Kepemilikan rumah Arab Saudi terus menunjukkan perkembangan positif menjelang pencapaian Saudi Vision 2030. Pemerintah menargetkan 70 persen keluarga Saudi telah memiliki rumah sendiri pada 2030.
Hingga akhir 2025, tingkat kepemilikan rumah keluarga Saudi telah mencapai 66,24 persen. Dengan demikian, pemerintah hanya memerlukan peningkatan sekitar 3,76 poin persentase untuk mencapai target tersebut.
Pencapaian ini memperlihatkan kemajuan penting dalam pelaksanaan Housing Program atau Program Perumahan. Program tersebut dirancang untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Keberhasilan tersebut tidak hanya berasal dari pembangunan rumah baru. Pemerintah juga memperluas dukungan pembiayaan, mengembangkan layanan digital, dan meningkatkan kerja sama dengan lembaga keuangan serta pengembang properti.
Kepemilikan Rumah Menjadi Prioritas Saudi Vision 2030
Peningkatan kepemilikan rumah menjadi salah satu indikator penting dalam Saudi Vision 2030. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus memperkuat kualitas hidup masyarakat Arab Saudi.
Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Kepemilikan rumah juga memberikan rasa aman, kepastian tempat tinggal, dan stabilitas ekonomi bagi keluarga.
Oleh karena itu, pemerintah Arab Saudi tidak sekadar mengejar jumlah unit yang dibangun. Pemerintah juga memperhatikan keterjangkauan harga, kemudahan pembiayaan, kualitas kawasan, dan ketersediaan fasilitas pendukung.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan perumahan telah ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan sosial dan ekonomi. Selanjutnya, sektor perumahan juga diharapkan mendukung pertumbuhan investasi dan memperluas peran sektor swasta.
Sebanyak 63.076 Keluarga Menempati Rumah Pertama
Perkembangan program perumahan Arab Saudi berlanjut pada semester pertama 2026. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 63.076 keluarga Saudi berhasil menempati rumah pertama mereka.
Pada Juni 2026 saja, terdapat 12.004 keluarga yang mulai menempati rumah pertama. Angka tersebut menunjukkan bahwa ribuan keluarga memperoleh akses terhadap hunian setiap bulan.
Selain membantu keluarga mendapatkan rumah pertama, pemerintah juga memberikan layanan dukungan perumahan kepada 48.631 keluarga selama semester pertama 2026. Pada Juni 2026, layanan tersebut diterima oleh 10.160 keluarga.
Dukungan yang diberikan tidak selalu berupa rumah siap huni. Pemerintah menyediakan beberapa pilihan bantuan berdasarkan kemampuan keuangan, kondisi keluarga, dan kebutuhan tempat tinggal.
Pendekatan tersebut membuat program perumahan menjadi lebih fleksibel. Setiap keluarga dapat memilih skema yang paling sesuai tanpa harus mengikuti satu pola pembiayaan yang sama.
Program Sakani Mendukung Kepemilikan Rumah Arab Saudi
Program Sakani menjadi salah satu instrumen utama dalam meningkatkan kepemilikan rumah Arab Saudi. Program ini diluncurkan pada 2017 untuk membantu keluarga Saudi mendapatkan hunian yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Hingga Juni 2026, Program Sakani telah mencatat 1.046.890 kontrak perumahan bersubsidi. Jumlah tersebut memperlihatkan luasnya jangkauan program dan tingginya partisipasi masyarakat.
Melalui Sakani, masyarakat dapat memilih beberapa produk perumahan, antara lain:
- Rumah siap huni.
- Rumah yang masih dalam tahap pembangunan.
- Pembiayaan pembangunan rumah secara mandiri.
- Lahan perumahan yang dilengkapi layanan dasar.
- Layanan konsultasi pembiayaan perumahan.
Beragam pilihan tersebut memberikan keleluasaan kepada keluarga untuk menentukan jenis hunian berdasarkan pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan lokasi pekerjaan.
Fleksibilitas ini menjadi salah satu faktor yang mempercepat peningkatan kepemilikan rumah. Masyarakat tidak hanya memperoleh bantuan, tetapi juga dapat menyesuaikan produk perumahan dengan kebutuhan jangka panjang.
