Sejak usia muda, Imam Saud sudah memimpin beberapa unit kavaleri. Keterampilan berkudanya berkembang pesat karena didukung oleh lingkungan sekitarnya yang kondusif.
Ketersediaan kuda di sekitar penguasa Al Saud dan anak-anak mereka turut membentuk keahlian berkuda mereka. Hal ini membuat mereka sangat mahir dalam menunggangi kuda ras murni saat di medan perang.
Imam Abdulaziz Bin Muhammad menyertakan putranya, Imam Saud, dalam pertempuran pada usia dua belas tahun. Keikutsertaan tersebut berlangsung selama masa pemerintahan Imam Abdulaziz Bin Muhammad.
Jejak Kuda Arab Ras Murni dalam Kekuatan Militer Imam Saud
Imam Saud Bin Abdulaziz secara khusus memiliki koleksi kuda Arab ras murni. Ia memelihara sekitar tiga hingga empat ratus ekor kuda di Diriyah, sedangkan sisanya dipelihara dan merumput di kawasan al-Ahsa.
Saat beliau wafat pada tahun 1814, warisan yang ditinggalkannya mencakup total 2.400 ekor kuda. Dalam mengelola kekuatan militernya, ia mempercayakan kepemimpinan pasukan kavaleri kepada Sabil Bin Nasr al-Tarfi.
Seni Al-Majawalah dan Ketangkasan Berkuda Penguasa Saudi Pertama
Para penguasa Negara Saudi Pertama sangat menguasai al-Majawalah, yaitu seni bertarung di atas kuda. Keahlian bertarung ini ditunjukkan oleh Imam Saud Bin Abdulaziz pada tahun 1233 H/1818 M.
Pertempuran berkuda tersebut terjadi di kota al-Majrah pada masa pemerintahan ayahnya. Dalam peristiwa Majawalah tersebut, ia berhadapan langsung dengan seorang penunggang kuda musuh. Pertarungan itu berakhir dengan kemenangan Imam Saud Bin Abdulaziz. Keterampilan berkuda para putra Negara Saudi Pertama ini terbukti sangat menonjol, khususnya saat memperjuangkan pertahanan Kota Diriyah dari serangan musuh.
Sumber: Saudipedia. Equestrianism in the First Saudi State. Diakses pada 26 Juli 2026, dari https://saudipedia.com/en/equestrianism-in-the-first-saudi-state