JEDDAH: Zona inovasi pada Konferensi & Pameran Haji kelima di Jeddah ini menawarkan kesempatan untuk mengeksplorasi teknologi mutakhir. Selain itu, zona ini juga menampilkan ide-ide kreatif dan solusi menjanjikan yang membentuk masa depan layanan haji.
Para inovator dan wirausaha muda menghadirkan ide-ide baru untuk ibadah haji dan umrah. Salah satu proposal yang diajukan adalah penggunaan kereta gantung. Ide ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan jemaah rentan.
Para inovator ini mendapat dukungan dari Kementerian Haji dan Umrah untuk mengembangkan berbagai teknologi. Teknologi tersebut mencakup aplikasi seluler untuk navigasi dan platform untuk mengelola layanan jemaah. Semua inovasi ini akan dipresentasikan pada Konferensi & Pameran Haji di Jeddah yang berlangsung hingga 12 November.
Terinspirasi Pengalaman Ibu, Mahasiswa King Abdulaziz University Rancang Proyek Kereta Gantung Muzdalfah-Mina
Perjalanan ibadah haji sebagian besar dilakukan dengan berjalan kaki, sehingga seorang mahasiswa Universitas King Abdulaziz, Anhar Hamid Al-Luhiani, mempresentasikan ide proyek kereta gantung. Proyek ini diusulkan untuk meningkatkan keselamatan jemaah yang lebih rentan selama menunaikan ibadah.
“Inisiatif saya adalah mengembangkan teleferik atau kereta gantung bagi para jemaah lanjut usia dan berkebutuhan khusus untuk berpindah dari Muzdalfah ke Mina agar terhindar dari keramaian dan panas, serta dapat mencapai Mina lebih cepat,” ujarnya.
Ide ini muncul setelah ibunya mengalami kesulitan saat melaksanakan ritual lempar jumrah. Tujuan proyek ini adalah untuk membuat proses lempar jumrah lebih mudah diakses oleh jemaah haji lanjut usia.
Ia menjelaskan bagaimana proyek ini merupakan solusi transportasi yang cerdas dan berkelanjutan. Saat ini, jarak tempuh jemaah dari Mina ke Muzdalfah adalah 30 menit berjalan kaki, 15 menit dengan bus, atau tujuh menit dengan kereta api. Namun, dengan teleferik (kereta gantung) ini, jarak tempuh mereka dapat dipersingkat menjadi hanya sekitar empat menit. Moda transportasi ini diyakini lebih cepat dan lebih nyaman, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang berkebutuhan khusus.

Permudah Ibadah, Aplikasi “Hadi” Pandu Jemaah dari Kedatangan hingga Keberangkatan
Pengusaha Saudi Abdulaziz Al Shaair memperkenalkan aplikasi AI untuk jemaah yang disebut “Hadi.”
“Ini adalah aplikasi pintar yang menyediakan perjalanan digital terintegrasi untuk memperkaya pengalaman jemaah dari saat kedatangan hingga keberangkatan dengan sangat lancar, melalui tahapan terorganisir yang mencakup pendaftaran, panduan, dan transportasi cerdas,” ujarnya.
Jemaah haji dapat menggunakan aplikasi ini mulai dari kampung halaman hingga tiba di Mekah. Aplikasi ini memandu mereka tentang apa yang harus dilakukan di bandara dan ke mana harus pergi di Mekah.
Selain itu, aplikasi ini memberi tahu mereka tentang transportasi yang tersedia dan waktu terbaik untuk menunaikan umrah agar terhindar dari keramaian. Jika jemaah tersesat, aplikasi ini akan memandu mereka untuk mencapai tempat tujuan.
Startup KAUST “Takween” Kembangkan Sistem Pelacak Jemaah untuk Kementerian Haji
Kementerian Haji dan Umrah menerapkan teknologi baru lainnya berupa aplikasi telepon seluler. Aplikasi ini dapat melacak jumlah jemaah atau pengunjung di tempat-tempat paling ramai di tempat-tempat suci. Teknologi ini dikembangkan oleh Takween, sebuah perusahaan rintisan yang berasal dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST).
Essam Ewis dari Tamkeen mengatakan kepada Arab News bahwa aplikasi tersebut menawarkan antarmuka sederhana yang memungkinkan petugas melacak batas kapasitas.
“Kami telah menandatangani kontrak dengan Kementerian Haji dan Umrah untuk menerapkan sistem baru ini guna memperbarui jumlah orang yang berdiri secara real-time, sehingga efektif untuk manajemen kapasitas,” ujarnya.
“Pilgrim Pal”, Aplikasi Karya Inovator Indonesia untuk Sederhanakan Layanan Haji
Garibaldy Mukti, dari Indonesia, menunjukkan aplikasi Pilgrim Pal miliknya, yang membantu agen perjalanan menyederhanakan layanan haji dan umrah.
“Aplikasi ini dilengkapi dengan manajemen jemaah, manajemen akomodasi dan keberangkatan, manajemen keuangan, pelacakan dan navigasi lokasi, penerjemah, tombol darurat, dan simulasi virtual haji dan umrah. Aplikasi ini telah digunakan oleh berbagai agen perjalanan di Indonesia dan terbukti berhasil.” Ungkapnya.

Pasangan Suami Istri Luncurkan Botol Wudhu Inovatif “My Wudhu Companion”
Di sisi lain area startup tersebut, terdapat Mohammed Akoojee dan istrinya, Sumayya Suliman, yang meluncurkan produk mereka, “My Wudhu Companion.”
Akoojee mengatakan kepada Arab News: “Ini adalah botol wudhu yang dirancang untuk mendefinisikan ulang cara umat Islam berwudhu, memastikan aksesibilitas kapan pun dan di mana pun.”

Baca juga: Pesona Reruntuhan Pasar Tua Al-Qadimah: Jejak Sejarah Era Komersial di Rabigh
Sumber: Fareed, S. (2025, 10 November). Could journey to Hajj stoning ritual be done by cable car?. Arab News. Diakses pada 11 November 2025, dari https://www.arabnews.com/node/2622085/saudi-arabia