Kampanye National Greening Season (Sumber: Riyadh Daily)
Arab Saudi kembali memperkuat komitmennya terhadap pemulihan lingkungan melalui National Greening Season 2026 yang dimulai hari ini, 7 Oktober. Kampanye nasional ini tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga memperluas tutupan vegetasi, memerangi degradasi lahan, menggunakan tanaman lokal, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Di tengah kampanye tersebut, perhatian terhadap pohon akasia menjadi semakin penting. Pasalnya, di lingkungan gurun yang sangat kering, menanam pohon hanyalah tahap awal. Pohon yang telah tumbuh selama puluhan tahun juga membutuhkan perlindungan agar ekosistem yang terbentuk tidak kembali mengalami kerusakan.
National Greening Season 2026 Targetkan Rehabilitasi 60.000 Hektare
Program Nasional Penghijauan Arab Saudi atau National Greening Program meluncurkan musim penghijauan 2026 sebagai bagian dari implementasi Saudi Green Initiative dan Saudi Vision 2030.
Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 51.000 hektare lahan telah direhabilitasi melalui pemanenan air hujan dan penyebaran sekitar 109 ton benih dari 40 spesies tanaman asli.
Tahun ini, program tersebut menargetkan rehabilitasi tambahan sekitar 60.000 hektare. Lebih dari 110 ton benih dari 70 spesies tanaman lokal akan disebarkan. Pelaksanaannya juga akan diselaraskan dengan program hujan buatan untuk membantu meningkatkan peluang perkecambahan.
Dengan demikian, upaya tersebut diarahkan untuk mencapai target kumulatif 350.000 hektare lahan yang direhabilitasi pada 2030.
Langkah ini menunjukkan bahwa penghijauan di Arab Saudi mulai bergerak dari sekadar penanaman menuju pendekatan yang lebih luas. Fokusnya adalah memulihkan fungsi ekosistem sekaligus meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap kondisi iklim yang berat.
Mengapa Pohon Akasia Perlu Mendapat Perlindungan?
Akasia merupakan salah satu tanaman yang memiliki peran penting dalam ekosistem gurun Arab Saudi. Namun, keberadaannya menghadapi berbagai tekanan.
Kekeringan berkepanjangan, curah hujan yang tidak menentu, suhu ekstrem, penggembalaan berlebihan, penebangan serta degradasi habitat dapat menghambat pertumbuhan pohon, terutama pada fase awal kehidupannya. Bibit akasia sangat rentan ketika belum memiliki sistem perakaran dan kemampuan bertahan yang kuat.
Karena itu, keberhasilan program penghijauan tidak cukup diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam. Yang jauh lebih penting adalah berapa banyak pohon yang mampu bertahan, tumbuh, beregenerasi secara alami, dan akhirnya menjadi bagian dari ekosistem yang mandiri.
Pohon Dewasa Tidak Bisa Digantikan dengan Cepat
Salah satu pesan penting dari upaya konservasi akasia adalah perlunya menjaga pohon yang sudah ada.
Pohon akasia dewasa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang. Ketika pohon-pohon tersebut hilang, manfaat ekologisnya tidak dapat langsung digantikan hanya dengan menanam bibit baru. Hutan atau kawasan akasia yang telah terbentuk menyediakan naungan, habitat, makanan, tempat bersarang, serta kondisi mikroklimat yang lebih mendukung bagi organisme lain.
Di Imam Turki bin Abdullah Royal Reserve, misalnya, perlindungan terhadap kawasan akasia dewasa berjalan bersamaan dengan penanaman dan pemulihan habitat. Pendekatan ini juga memberikan ruang bagi regenerasi alami sehingga ekosistem dapat berkembang dengan lebih tahan terhadap tekanan lingkungan.
Dengan kata lain, penghijauan tidak selalu berarti menanam lebih banyak pohon. Dalam kondisi tertentu, melindungi pohon yang sudah tumbuh merupakan bentuk penghijauan yang sama pentingnya.
Akasia Mendukung Lebah dan Produksi Madu
Peran akasia juga melampaui fungsi sebagai tanaman penghijauan. Kawasan akasia menyediakan nektar bagi berbagai penyerbuk, terutama lebah.
