Arab Saudi mencatat lonjakan signifikan dalam peringkat global sebagai tujuan investasi sektor pertambangan. Melalui reformasi kebijakan yang terarah, Kerajaan berhasil mentransformasi sektor industrinya dan menarik perhatian investor internasional.
Dalam forum internasional, Wakil Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Khalid Al-Mudaifer, mengumumkan pencapaian bersejarah tersebut pada ajang Future Minerals Forum (FMF) di Riyadh. Ia menyebutkan bahwa Arab Saudi melonjak dari peringkat ke-104 ke posisi ke-23 dalam Global Mining Investment Attractiveness Index hanya dalam satu dekade.
Sementara itu, kenaikan peringkat ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan global terhadap logam dasar. Mineral-mineral tersebut memiliki peran penting dalam mendukung transisi energi dunia. Akibatnya, tekanan terhadap rantai pasok internasional terus meningkat.
Al-Mudaifer menegaskan bahwa aluminium, tembaga, dan besi kini menjadi material strategis. Pasalnya, mineral ini menopang industri maju seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan teknologi kedirgantaraan modern. Selain itu, logam dasar juga menjadi fondasi bagi sistem digital dan mesin berteknologi tinggi.
Namun demikian, volatilitas harga mineral kritis masih menjadi tantangan utama. Fluktuasi pasar kerap meningkatkan risiko investasi, terutama bagi perusahaan tambang swasta internasional. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Arab Saudi mengambil peran aktif.
Pemerintah menyediakan infrastruktur pendukung yang kuat serta menghadirkan skema pembiayaan inovatif. Dengan pendekatan ini, Arab Saudi berupaya menciptakan iklim investasi yang stabil, aman, dan menarik bagi modal jangka panjang serta inovasi teknologi.
Melipatgandakan Investasi untuk Menggali Potensi Tambang
Dalam lima tahun terakhir, Arab Saudi secara signifikan meningkatkan belanja eksplorasi pertambangan. Langkah ini bertujuan membuka potensi sumber daya alam yang selama ini belum tergarap optimal.
Pengeluaran eksplorasi tercatat meningkat tajam. Sebagai perbandingan, belanja eksplorasi naik dari kurang dari SAR 28 per kilometer persegi pada 2020 menjadi proyeksi SAR 144 per kilometer persegi pada tahun mendatang.
Selain itu, strategi pertambangan nasional yang diluncurkan pada 2018 dirancang untuk membangun ekosistem terintegrasi. Strategi ini mencakup pengolahan mineral, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Arab Saudi juga berhasil mereplikasi model kemitraan unggulan dari sektor minyak dan gas. Dengan demikian, Kerajaan kini memposisikan diri sebagai pusat global modal ventura di bidang pertambangan.
Lebih lanjut, integrasi inovasi dan praktik daur ulang dalam proses pertambangan menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan. Pendekatan ini memperkuat peran Arab Saudi dalam mendukung ekonomi hijau dan ekonomi digital global.
Referensi (APA)
Ghandour, A. (2026). Saudi Arabia climbs global mining ranks: A new investment hotspot. Leaders. Diakses dari https://www.leaders-mena.com/?p=100131