersebut menjadi salah satu landasan bagi hijrah Nabi ke Madinah dan perkembangan masyarakat Islam.
Selain memiliki nilai keagamaan, Masjid al-Bay’ah menyimpan warisan sejarah yang menarik untuk dipelajari. Bangunannya menjadi pengingat akan komitmen, solidaritas, dan perjuangan umat Islam pada masa awal kenabian. Karena itu, masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah Islami yang patut dikenal oleh umat Islam.
Mengenal Masjid al-Bay’ah di Mina, Makkah
Masjid al-Bay’ah terletak di kawasan Mina, sebelah timur Kota Makkah, tepatnya di lereng selatan Gunung Thubayr. Lokasinya berada di kawasan yang dikenal sebagai Syi’b al-Ansar, tidak jauh dari Jamarat al-Aqabah, salah satu lokasi penting dalam pelaksanaan ibadah haji.
Letak tersebut membuat Masjid al-Bay’ah memiliki hubungan geografis dengan peristiwa Baiat Aqabah. Peristiwa ini menjadi bagian penting dari sejarah dakwah Nabi Muhammad saw., terutama dalam membangun hubungan dengan penduduk Yatsrib.
Nama al-Bay’ah berasal dari bahasa Arab yang berarti ikrar atau janji setia. Nama tersebut merujuk pada komitmen sejumlah penduduk Yatsrib untuk menerima Islam dan mendukung dakwah Nabi Muhammad saw.
Namun, bangunan masjid yang berdiri saat ini bukan berasal dari masa Nabi Muhammad saw. Masjid ini dibangun beberapa abad setelah peristiwa Baiat Aqabah sebagai penanda dan pengingat sejarah. Dengan demikian, nilai utamanya terletak pada keterkaitan lokasi tersebut dengan perjalanan awal dakwah Islam.
Sejarah Baiat Aqabah: Titik Penting Perjalanan Dakwah Islam
Untuk memahami sejarah Masjid al-Bay’ah, kita perlu mengenal peristiwa Baiat Aqabah. Pada masa awal kenabian, Nabi Muhammad saw. menghadapi penolakan dan tekanan dari kelompok yang menentang dakwah Islam di Makkah. Dalam situasi tersebut, dukungan dari masyarakat di luar Makkah menjadi faktor penting bagi perkembangan dakwah.
Baiat Aqabah berlangsung dalam dua tahap, yaitu Baiat Aqabah pertama dan Baiat Aqabah kedua.
1. Baiat Aqabah Pertama
Baiat Aqabah pertama berlangsung sekitar tahun 621 M. Pada saat itu, sebanyak 12 orang dari Yatsrib bertemu dengan Nabi Muhammad saw. pada musim haji. Mereka menyatakan keimanan dan berkomitmen menjalankan ajaran Islam, termasuk menjauhi kemusyrikan dan perbuatan tercela.
Setelah peristiwa tersebut, Nabi Muhammad saw. mengutus Mus’ab bin Umair ke Yatsrib. Tugasnya adalah mengajarkan Islam dan membimbing masyarakat yang mulai menerima dakwah.
Kehadiran Mus’ab bin Umair membantu memperluas penyebaran Islam di Yatsrib. Dukungan masyarakat setempat kemudian berkembang dan membuka jalan bagi peristiwa penting berikutnya.
2. Baiat Aqabah Kedua
Baiat Aqabah kedua berlangsung sekitar tahun 622 M. Dalam peristiwa ini, sekitar 73 laki-laki dan dua perempuan dari Yatsrib bertemu dengan Nabi Muhammad saw. secara rahasia.
Mereka tidak hanya menyatakan keimanan, tetapi juga berkomitmen untuk mendukung dan melindungi Nabi apabila beliau berhijrah ke Yatsrib. Komitmen tersebut menunjukkan kesediaan mereka menghadapi risiko demi mempertahankan dukungan terhadap dakwah Islam.
Dalam riwayat sejarah, Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw., turut hadir dalam pertemuan tersebut. Ia menekankan besarnya tanggung jawab yang harus dipikul penduduk Yatsrib apabila mereka memberikan perlindungan kepada Nabi.