Digitalisasi Mempercepat Proses Kepemilikan Rumah
Pemerintah Arab Saudi memanfaatkan teknologi digital untuk menyederhanakan proses pengajuan perumahan. Melalui platform Sakani, masyarakat dapat mengakses layanan tanpa harus mendatangi banyak instansi.
Pengguna dapat memeriksa kelayakan, mencari produk perumahan, memilih jenis dukungan, dan memantau proses pengajuan secara daring. Mereka juga dapat memperoleh informasi mengenai pembiayaan dan proyek yang tersedia.
Digitalisasi membantu mengurangi prosedur administratif yang panjang. Selain itu, sistem digital membuat proses pengajuan menjadi lebih cepat, transparan, dan mudah dipantau.
Platform Sakani juga menghubungkan calon pemilik rumah dengan pengembang, lembaga keuangan, dan layanan pemerintah. Integrasi tersebut menciptakan ekosistem perumahan yang lebih efisien.
Dengan demikian, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai sarana administrasi. Teknologi juga menjadi bagian penting dari strategi pemerintah untuk memperluas akses terhadap rumah.
Kemitraan Pemerintah dan Sektor Swasta
Peningkatan kepemilikan rumah tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah. Sektor swasta juga memiliki peran penting dalam pembangunan dan penyediaan pembiayaan.
Pengembang properti menyediakan berbagai proyek dengan pilihan lokasi, ukuran, harga, dan fasilitas yang berbeda. Sementara itu, lembaga keuangan menawarkan produk pembiayaan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.
Kerja sama ini membantu meningkatkan pasokan rumah di pasar. Ketika jumlah rumah bertambah, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh hunian.
Kemitraan tersebut juga mempercepat pembangunan proyek. Pemerintah dapat berfokus pada regulasi, penyediaan infrastruktur, dan dukungan pembiayaan. Selanjutnya, pengembang bertanggung jawab terhadap pembangunan dan pengelolaan kawasan.
Namun, kerja sama dengan sektor swasta tetap membutuhkan pengawasan. Pemerintah perlu memastikan bahwa harga rumah, kualitas bangunan, dan skema pembiayaan tetap melindungi kepentingan masyarakat.
Pembangunan Kawasan Permukiman Terpadu
Strategi perumahan Arab Saudi tidak hanya berorientasi pada pembangunan unit rumah. Pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan permukiman yang terpadu dan berkelanjutan.
Kawasan tersebut dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, rekreasi, dan ruang terbuka. Beberapa proyek juga dirancang agar terhubung dengan jaringan transportasi dan pusat pekerjaan.
Ketersediaan fasilitas tersebut dapat mengurangi waktu perjalanan masyarakat. Selain itu, lingkungan yang tertata dapat meningkatkan kenyamanan dan memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Pendekatan kawasan terpadu menunjukkan bahwa kualitas perumahan tidak hanya ditentukan oleh kondisi bangunan. Lokasi, fasilitas, aksesibilitas, dan kondisi lingkungan juga menentukan kualitas hidup penghuni.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu memastikan bahwa rumah dengan harga terjangkau tetap berada di lokasi yang layak. Rumah yang murah tetapi jauh dari pekerjaan dan fasilitas publik dapat menimbulkan biaya tambahan bagi keluarga.
Dampak Kepemilikan Rumah terhadap Perekonomian
Pembangunan perumahan memberikan dampak yang luas terhadap perekonomian Arab Saudi. Peningkatan proyek perumahan mendorong pertumbuhan sektor konstruksi, bahan bangunan, transportasi, dan jasa keuangan.
Sektor desain, teknologi properti, konsultasi, dan pemeliharaan bangunan juga memperoleh manfaat. Semakin banyak proyek yang dibangun, semakin besar kebutuhan terhadap tenaga kerja dan layanan pendukung.
Program perumahan juga menciptakan peluang investasi bagi perusahaan swasta. Kondisi ini sejalan dengan agenda diversifikasi ekonomi Arab Saudi yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak.