Keberadaan pohon-pohon tersebut kemudian memiliki kaitan dengan produksi madu akasia. Jika populasi akasia terus menurun, dampaknya dapat merambat pada populasi penyerbuk, keanekaragaman hayati, regenerasi alami, hingga mata pencaharian yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Karena itu, konservasi akasia memiliki dimensi ekologis sekaligus sosial-ekonomi. Menjaga pohon berarti turut menjaga rantai kehidupan yang bergantung padanya.
Keberhasilan Penghijauan Bukan Sekadar Jumlah Pohon
Salah satu perubahan penting dalam pendekatan restorasi lingkungan adalah cara mengukur keberhasilan.
Jumlah pohon yang ditanam memang mudah dihitung. Namun, angka tersebut belum menunjukkan apakah sebuah ekosistem benar-benar pulih.
Di kawasan konservasi, indikator yang lebih komprehensif mencakup tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan pohon, regenerasi alami, peningkatan tutupan vegetasi, kembalinya satwa dan penyerbuk, perbaikan kondisi tanah, serta berkurangnya tanda-tanda degradasi.
Pendekatan tersebut membuat National Greening Season tidak sekadar menjadi kampanye menanam pohon. Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem yang mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.
Melindungi Akasia dan Menanam Pohon Harus Berjalan Bersamaan
Penghijauan dan konservasi sebenarnya bukan dua agenda yang bertentangan. Keduanya harus dilakukan secara bersamaan.
Penanaman pohon dapat memperluas tutupan vegetasi dan membantu memulihkan kawasan yang terdegradasi. Sementara itu, perlindungan terhadap pohon dewasa mempertahankan ekosistem yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Keseimbangan tersebut menjadi semakin penting di wilayah dengan kondisi sangat kering. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan regenerasi. Karena itu, pemilihan lokasi, perlindungan dari penggembalaan, pemantauan berkala, serta dukungan terhadap regenerasi alami menjadi bagian penting dari strategi pemulihan.
Pada akhirnya, keberhasilan penghijauan Arab Saudi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pohon yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan negara dan masyarakat untuk menjaga pohon tersebut tetap hidup serta mengembalikan fungsi ekosistemnya.
National Greening Season Menjadi Gerakan Bersama
National Greening Season 2026 juga dirancang untuk memperkuat partisipasi berbagai pihak. Pemerintah, sektor swasta, organisasi nirlaba, dan masyarakat didorong untuk mengambil bagian dalam pengembangan tutupan vegetasi dan perlindungan lingkungan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi jangka panjang Arab Saudi dalam mengembangkan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Penggunaan spesies tanaman asli menjadi salah satu aspek penting karena tanaman lokal memiliki hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi ekologis setempat.
Karena itu, kampanye penghijauan tahun ini membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar menanam pohon. Menanam, merawat, melindungi, dan memulihkan merupakan rangkaian yang harus berjalan bersama.
Arab Saudi Mendorong Penghijauan yang Lebih Berkelanjutan
Dimulainya National Greening Season 2026 menjadi momentum untuk memperkuat agenda pemulihan lingkungan Arab Saudi. Target rehabilitasi lahan dan penyebaran benih menunjukkan skala upaya yang terus diperluas.
Namun, kisah pohon akasia memberikan pelajaran penting. Ekosistem yang sehat tidak dapat dibangun hanya dengan menghitung jumlah tanaman baru.
Pohon-pohon yang telah bertahan puluhan tahun juga merupakan bagian dari warisan alam yang perlu dijaga. Dengan melindungi akasia dewasa, mendukung regenerasi alami, serta menanam spesies yang sesuai dengan lingkungan, Arab Saudi dapat membangun ekosistem yang lebih tangguh untuk generasi mendatang.
Baca juga: Saudi Green Initiative Day 2025 – Transformasi Hijau Menuju Saudi Vision 2030
Referensi:
- SPA. (2026). National Greening Program to Launch 2026 Season on October 7. Diambil dari https://www.alriyadhdaily.com/article/a7de0bb83ad44c52985280ae0a936901.
- Alturki, N. (2026). Beyond planting trees: Why Saudi Arabia’s acacias need protection to survive. Diambil dari https://www.arabnews.com/green-blue/beyond-planting-trees-why-saudi-arabias-acacias-need-protection-to-survive-3003388.