Baiat Aqabah kedua menjadi salah satu landasan penting bagi hijrah Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslim ke Madinah. Hijrah tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan juga membuka jalan bagi pembentukan masyarakat Islam yang lebih terorganisasi.
Madinah kemudian berkembang menjadi pusat kehidupan keagamaan, sosial, dan politik umat Islam pada masa Nabi Muhammad saw.
Sejarah Pembangunan Masjid al-Bay’ah
Meskipun Baiat Aqabah berlangsung pada masa Nabi Muhammad saw., Masjid al-Bay’ah baru dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
Menurut Saudipedia dan portal pariwisata Discover Makkah, Khalifah Abu Ja’far al-Mansur memerintahkan pembangunan masjid ini pada tahun 144 H, yang diperkirakan bertepatan dengan 761 M.
Pembangunan tersebut bertujuan menandai lokasi yang berkaitan dengan Baiat Aqabah. Keberadaan masjid ini menunjukkan upaya masyarakat Muslim pada masa berikutnya untuk menjaga ingatan terhadap peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Seiring berjalannya waktu, Masjid al-Bay’ah mengalami pemugaran. Salah satu pemugaran penting dikaitkan dengan masa Khalifah Abbasiyah al-Mustansir pada tahun 625 H atau sekitar 1227 M. Informasi mengenai pembangunan dan pemugaran masjid juga tercatat dalam prasasti batu yang terdapat pada bagian dinding bangunan.
Prasasti tersebut menjadi salah satu petunjuk sejarah mengenai perjalanan bangunan dan upaya pemeliharaannya dari masa ke masa.
Upaya pelestarian Masjid al-Bay’ah berlanjut hingga masa modern. Pada 27 Maret 2025, Saudi Press Agency melaporkan bahwa masjid ini termasuk dalam tahap kedua proyek pengembangan masjid bersejarah yang dipimpin melalui inisiatif Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Program tersebut bertujuan melestarikan masjid bersejarah dengan tetap mempertahankan karakter arsitektur dan nilai budayanya. Dengan demikian, Masjid al-Bay’ah tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian warisan Islam di Arab Saudi.
Arsitektur dan Keunikan Masjid al-Bay’ah
Masjid al-Bay’ah memiliki karakter arsitektur tradisional yang mencerminkan perkembangan bangunan keagamaan di wilayah Hijaz, Arab Saudi bagian barat.
Bangunannya relatif sederhana. Material yang digunakan antara lain batu bata lokal, gipsum, dan kayu. Kesederhanaan tersebut menjadi salah satu ciri yang menarik untuk dipelajari dari sudut pandang sejarah arsitektur Islam.
Salah satu unsur penting bangunan ini adalah prasasti batu yang mencatat informasi mengenai pembangunan dan pemugarannya. Prasasti tersebut memiliki nilai dokumenter karena membantu menjelaskan perjalanan sejarah masjid.
Keunikan Masjid al-Bay’ah terletak pada hubungan antara lokasi bersejarah dan bangunan yang didirikan untuk mengenangnya. Peristiwa Baiat Aqabah berlangsung pada abad ketujuh, sedangkan pembangunan masjid dilakukan beberapa abad kemudian.
Perpaduan tersebut menjadikan Masjid al-Bay’ah relevan bagi pengunjung yang tertarik mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw., arsitektur tradisional, dan perkembangan peradaban Islam.
Nilai Sejarah dan Pelajaran dari Baiat Aqabah
Sejarah Masjid al-Bay’ah tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Baiat Aqabah. Peristiwa tersebut memberikan sejumlah pelajaran yang masih relevan untuk kehidupan umat Islam saat ini.
1. Komitmen terhadap keyakinan
Penduduk Yatsrib yang mengikuti Baiat Aqabah menunjukkan komitmen terhadap keimanan dan ajaran Islam. Mereka tidak hanya menyatakan keyakinan secara lisan, tetapi juga bersedia mendukung dakwah Nabi Muhammad saw.
Nilai ini mengingatkan bahwa keyakinan perlu diwujudkan melalui tindakan dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
2. Solidaritas dan kepedulian sosial
Baiat Aqabah juga memperlihatkan pentingnya solidaritas. Penduduk Yatsrib bersedia memberikan dukungan dan perlindungan kepada Nabi Muhammad saw. serta kaum Muslim.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi tantangan dan membangun masyarakat.
