Mahshoos, Hidangan Daging beserta Pelengkapnya (Sumber: Arab News)
Arab Saudi memasuki musim Idul Adha dengan aroma daging segar, rempah hangat, dan tradisi kuliner yang diwariskan lintas generasi. Di berbagai wilayah Kerajaan, hidangan daging bukan sekadar sajian perayaan, tetapi simbol kedekatan keluarga dan penghormatan terhadap nilai berbagi. Di antara ragam hidangan itu, mahshoosh—kuliner khas Jazan—kembali mencuri perhatian sebagai salah satu warisan paling autentik yang tetap bertahan hingga era modern.
Mahshoosh: Hidangan Kurban yang Menjadi Identitas Jazan
Setiap Idul Adha, masyarakat Jazan menyiapkan mahshoosh sebagai hidangan utama. Berbeda dari masakan daging lainnya, mahshoosh lahir dari kebutuhan masyarakat masa lalu yang belum memiliki lemari pendingin. Untuk menjaga daging kurban tetap awet, mereka menciptakan teknik memasak yang memadukan daging cincang halus dan lemak, lalu dimasak perlahan hingga menghasilkan tekstur padat dan rasa yang intens.
Prosesnya dimulai dengan mencincang daging dan lemak menjadi potongan kecil, kemudian melelehkan lemak secara perlahan sebelum memasukkan daging sedikit demi sedikit. Rempah seperti kapulaga, bawang, atau kayu manis ditambahkan sesuai tradisi keluarga. Setelah dimasak berjam-jam, mahshoosh dipindahkan ke wadah tanah liat dan dapat bertahan berbulan-bulan tanpa kehilangan cita rasa.
Chef Ahmed Issa Shetifi dari Sabya menyebut mahshoosh sebagai “hidangan yang lahir dari kebutuhan, tetapi kini menjadi simbol identitas kuliner Jazan.” Meski teknologi modern telah mengubah cara penyimpanan makanan, mahshoosh tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan keluarga.
Dari Meja Keluarga hingga Ruang Sosial: Makna Daging di Hari Raya
Di seluruh Arab Saudi, daging kurban menjadi pusat perayaan Idul Adha. Keluarga biasanya mengolah bagian daging terbaik pada hari pertama, sementara sebagian lainnya dibagikan kepada kerabat dan masyarakat yang membutuhkan. Tradisi ini memperkuat nilai solidaritas sosial yang menjadi inti dari Idul Adha.
Hidangan seperti kabsa, mandi, ouzi, dan sup daging kaya rempah turut meramaikan meja makan. Setiap wilayah memiliki ciri khas masing-masing, namun semuanya berakar pada nilai budaya yang dipertahankan.
Ketahanan Tradisi di Tengah Modernisasi
Meski gaya hidup masyarakat Saudi terus berubah, tradisi kuliner Idul Adha tetap bertahan. Generasi muda mungkin menyimpan mahshoosh di freezer, bukan lagi di wadah tanah liat seperti leluhur mereka, tetapi makna di balik hidangan itu tidak berubah. Ia tetap menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara keluarga dan identitas budaya.
Di tengah modernisasi, hidangan daging Idul Adha menjadi pengingat bahwa sebagian besar warisan kuliner Saudi tidak hanya hidup di dapur, tetapi juga di hati masyarakatnya.
Referensi:
- SPA. (2026). Saudi chemistry students compete in Moscow contest. Diambil dari https://www.arabnews.com/node/2640580/saudi-arabia.
- Hasan, S. (2026). Saudi Chemistry Team Takes Part in 2026 Mendeleev Chemistry Olympiad in Moscow. Diambil dari https://www.leaders-mena.com/saudi-chemistry-team-takes-part-in-2026-mendeleev-chemistry-olympiad-in-moscow/.