Investasi Arab Saudi di Suriah terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan rekonstruksi negara tersebut. Salah satu langkah terbaru adalah pengembangan proyek energi dengan nilai hampir US$1 miliar.
Proyek ini mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai, serta penguatan infrastruktur kelistrikan Suriah.
Kesepakatan tersebut melibatkan perusahaan dari Arab Saudi, Suriah, dan Jerman. Fokusnya tidak hanya menambah kapasitas listrik. Proyek ini juga bertujuan mendukung pemulihan ekonomi dan infrastruktur setelah bertahun-tahun konflik.
Penandatanganan lima perjanjian energi berlangsung di Damaskus di bawah pengawasan Kementerian Energi Suriah.
Sejumlah perusahaan terlibat. Di antaranya adalah Mohammed Ahmed Al-Harfi Contracting Company, Syrian Electricity Company atau SEC, Project Development Company atau PDC milik Saudi Electricity, serta Siemens Energy dari Jerman.
Proyek Energi Surya Arab Saudi di Suriah Berkapasitas 760 MW
Salah satu proyek utama dalam investasi Arab Saudi di Suriah adalah pembangunan tiga pembangkit listrik tenaga surya di Wadiyan al-Rabi, Rural Damascus.
Mohammed Ahmed Al-Harfi Contracting Company menandatangani tiga perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement dengan Syrian Electricity Company.
Ketiga pembangkit tersebut dirancang memiliki kapasitas gabungan sebesar 760 megawatt atau MW.
Kapasitas tersebut membuat proyek ini menjadi salah satu investasi energi terbarukan penting dalam proses pembangunan kembali sektor listrik Suriah.
Tidak hanya mengandalkan panel surya, proyek ini juga akan menggunakan sistem penyimpanan energi berbasis baterai.
Kapasitas penyimpanannya mencapai 1.077 megawatt-jam atau MWh.
Sistem baterai memiliki peran penting dalam pembangkit tenaga surya. Produksi listrik dari panel bergantung pada intensitas sinar matahari. Karena itu, sebagian energi perlu disimpan agar tetap dapat digunakan ketika produksi listrik menurun.
Kontrak Listrik Berlaku hingga 25 Tahun
Proyek energi surya tersebut dirancang sebagai investasi jangka panjang.
Perjanjian jual beli listrik memiliki jangka waktu sekitar 20 hingga 25 tahun. Sementara itu, tarif awal listrik ditetapkan sekitar 3 sen dolar AS per kilowatt-jam.
Skema tersebut bertujuan menyediakan listrik dengan harga yang kompetitif sekaligus memberikan kepastian bagi investor.
Kontrak jangka panjang juga menunjukkan bahwa investasi ini bukan sekadar bantuan untuk memenuhi kebutuhan energi sementara. Arab Saudi mulai membangun keterlibatan ekonomi yang lebih panjang dalam proses rekonstruksi Suriah.
Nilai Investasi Mendekati US$1 Miliar
Wakil Menteri Energi Arab Saudi untuk Energi Terbarukan, Faisal al-Duaij, menyebut nilai keseluruhan kesepakatan tersebut mendekati US$1 miliar.
Pembangunan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima tahun. Namun, pihak pengembang menargetkan proyek dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga tahun.
Jika target tercapai, pembangkit tenaga surya di Wadiyan al-Rabi dapat beroperasi lebih cepat dibandingkan sejumlah proyek rekonstruksi lain yang masih berada pada tahap perencanaan.
Pada tahap awal, listrik dari proyek tersebut akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Damaskus dan kawasan padat penduduk di sekitarnya.
Selanjutnya, jaringan pasokan direncanakan berkembang menuju Aleppo.
Arab Saudi Gandeng Siemens Energy
Investasi Arab Saudi di Suriah juga mencakup kerja sama teknologi.
Selain tiga perjanjian jual beli listrik, Al-Harfi menandatangani dua kesepakatan kerja sama teknis.
Kesepakatan pertama melibatkan Project Development Company milik Saudi Electricity. Kerja sama tersebut mencakup layanan konsultasi, rekayasa, dan dukungan manajemen proyek.
Kesepakatan kedua dilakukan bersama Siemens Energy.
Perusahaan energi asal Jerman tersebut akan mendukung transfer keahlian teknis. Ruang lingkupnya mencakup pembangunan gardu listrik, sistem pembangkitan tenaga listrik, serta teknologi penyimpanan energi.
