Gambaran Hajar Aswad
Hajar Sawad adalah batu yang tertanam di pojok Selatan Ka’bah pada ketinggian kurang lebih 1,10 cm dari lantai, Panjang 25 cm, dan lebarnya sekitar 17 cm.
Awalnya merupakan sebuah satu bongkah batu saja, namun batu ini pernah pecah dan sekarang menjadi 8 keping. Pecahnya batu ini terjadi pada zaman Qaramithah, sebuah sekte Syi’ah Islamiyah Al-Bathiniyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qarmathi. Sekte ini mencabut Hajar Aswad, Kemudian membawnya ke Ihsa’ pada tahun 319 H, dan baru mengembalikannya 20 tahun setelahnya, yaitu tahun 339 H. Kepingan yang paling besar seukuran satu buah kurma, dan tertanam di batu besar lain yang dikelilingioleh ikatan perak.[1]

Asal Mula Hajar Aswad
Seperti namanya, warna Hajar Aswad (hajar:batu, aswad:hitam) adalah hitam. Namun awalnya warna batu ini lebih putih dari pada susu. Dosa-dosa manusia lah yang menjadikannya hitam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
نَزَلَ الحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الجَنَّةِ، وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ.
“Hajar Aswad turun dari surga dengan warna lebih putih dari susu kemudian berubah menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam.” (HR.Tirmidzi)[2]
Ibnu Dzahirah mengatakan, kalau batu saja bisa menghitam karena dosa-dosa manusia, maka apalagi hati. [3]
Keutamaan Hajar Aswad
Hajar aswad, batu mulia (yaqut) yang diberikan kepada Nabi Ibrahim Alaihi As-salam agar diletakkan pada salah satu sudut Ka’bah. Pada saat Ka’bah direnovasi pada masa Quraisy, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam mengambil dan meletakkan Kembali di tempat semula dengan tangannya sendiri. [1]
Hajar Aswad menjadi tempat bekas bibirnya para Nabi, orang-orang shaleh, dan orang-orang yang berhaji dan umrah sepanjang masyarakat.
Hajar Aswad juga menjadi tempat bermula dan mengakhiri Thawaf, sekaligus termasuk tempat yang mustajab untuk berdoa.
Batu Surga ini pun yang ikut menjadi saksi amal manusia kelak di Hari Kiamat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda:
وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا، وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ، يَشْهَدُ عَلَى مَنْ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ
“Demi Allah, Allah akan membangkitkannya (Hajar Aswad) pada Hari Kiamat, dengan dua mata dan lisan yang dapat berbicara, bersaksi bagi siapa saja yang menyentuhnya dengan benar” (HR. Tirmidzi) [2]
Mencium Hajar Aswad dan Hikmahnya
Disunahkan mencium Hajar Aswad pada waktu Thawaf dalam umrah maupun haji. Namun jika kondisi tidak memungkinkan,sangat ramai dan berdesak-desakan, dan menyulitkan maka tidak boleh memaksakan diri untuk mencium atau menyentuh Hajar Aswad. Hal ini dikarenakan mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah, sedangkan menjaga agar tidak menyakiti orang lain merupakan suatu kewajiban. Apabila tidak memungkinkan untuk mencium atau menyentuhnya maka cukup dengan melambaikan tangan mengarah pada Hajar Aswad.
عابس بن ربيعة قال رأيت عمر يقبل الحجر ويقول إني لأقبلك وأعلم أنك حجر ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبلك لم أقبلك
“Abis bin Rabi’ah ia berkata: Saya pernah melihat Umar mencium Hajar Aswad, dan setelah itu ia berkata: “Aku menciummu, dan aku tahu bahwa kamu hanyalah batu, sekiranya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”(HR. Muslim).[3]
Mencium Hajar Aswad bukan berarti memuliakan dan menyembah batu. Namun kita menciumnya karena tunduk pada Allah Ta’ala. Mencium Hajar Aswad mencerminkan sikap kepatuhan seorang Muslim mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.
Sumber:
[1] M. I. A. Ghani, Tarikh Makkah Al-Mukaramah, 4th ed. Madinah Munawwarah: Maktabah Malik Fahd Al-Wathaniyah, 2017.
[2] At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi (Al-Jami’ Al-Kabir). Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islamy, 1998. nomer hadis 877 dan286
[3] I. Muslim, Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-Araby.Nomer haistd 1270