Dengan demikian, peningkatan kepemilikan rumah Arab Saudi bukan hanya kebijakan sosial. Program tersebut juga menjadi instrumen untuk memperluas aktivitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan sektor nonmigas.
Namun, manfaat ekonomi tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan pasar yang baik. Pemerintah perlu mencegah spekulasi harga dan memastikan rumah tetap dapat dijangkau oleh keluarga berpenghasilan menengah maupun rendah.
Tantangan Menuju Target 70 Persen
Meskipun target 70 persen semakin dekat, pemerintah Arab Saudi masih menghadapi sejumlah tantangan.
Pertama, akses terhadap perumahan harus tersedia secara merata. Keluarga yang tinggal di luar kota besar perlu memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses rumah dan pembiayaan.
Kedua, harga rumah perlu dijaga agar tetap sesuai dengan kemampuan masyarakat. Kenaikan permintaan tanpa penambahan pasokan dapat mendorong harga menjadi semakin tinggi.
Ketiga, kemudahan pembiayaan perlu disertai penilaian kemampuan membayar. Pemerintah dan lembaga keuangan harus memastikan bahwa cicilan tidak menimbulkan beban utang berlebihan.
Keempat, kualitas bangunan harus tetap menjadi perhatian. Peningkatan jumlah rumah tidak boleh mengurangi standar keselamatan, kenyamanan, dan ketahanan bangunan.
Kelima, proyek perumahan harus mempertimbangkan akses terhadap transportasi, fasilitas publik, dan pusat pekerjaan. Tanpa dukungan tersebut, penghuni dapat menghadapi biaya perjalanan yang tinggi.
Arah Kebijakan Perumahan Menjelang 2030
Menjelang 2030, pemerintah Arab Saudi perlu mempertahankan laju peningkatan kepemilikan rumah. Salah satu langkah utama adalah memperluas proyek perumahan di berbagai wilayah.
Kemitraan dengan pengembang dan lembaga keuangan diperkirakan tetap menjadi strategi penting. Pemerintah juga perlu terus memperbaiki layanan digital agar proses pengajuan menjadi lebih mudah.
Selain itu, pembiayaan yang fleksibel harus tetap tersedia. Kondisi ekonomi setiap keluarga berbeda sehingga pemerintah perlu menyediakan beberapa alternatif pembiayaan.
Pemerintah juga perlu memperkuat pengawasan terhadap kualitas proyek dan perlindungan konsumen. Hal ini penting agar peningkatan kepemilikan rumah tidak hanya menghasilkan angka yang tinggi, tetapi juga memberikan manfaat nyata.
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan perumahan perlu diukur dari keterjangkauan, kualitas, dan keberlanjutan. Rumah harus mampu mendukung kehidupan keluarga dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Tingkat kepemilikan rumah Arab Saudi telah mencapai 66,24 persen pada akhir 2025. Capaian tersebut membuat target 70 persen pada 2030 semakin dekat.
Pada semester pertama 2026, sebanyak 63.076 keluarga menempati rumah pertama. Selain itu, Program Sakani telah mencatat lebih dari satu juta kontrak perumahan bersubsidi.
Kemajuan tersebut didukung oleh pembiayaan yang fleksibel, layanan digital, kemitraan sektor swasta, dan pembangunan kawasan terpadu.
Namun, keberhasilan program tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah rumah atau persentase kepemilikan. Pemerintah juga perlu memastikan rumah tetap terjangkau, berkualitas, dan terhubung dengan fasilitas publik.
Apabila strategi tersebut dijalankan secara konsisten, Program Perumahan dapat menjadi salah satu pencapaian utama Saudi Vision 2030. Program ini dapat memperkuat stabilitas keluarga, meningkatkan kualitas hidup, dan mendukung diversifikasi ekonomi Arab Saudi.
Referensi
Ghandour, A. (2026). Vision 2030 milestone: Saudi Arabia steps closer toward 70% homeownership target. Leaders.
Saudi Vision 2030. (n.d.). Housing Program. Diakses pada 27 Juli 2026.