Kolaborasi ini penting karena pemulihan sektor energi membutuhkan lebih dari sekadar modal.
Suriah juga membutuhkan teknologi, kemampuan rekayasa, dan sistem pengelolaan proyek untuk memperkuat kembali jaringan listriknya.
Investasi Arab Saudi di Suriah Meluas ke Telekomunikasi
Energi bukan satu-satunya sektor yang menarik investasi Saudi.
Saudi Telecom Company atau STC dikabarkan menyiapkan investasi sekitar US$800 juta untuk membangun lebih dari 4.500 kilometer jaringan serat optik di Suriah.
Pengembangan tersebut bertujuan memperkuat infrastruktur digital dan telekomunikasi.
Jaringan digital yang lebih baik dapat mendukung layanan publik, kegiatan bisnis, komunikasi, hingga transformasi digital di berbagai wilayah.
Investasi infrastruktur telekomunikasi juga penting bagi proses rekonstruksi. Ekonomi modern membutuhkan jaringan komunikasi yang stabil untuk mendukung aktivitas masyarakat dan dunia usaha.
Arab Saudi Kembangkan Bandara Baru di Aleppo
Sektor transportasi juga menjadi bagian dari ekspansi investasi Arab Saudi.
Konsorsium Saudi yang dipimpin Bin Dawood Investment Group sedang mengembangkan proyek bandara baru di Aleppo.
Nilai proyek tersebut diperkirakan mencapai US$2 miliar.
Bandara dirancang memiliki kapasitas hingga 12 juta penumpang per tahun.
Selain pembangunan bandara, sebuah maskapai baru bernama Nas Syria juga direncanakan beroperasi dari Damaskus.
Pengembangan transportasi udara dapat meningkatkan konektivitas Suriah dengan negara lain. Infrastruktur tersebut juga dapat mendukung perdagangan, mobilitas masyarakat, investasi, dan aktivitas ekonomi.
Investasi Properti dan Infrastruktur
Investasi Saudi juga merambah sektor properti.
Sekitar US$100 juta dialokasikan untuk pengembangan Al Jawhara Tower di pusat Damaskus.
Gedung pencakar langit tersebut direncanakan memiliki 32 lantai.
Sementara itu, perusahaan energi Saudi ACWA Power sedang mengembangkan rencana kerja sama untuk proyek tenaga surya dan angin dengan kapasitas hingga 2,5 gigawatt.
Rencana tersebut memperlihatkan bahwa proyek tenaga surya 760 MW di Wadiyan al-Rabi bukan proyek yang berdiri sendiri.
Proyek tersebut menjadi bagian dari agenda investasi energi dan infrastruktur yang lebih luas.
Komitmen Investasi Saudi Capai Miliaran Dolar
Besarnya investasi Arab Saudi di Suriah terlihat dari berbagai kesepakatan yang telah diumumkan.
Nilai keseluruhan komitmen investasi disebut mencapai sekitar US$16 miliar.
Sebanyak 47 kesepakatan strategis dengan nilai sekitar US$6,4 miliar juga telah ditandatangani melalui Syrian-Saudi Investment Forum di Damaskus.
Selain itu, modal Saudi sekitar 11 miliar riyal, atau kurang lebih US$2,9 miliar, diarahkan untuk pengembangan infrastruktur fisik.
Salah satu rencana yang termasuk di dalamnya adalah pembangunan tiga pabrik semen baru.
Perusahaan telekomunikasi Saudi juga menyiapkan investasi sekitar 4 miliar riyal, atau sekitar US$1,07 miliar, untuk meningkatkan jaringan digital dan sistem keamanan siber Suriah.
Pada awal 2026, kedua negara juga menandatangani paket kerja sama dengan nilai sekitar US$5,3 miliar.
Kerja sama tersebut mencakup proyek desalinasi air, penerbangan, serta pembangunan jalur data Silk Link.
Sektor Minyak dan Gas Ikut Diperkuat
Kerja sama ekonomi Arab Saudi dan Suriah tidak hanya berfokus pada energi terbarukan.
Sektor minyak dan gas juga mendapat perhatian.
Syrian Petroleum Company menjalin kerja sama operasional dengan perusahaan Saudi ADES.
Kerja sama tersebut menargetkan peningkatan produksi gas hingga sekitar 50 persen.
