Wajah baru menyelimuti persiapan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 2026. Bukan sekadar pembekalan reguler, para petugas kini digembleng dengan pola pendidikan dan pelatihan (diklat) semi-militer. Langkah berani ini diambil untuk memastikan mental dan fisik petugas tetap tangguh di bawah tekanan beban kerja yang ekstrem di Tanah Suci.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa pendekatan semi-militer ini adalah kunci untuk menciptakan satu rantai komando yang solid.
“Kenapa semi-militer? Karena selain fisik yang harus kuat, petugas harus punya disiplin baja dan bekerja dalam satu tim yang padu. Tidak boleh ada ego sektoral, semua dalam satu komando,” tegas Dahnil saat meninjau diklat di Asrama Haji Pondok Gede, Senin (19/1).
Soroti Kualitas Katering: “Jangan Ada Makanan Tidak Layak”
Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian khusus Wamenhaj adalah urusan perut jemaah. Dahnil memberikan peringatan keras agar isu makanan tidak layak, porsi yang kurang (gramasi), hingga ketidaksesuaian spesifikasi tidak boleh terulang kembali.
Petugas diminta memahami alur layanan katering dari hulu ke hilir. “Contohnya layanan catering, petugas harus tahu bagaimana proses persiapan makanan sampai akhirnya dikonsumsi oleh jemaah,” jelasnya.
Transparansi Biaya: Kini Lebih Hemat dan Terbuka
Dalam upaya mewujudkan tata kelola yang bersih, Kemenhaj melakukan gebrakan dengan membuka rincian biaya layanan kepada publik. Menariknya, Dahnil mengungkapkan adanya efisiensi biaya katering yang cukup signifikan tahun ini.
“Dulu biaya makan siang dan malam per jemaah 17 riyal, sekarang 15 riyal. Penurunannya cukup besar,” ujarnya.
Berikut adalah rincian transparansi biaya katering per hari yang dibuka ke publik:
- Sarapan: 10 Riyal
- Makan Siang: 15 Riyal
- Makan Malam: 15 Riyal
- Total: 40 Riyal/hari
Fokus Krusial di Fase Armuzna
Selain katering, standar akomodasi dan hotel juga menjadi sorotan. Dahnil memastikan seluruh proses, mulai dari kesiapan fasilitas hingga pembagian kunci kamar, akan dilakukan secara transparan sehingga media dan masyarakat bisa ikut mengawasi.
Namun, ujian sesungguhnya bagi para petugas “semi-militer” ini adalah pada fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Fase ini dianggap sebagai titik paling kritis dalam ibadah haji.
“Layanan Armuzna harus dipastikan berjalan di bawah satu komando agar pelayanan terbaik bisa diberikan kepada jemaah haji,” tutupnya.
Baca juga: Jejak Peradaban 5.000 Tahun Ditemukan di Proyek Puncak Soudah Arab Saudi
Sumber: Boy Azhar. (2026, 19 Januari). Petugas Haji Dilatih Semi-Militer, Wamenhaj Tekankan Kerja Tim dan Transparansi Layanan. Haji.go.id. https://haji.go.id/berita/petugas-haji-dilatih-semi-militer-wamenhaj-tekankan-kerja-tim-dan-transparansi-layanan-1768834887463