3. Kepercayaan dan tanggung jawab
Komitmen penduduk Yatsrib mengandung tanggung jawab besar. Mereka bersedia menerima konsekuensi dari keputusan untuk mendukung Nabi dan dakwah Islam.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa kepercayaan harus disertai tanggung jawab serta kesediaan untuk menepati komitmen.
4. Kerja sama dalam membangun masyarakat
Perkembangan Islam pada masa awal tidak hanya ditentukan oleh penyampaian ajaran agama, tetapi juga oleh hubungan sosial dan kerja sama antarkelompok masyarakat.
Baiat Aqabah menjadi salah satu contoh bagaimana kepercayaan dan kerja sama membuka jalan bagi terbentuknya masyarakat Muslim di Madinah.
Nilai-nilai tersebut membuat Masjid al-Bay’ah lebih dari sekadar bangunan bersejarah. Masjid ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya keimanan, solidaritas, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Masjid al-Bay’ah sebagai Destinasi Wisata Sejarah Islami
Bagi wisatawan Muslim, Masjid al-Bay’ah menawarkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah dakwah Nabi Muhammad saw. dan perjalanan menuju hijrah ke Madinah.
Lokasinya di Mina memberikan konteks geografis untuk memahami hubungan antara Baiat Aqabah dan perkembangan sejarah Islam di Makkah. Pengunjung juga dapat mempelajari bagaimana sebuah lokasi yang berkaitan dengan peristiwa bersejarah kemudian dipertahankan melalui pembangunan dan pelestarian masjid.
Sebelum berkunjung, wisatawan sebaiknya memeriksa informasi akses terbaru melalui sumber resmi pariwisata Makkah. Hal ini penting karena pengaturan akses di kawasan Mina dapat berubah sesuai dengan kegiatan haji dan pengelolaan kawasan suci.
Selama berkunjung, wisatawan perlu menjaga ketertiban, menghormati fungsi keagamaan tempat tersebut, dan mengikuti ketentuan setempat. Kunjungan ke situs sejarah juga sebaiknya disertai pemahaman yang tepat mengenai peristiwa yang berkaitan dengannya.
Dengan persiapan tersebut, kunjungan ke Masjid al-Bay’ah dapat menjadi sarana pembelajaran sejarah Islam sekaligus kesempatan untuk merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam Baiat Aqabah.
Kesimpulan
Masjid al-Bay’ah merupakan situs bersejarah di Mina, Makkah, yang berkaitan erat dengan Baiat Aqabah. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw. karena memperkuat dukungan penduduk Yatsrib dan membuka jalan menuju hijrah ke Madinah.
Masjid ini dibangun pada masa Khalifah Abbasiyah Abu Ja’far al-Mansur sekitar tahun 761 M. Bangunannya menjadi pengingat sejarah yang menghubungkan perjalanan dakwah pada masa Nabi dengan upaya pelestarian warisan Islam pada masa berikutnya.
Selain memiliki nilai sejarah dan arsitektur, Masjid al-Bay’ah mengandung pelajaran tentang komitmen, solidaritas, kepercayaan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut menjadikannya destinasi wisata sejarah Islami yang menarik untuk dipelajari.
Melalui pemahaman terhadap sejarah Masjid al-Bay’ah, umat Islam dapat mengenal lebih dekat perjalanan awal dakwah Islam sekaligus mengambil pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi
Discover Makkah. (n.d.). Al-Bay’ah Mosque. https://www.discovermakkah.sa/en/places-worth-visiting/landmarks/al-bay-ah-mosque
Islam Museum. (n.d.). The first pledge of al-Aqaba. https://islam.museum/en/event/first-pledge-of-aqaba/
Islam Museum. (n.d.). The second pledge of al-Aqaba. https://islam.museum/en/event/second-pledge-of-aqaba/
Al-Mubarakpuri, S. R. (2002). The sealed nectar: Biography of the Noble Prophet. Darussalam.
Saudi Press Agency. (2025, March 27). Mohammed bin Salman Mosques Project renovates historic Al-Bayah Mosque in Makkah. https://www.spa.gov.sa/N2289522
Saudipedia. (2023). Al-Bay’ah Mosque. https://saudipedia.com/en/al-bay%22ah-mosque