Produksi gas dari lapangan di wilayah Homs tengah diproyeksikan mencapai sekitar 4 juta meter kubik per hari.
Gas tersebut dapat digunakan untuk memasok pembangkit listrik lokal. Dengan demikian, peningkatan produksi gas berpotensi membantu menambah ketersediaan energi di dalam negeri.
Strategi investasi Saudi akhirnya mencakup berbagai sektor energi. Mulai dari tenaga surya, angin, minyak, gas, sistem penyimpanan energi, hingga jaringan kelistrikan.
Rekonstruksi Suriah Membutuhkan Dana Besar
Besarnya investasi asing perlu dilihat dari kebutuhan rekonstruksi Suriah secara keseluruhan.
Menurut data yang dikutip Leaders, Bank Dunia memperkirakan biaya rekonstruksi Suriah mencapai sekitar US$216 miliar.
Jumlah tersebut jauh lebih besar daripada perkiraan produk domestik bruto Suriah yang berada di kisaran US$21 miliar.
Perbedaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pendanaan eksternal.
Suriah membutuhkan modal untuk membangun kembali jaringan listrik, transportasi, telekomunikasi, fasilitas publik, kawasan permukiman, dan berbagai infrastruktur ekonomi.
Dalam situasi tersebut, investasi dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, menjadi salah satu sumber pendanaan yang penting.
Energi Menjadi Dasar Pemulihan Ekonomi Suriah
Pemulihan sektor energi menjadi bagian penting dari rekonstruksi Suriah.
Pasokan listrik yang memadai dibutuhkan agar kegiatan industri dapat berjalan dengan baik.
Rumah sakit, sistem air, telekomunikasi, transportasi, dan pelayanan publik juga membutuhkan pasokan energi yang stabil.
Karena itu, pembangunan pembangkit tenaga surya memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar menambah jumlah listrik.
Energi yang lebih stabil dapat membantu menciptakan kondisi yang mendukung pemulihan kegiatan ekonomi.
Penyimpanan energi berbasis baterai juga dapat meningkatkan keandalan sistem kelistrikan ketika produksi energi surya menurun.
Kepentingan Ekonomi dan Strategis Arab Saudi
Investasi Arab Saudi di Suriah juga memiliki dimensi ekonomi dan strategis.
Arab Saudi memberikan dukungan kepada pemerintahan Suriah di bawah Presiden Ahmed Al-Sharaa, yang berkuasa sejak Desember 2024 setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad.
Dalam konteks tersebut, investasi energi menjadi salah satu bentuk keterlibatan ekonomi yang terlihat jelas.
Kementerian Energi Suriah menilai kesepakatan energi terbaru sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama bilateral dan hubungan ekonomi kedua negara.
Proyek tersebut juga diharapkan mendukung pembangunan berkelanjutan Suriah.
Bagi Arab Saudi, keterlibatan dalam rekonstruksi dapat membuka peluang ekonomi jangka panjang sekaligus memperkuat perannya dalam perkembangan kawasan.
Menuju Kemitraan Ekonomi Jangka Panjang
Berbagai proyek tersebut menunjukkan perubahan dalam hubungan ekonomi Arab Saudi dan Suriah.
Hubungan kedua negara mulai berkembang dari dukungan jangka pendek menuju investasi produktif dalam jangka panjang.
Kontrak listrik selama 20 hingga 25 tahun menjadi salah satu contohnya.
Investasi di bidang telekomunikasi, bandara, energi, properti, minyak, dan gas juga menunjukkan pola keterlibatan ekonomi yang semakin luas.
Jika seluruh proyek berjalan sesuai rencana, Arab Saudi berpotensi menjadi salah satu mitra penting dalam proses rekonstruksi ekonomi Suriah.
Proyek tenaga surya senilai hampir US$1 miliar di Rural Damascus menjadi salah satu proyek utama dalam perubahan tersebut.
Dengan kapasitas 760 MW dan sistem penyimpanan energi sebesar 1.077 MWh, proyek ini dapat memperkuat pasokan listrik Suriah.
Pada saat yang sama, investasi tersebut dapat mendukung transformasi sektor energi menuju sistem yang lebih beragam, stabil, dan berkelanjutan.
Referensi
Ghandour, A. (2026). Saudi Arabia lights up Syria: $1B solar deal signals reconstruction surge. Leaders. https://www.leaders-mena.com/?p=110458